Diminati AHY, Dibeli Orang Jepang dan Amerika
Berawal dari kebangkrutan, Paulus Andik Dwi Cahyono tumbuh menjadi pengusaha batik sutra yang go international. Karya-karyanya dari Griya Batik Shiny Kupu Sutra dibeli kalangan pejabat hingga warga mancanegara.
AFIFAH RAHMATIKA FURZAEN
TUMPUKAN kain batik memenuhi ruang tamu sebuah rumah di Dusun Santrean, Desa Sumberejo, Kota Batu. Di rumah itulah Paulus Andik Dwi Cahyono bersama istrinya tinggal, sekaligus menjalankan bisnis konveksi.
Sebelum terjun ke bisnis konveksi, Paulus dan istrinya, Novia Sri Wulan mempunyai usaha kaus. Pelanggannya bukan hanya warga Batu. Tapi berbagai daerah di Indonesia. Mulai 2008, dia menerima pesanan seragam dalam jumlah besar dari Kalimantan.
”Tahun pertama hingga keempat masih lancar. Tetapi tahun kelima justru macet karena tak dibayar,” ujar pria yang biasa disapa Didik itu.
Meski mengalami kerugian, Didik terus mencari cara agar bisa bertahan dalam dunia konveksi. Dia pun terus belajar cara merancang desain dan menjahit baju. Sampai suatu ketika pada 2017 silam, dia membuat desain batik. ”Kebetulan pada 2019 ada pencanangan Kampung Shibori,” ucapnya. Shibori adalah teknik pewarnaan kain yang memanfaatkan ikatan dan celupan untuk menentukan motif pada kain. Teknik ini sudah populer di Jepang.
Berkat kegiatan tersebut, Didik mulai percaya bahwa peluang dan kesempatan akan terbuka lebar ketika sudah berusaha maksimal. Dalam kegiatan itu, dia bertemu anak-anak disabilitas dari komunitas Shining Tuli Kota Batu. "Waktu itu, yang ada di pikiran saya, bagaimana caranya agar anak-anak istimewa bisa berdaya melalui karya batik," kata pria 45 tahun itu.
Akhirnya, Didik memberikan pelatihan kepada anak-anak istimewa tersebut. Ada yang memiliki keterbatasan tidak bisa mendengar (tuli), buta, dan sebagainya. "Saya percaya bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang dalam menciptakan karya," tutur pengusaha kelahiran Batu, 4 Agustus 1978 itu.
Bermodal semangat dan ketulusan, dia mampu mendorong anak-anak disabilitas berdaya. Sebab, karya mereka bisa terjual dan diminati masyarakat. "Ada kebanggaan tersendiri ketika mengantarkan mereka sukses. Namun sedihnya, sebagian orang justru menganggap saya mengeksploitasi anak disabilitas," tuturnya dengan sorot mata yang berkaca-kaca.
Omongan tersebut tak membuat Didik patah semangat. Dia justru semakin termotivasi untuk berkarya. Saat itu, dia bertemu dengan seorang yang bernama Anto Arianto. Sehari-hari, Anto melakukan budi daya ulat sutra.
Mendengar cerita Anto, jiwa bisnis Didik muncul. Dia penasaran dan ingin berkolaborasi dengannya. "Waktu itu saya kepikiran membuat batik dengan bahan baku dari benang yang dibuat dari kepompong ulat sutra. Tak disangka, banyak yang menganggap unik dan diminati oleh orang luar negeri," bebernya.
Jika pembatik lain umumnya menggunakan malam atau lilin, Didik justru menggunakan malam dari sisa limbah perasan sarang lebah madu. Tujuannya agar tidak merusak tekstur kain. ”Mencanting di kain sutra kan tidak boleh asal. Makanya menggunakan malam khusus. Sebab tidak butuh terlalu panas sudah meleleh dengan sendirinya," tambahnya.
Setelah membuat batik dari kain berbahan ulat sutra, karya Didik makin diminati. Pembelinya hingga mancanegara. Suatu ketika, orang Jepang berkunjung ke pameran di depan Candi Songgoriti Kota Batu tertarik, kemudian membeli.
Awal 2023 lalu, dia juga menerima Direct Message (DM) Instagram dan pesan WhatsApp dari orang asing. ”Pas saya buka isi pesannya, ternyata orang tersebut sudah di Griya Batik Shiny Kupu Sutra, Kelurahan Songgokerto. Dia orang asal Texas, Amerika yang mau membeli batik," katanya sambil tertawa.
Kejadian tersebut masih melekat dalam ingatan Didik. Pasalnya, orang Amerika tersebut memborong satu outer, dua pashmina sutra, dan dua lembar kain motif batik Candi Songgoriti. Totalnya kurang lebih mencapai Rp 5 juta.
Bukan hanya digemari oleh wisatawan mancanegara, karya Griya Batik Shiny Kupu Sutra juga dibeli oleh pejabat publik. Di antaranya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan mantan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko. (*/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana