7 Tahun Ditinggal Ibu, Tak Pernah Tahu Sosok Ayah
Ketika bocah seusianya asyik bermain, Meliani Arum Dewantari sibuk mengurus kakek-neneknya yang sakit. Kini, dia terpaksa putus sekolah dan hidupnya mengandalkan welas asih dari tetangga dan bantuan PKBM.
FAJAR ANDRE SETIAWAN
TATAPAN mata Meliani Arum Dewantari tampak kosong. Tangan kanannya terus mengayunkan sapu di genggamannya untuk membersihkan dedaunan yang mengotori halaman rumah.
Pagi itu, gadis yang akrab disapa Meli itu seharusnya berseragam rapi. Menenteng tas ransel dan berangkat ke sekolah. Namun hal itu tak bisa lagi ia lakukan. Persisnya sejak tahun ajaran baru 2023.
Sebelumnya, dia tercatat sebagai siswi SMPN 12 Malang. Namun kondisi kesehatan kakeknya belakangan ini kian memburuk, sehingga Meli sering alpa. Puluhan kali sang kakek keluar masuk rumah sakit. Tak ada orang lain yang bisa menungguinya di rumah sakit, kecuali Meli.
Maklum, selama ini dia tinggal bertiga di sebuah rumah dinas di Jalan Randu Jaya, Bandungrejosari, Kecamatan Sukun. Yakni Meli, kakek, dan neneknya. Kondisi sang nenek lebih memprihatinkan lagi. Beberapa tahun terakhir neneknya hanya terbaring di tempat tidur. Separo tubuhnya lumpuh akibat stroke yang dideritanya. Segala aktivitas hanya bisa dilakukan di tempat tidur. Mulai makan, minum, buang air kecil dan Buang Air Besar (BAB). Semuanya dibantu Meli.
Jadi, selama ini Meli lah yang mengurus kakek dan neneknya. Lantaran sibuk mengurus kakek-neneknya, gadis berusia 14 tahun itu tak sempat ke sekolah. Dia juga tidak terpikir untuk mengirim surat izin kepada gurunya.
Penderitaan Meli seolah paket komplet. Ibu kandungnya meninggal dunia sejak Meli berusia 7 tahun. Gadis kecil itu juga tak pernah melihat Ayah secara langsung. Konon, dari cerita sang kakek, Ayahnya hanya mendampingi kelahiran Meli hingga ia berusia dua jam. Setelah itu, Ayah Meli menghilang tak ada kabar hingga sekarang. Dia pun tak tahu apakah ayahnya masih hidup atau sudah meninggal dunia. Itulah yang membuat Meli hidup bersama kakek dan neneknya.
Kini, dia menempuh pendidikan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Ki Hadjar Dewantara. Dari lembaga itu pula dia mendapat bantuan makan malam. Sementara, untuk sarapan dan makan siang, Meli bergantung pada belas kasihan tetangga. Tetangganya bergantian memberikan makanan untuk Meli.
Makanan itu ia bagi dengan kakek dan neneknya. Meli tak bisa mengolah makanan sendiri lantaran tak punya peralatan dapur. Selain itu, dia juga tidak mempunyai uang untuk membeli kebutuhan untuk makan sehari-hari.
Selain bantuan tetangga dan PKBM Ki Hadjar Dewantara, Meli sekeluarga hanya menggantungkan uang pensiunan kakek yang tersisa Rp 240 ribu per bulan. Itu akibat utang di bank yang harus ia lunasi. Sebelum pensiun, kakek Prasetyo memiliki utang Rp 200 juta di bank.
Uang itu ia gunakan untuk menikahkan putrinya satu-satunya (Ibu Meli) dengan lelaki pilihannya. Sisanya sebagai modal usaha. Sayang, dia salah menaruh kepercayaan pada menantunya itu. Uang sebesar itu akhirnya dibawa kabur. Kini ialah yang harus menanggung cicilan setiap bulannya sebesar Rp 3,3 juta. “Jadi tiap bulan saya hanya terima uang pensiun Rp 240 ribu saja. Ya pasti tidak cukup untuk kebutuhan hidup,” ucapnya.
Seingat kakek Prasetyo, cicilannya akan berakhir pada 2025 nanti. Itu artinya, dia masih harus bertahan hidup dengan uang sebesar Rp 240 ribu selama 2 tahun lagi. Bila umurnya panjang, Prasetyo berencana kembali ke kampung halamannya di Kendal, Jawa Tengah. Namun, itu sebatas rencana. Sebab, pensiunan staf Dinas Pertanian Pemprov Jawa Timur itu ingin Meli menyelesaikan pendidikannya hingga kejar paket C. Semangat Meli untuk melanjutkan pendidikan pun tinggi. “Saya ingin kuliah di Universitas Brawijaya (UB),” ucapnya.
Meli tetap yakin bakal sukses, meski saat ini tidak bisa menikmati pendidikan formal. Sambil mengurus kakek-nenek dan kegiatan di PKBM, Meli menyempatkan menggambar anime. Biasanya hal itu dilakukan ketika ada waktu senggang. Dia punya tekad untuk mengembangkan bakatnya itu. Dan berharap bisa sukses.(*/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana