Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kisah Bhante Khantidharo Mahathera, Pendiri Vihara Dhammadipa Arama di Kota Batu

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Rabu, 4 Oktober 2023 | 23:00 WIB

 

 

Bhante Khantidharo Mahathera
Bhante Khantidharo Mahathera
Pernah Menimba Ilmu dan Menjadi Biksu di Myanmar

Perjalanan Djamal Bakhir menjadi biksu penuh dengan liku-liku. Awalnya merupakan seorang guru yang merangkap pegawai bank. Sering berpindah kota juga, sampai akhirnya berkesempatan menjadi pengajar di Myammar. Baru pada 1987, dia ditahbiskan menjadi Bhante Khantidharo Mahathera di Jakarta.

SYIFA DZAHABIYYAH

USIANYA sudah mencapai 92 tahun.

Jari-jari tangannya juga sudah tampak selalu bergetar.

Tapi, Bhante Khantidharo Mahathera masih terbiasa menerima tamu di rumahnya dengan duduk di kursi kayu yang diberi matras.

Tongkat bantu jalan berwarna abu-abu juga selalu berada tepat di depan kursi sebelah kirinya.

Kepada wartawan Jawa Pos Radar Malang, pria kelahiran 1931 itu menceritakan perjalanannya yang kerap berpindah kota semasa muda.

Awalnya dia menjadi guru di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama di Medan pada 1952.

Dua tahun kemudian pindah ke Solo untuk menempuh kursus B1 sampai B2.

Setelah itu pindah ke Gorontalo untuk mengajar di SMA Ekonomi Negeri Gorontalo.

Dengan semangat menempuh pendidikan tinggi, Djamal muda pergi ke Kota Malang pada 1962.

Dia mendaftar ke FKIP Universitas Airlangga yang menjadi cikal bakal Universitas Negeri Malang sekarang.

Setelah lulus dia menetap di Kota Malang dan menjadi guru di SMEA Negeri Malang.

Kebetulan jam mengajar di SMEA Negeri Malang terbilang singkat.

Yakni mulai pukul 15.00 sampai 19.00.

Itu karena sekolah tersebut tidak memiliki gedung sendiri dan harus menumpang ke SMP Negeri 3 Malang.

”Daripada saya banyak menganggur, mulai 1964 saya sambi bekerja di bank. Bagian administrasi. Dari sana saya mulai kenal agama Buddha karena membaca buku-buku sejarah dan ajaran agama Buddha milik teman,” terangnya.

Karena ketekunannya mempelajari agama Buddha, dia berkesempatan keliling ke daerah-daerah untuk memberikan bimbingan.

Salah satunya ke desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Di desa itu ada aliran agama Buddha Jawi Wisnu.

”Mereka hanya mengandalkan kepercayaan leluhur tanpa memiliki kitab. Ketika saya jabarkan tentang agama Buddha mereka tertarik,” terangnya.

Pada 1971, pria yang saat itu belum menjadi biksu itu membantu warga setempat untuk membangun wihara dari bambu.

Wihara itu diberi nama Vihara Dhammadipa Arama.

Nama awal dari wihara itu sebenarnya Weluwana yang berarti hutan bambu.

Itu karena semua bangunan wihara berasal dari bambu.

Bahkan pagar dan tanaman di kanan kirinya dari bambu.

Lima tahun menjadi pengajar di SMEA Negeri Malang, sekolah tersebut akhirnya memiliki gedung sendiri.

Djamal pun dihadapkan dengan pilihan tetap mengajar atau menjadi pegawai bank.

“Kalau kerja di bank memang uangnya banyak. Tapi uangnya hanya untuk perut sendiri. Kalau saya mengajar ilmunya akan dibagikan ke orang-orang banyak, meskipun gajinya lebih kecil,” ujarnya.

Pada 1977, Kementerian Luar Negeri membuka lowongan untuk menjadi kepala sekolah di Myanmar.

Dari 14 calon yang ada, Djamal terpilih untuk terbang ke Myanmar dan menetap di sana selama lima tahun.

”Di situlah saya mempelajari agama Buddha dengan lebih dalam lagi. Saat liburan sekolah, saya pergi ke wihara dan menjadi biksu di sana.  Saya juga berkeliling ke berbagai penjuru Myanmar untuk mempelajari  budaya dan agama Buddha,” imbuhnya.

Lalu pada 1982, Djamal balik ke Jakarta dan bekerja di Direktorat Jenderal Kementerian Pendidikan.

Menjelang usia 57 tahun, dia mulai memikirkan rencana ke depan karena mendekati pensiun.

Sempat ada pilihan untuk membangun bisnis atau bekerja pada orang lain.

Tapi dia tidak mengambil pilihan tersebut.

”Perlahan saya berbicara kepada istri dan anak soal keinginan menjadi biksu. Awalnya istri saya hanya tertegun,” terang pria asal Magelang tersebut.

Tapi, tak lama kemudian sang istri mengiyakan keputusannya.

Djamal ditahbiskan menjadi Bhante Khantidharo pada 1987 dan menetap di Jakarta sampai tahun 1992.

Selanjutnya dia pindah ke Malang dan mulai memperbaiki Vihara Dhammadipa Arama.

Enam tahun setelah keputusannya menjadi biksu, istrinya meninggal akibat sakit.

Kedatangan Khantidharo kembali ke Malang memberikan warna baru bagi Vihara Dhammadipa Arama.

Berkat pengalamannya di Myanmar, wihara tersebut mendapat bantuan untuk pembangunan pagoda pertama di Indonesia.

Bantuan tersebut datang dari Kementerian Agama Myanmar.

”Semua barang di pagoda itu berasal dari Myanmar. Bahkan arsiteknya juga diterbangkan langsung dari sana. Menjadikan pagoda di Vihara Dhammadipa Arama kental dengan budaya Myanmar,” ungkapnya.

Setelah itu, Vihara Dhammadipa Arama mulai membangun banyak gedung dan Sekolah Tinggi Agama Buddha.

Sekarang muridnya tersebar ke berbagai pelosok negeri.

”Saya tidak menyesal dengan jalan yang telah saya pilih. Hidup ini adalah cara kita bersiap-siap menghadapi kematian. Jadi, tidak berbuat jahat, berbanyak kebajikan, serta bersihkan hati dan pikiran,” pungkasnya. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Bhante Khantidharo Mahathera #vihara dhammadipa arama batu