Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perjuangan Athaya Putri Nirwasita, Pelukis Difabel yang Karyanya Jadi Brand Fashion

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Rabu, 11 Oktober 2023 | 23:00 WIB
Athaya Putri Nirwasita menunjukkan scraf bermotif lukisannya Sabtu lalu (7/10). Produknya banyak diminati kalangan menengah ke atas.
Athaya Putri Nirwasita menunjukkan scraf bermotif lukisannya Sabtu lalu (7/10). Produknya banyak diminati kalangan menengah ke atas.
Sebelas Produknya Dibeli oleh Gubernur Jatim Khofifah

Meski memiliki keterbatasan, Athaya Putri Nirwasita tumbuh menjadi pelukis andal. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga tertarik untuk membelinya.

INDAH MEI YUNITA

BELASAN lukisan terpajang di dinding ruang tamu rumah Athaya di Jalan Setaman Dalam, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang pada Sabtu lalu (7/10).

Ukurannya beragam, tapi semuanya beraliran abstrak.

Mulai dari yang terkecil berukuran 40x30 sentimeter hingga terbesar berukuran 60x40 sentimeter.

”Saya mulai melukis sejak pandemi Covid-19, sekitar dua tahun yang lalu,” kata Athaya sembari menunjuk beberapa lukisannya.

Meski baru dua tahun, tapi gadis berusia 18 tahun itu sudah menghasilkan 50 karya.

Sebagian sudah dijual, termasuk Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga tertarik untuk membeli produk-produk yang menggunakan brand lukisan Athaya.

”Bu gubernur membeli 11 produk,” timpal Isa Maisah, ibunda Athaya yang mendampingi saat diwawancarai Jawa Pos Radar Malang.

Athaya pelukis yang spesial.

Dia berkebutuhan khusus.

Semasa masih Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dokter memvonis dia mengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Penyakit gangguan mental yang kerap diderita anak-anak.

Biasanya penderitanya sulit fokus, hiperaktif, dan impulsive.

”Sejak usia play group, kemampuan motorik halusnya sudah bermasalah. Jadi saya rutin mengikutkan terapi bertahun-tahun dan latih berbagai macam keterampilan. Nah, keterampilan mana yang cocok sama dia, baru saya kembangkan," tambah Isa.

Awalnya, Athanya mengalami speech delay (terlambat berbicara).

Kemudian setelah melewati observasi panjang, muncul diagnosis ADHD.

Sehingga kemampuan intelektualnya juga terhambat.

Sebelum terlambat, Athaya rutin menjalani terapi di Kota Malang dan pengobatan di Surabaya.

Hampir setiap hari, dia mengikuti terapi di Kota Malang dan setiap satu minggu sekali pengobatan di Surabaya.

”Kalau terapi, awalnya terapi bicara dulu. Terus berlanjut ke okupasi, perilaku, hingga kognitif," imbuhnya.

Sedangkan pengobatannya mulai dari injeksi untuk mempercepat kemampuan intelektual dan obat-obatan, serta vitamin untuk menambah kapasitas memorinya.

Terapi itu rutin berjalan hingga Athaya duduk di bangku SMP.

”Saat itu, dokter sudah bilang bahwa kemampuan Athaya sudah maksimal. Tidak bisa dipaksa lagi,” lanjutnya.

Meski begitu, Isa tidak berhenti menggali bakat Athaya.

Berbagai macam les yang diinginkan Athaya selalu dituruti.

"Pernah waktu itu ingin ikut les kumon. Mungkin karena melihat kakaknya yang bisa mengerjakan dengan mudah, jadi dia ingin ikut. Tapi karena kesulitan, setelah dua hari, dia tidak mau les lagi," kata dia.

Hingga akhirnya Athaya menemukan bakatnya, yakni melukis.

Kala itu, dia sedang memperhatikan kakaknya melukis.

Athaya tertarik dan ingin mencobanya.

Namun karena dia menderita ADHD, Athaya tidak bisa melukis menggunakan kuas.

Sang ibu lantas mencoba apa saja, termasuk membeli peralatan makan seperti sendok, centong, garpu, dan piring plastik.

Peralatan tersebut lantas digunakan untuk melukis dan ada hasilnya.

”Setelah dicoba ternyata hasilnya bagus. Athaya juga senang. Kemudian besoknya jadi ingin melukis lagi," kata Isa

Seiring perkembangan waktu, karya Athaya terus bertambah.

Hampir semua karya terinspirasi masa kecilnya.

"Dokter sudah mendiagnosis Athaya memiliki short memory (memori pendek),” katanya.

Dengan kata lain, Athaya hanya bisa menyimpan memori ketika masa kecil.

Pengalaman semasa kecil itulah yang menginspirasi dia dalam membuat karya.

Misalnya karya lukis berjudul Dolphin Lucu.

Dia melukis tentang lumba-lumba karena semasa TK dia pernah menyaksikan atraksi lumba-lumba.

Pengalaman itu berkesan dan menginspirasi dia dalam melukis.

"Karya-karyanya tidak dimengerti semua orang. Sehingga harus diceritakan terlebih dahulu,” katanya.

”Biasanya, saya yang membantu Athaya menyampaikan cerita di balik lukisannya kepada orang-orang,” tambah Isa.

Selain kenangan masa kecil, Athaya juga melukis menggunakan imajinasinya.

Misalnya karyanya berjudul birds in rainforest.

Dalam imajinasinya, dia di sebuah hutan, lalu terdapat banyak burung yang bertengger di pepohonan.

Burung-burung tersebut saling berkicau di pagi hari.

Seiring berjalannya waktu, bakat siswi SMKN 2 Malang itu mulai berkembang.

Kini, karya lukisannya sudah menjadi brand fashion Athaya Art.

Mulai memasarkan kerudung, scarf, bucket hat, sepatu, hingga outer.

Prosesnya pun tidak mudah.

Isa memerlukan jasa scan dari lukisan dengan media kanvas menjadi kain.

Harga produknya pun menyesuaikan.

Mulai Rp 150 ribu untuk bucket hat hingga Rp 300 ribu untuk scarf.

Produk tersebut dipasarkan secara online melalui Instagram serta beberapa kali diikutkan dalam pameran-pameran.

Konsumennya mayoritas dari kalangan menengah atas.(*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Pelukis #difabel