Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Semangat Yohan Fikri Mu’tashim Menjadi Dosen dan Penulis yang Bermanfaat bagi Orang Lain

Fathoni Prakarsa Nanda • Senin, 6 Mei 2024 | 19:41 WIB

 

BAKAT: Yohan Fikri Mu’tashim membacakan puisi di Panggung Satra Kota Malang tahun lalu
BAKAT: Yohan Fikri Mu’tashim membacakan puisi di Panggung Satra Kota Malang tahun lalu

Ajari Ratusan Anak Menulis Puisi tanpa Biaya

RORI DINANDA BESTARI

MASA kecil Yohan bisa dibilang jauh dari paparan gadget.

Sebab dia dididik dan dibesarkan di lingkungan pesantren.

Sehari-hari dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku.

Bukan bermain ponsel seperti anak-anak sekarang.  

Baca Juga: Prasasti Gotama, Penulis asal Malang Raih Penghargaan Mendikbud hingga Lolos Kurasi London Book Fair

Yohan lahir di Ponorogo pada 1 November 1998.

Setelah lulus SD, tepatnya pada 2011, dia mulai menimba ilmu agama di Pesantren Lirboyo, Kediri, hingga 2017.

Lazimnya tradisi kehidupan di pesantren, para santri memang tidak bebas menggunakan ponsel.

Beruntung dia menemukan pelarian yang positif.

Yaitu menulis.

Ruang gerak yang terbatas tak pernah membuat Yohan kehabisan ide.

Justru, keterbatasan itu bisa dia manfaatkan untuk menggali potensi diri.

Upaya itu menemukan hasil ketika karya-karyanya mulai dikenal di luar pesantren.

Beberapa puisi karyanya mampu menyabet penghargaan di tingkat regional bahkan internasional.

Salah satunya juara dua lomba cipta puisi tingkat Asia Tenggara pada 2020.

Tahun berikutnya, Yohan menyabet juara pertama lomba cipta puisi tingkat Asia Tenggara, mengalahkan ratusan peserta.

Pada 2022, Yohan menerbitkan buku pertamanya berjudul Tanbihat Sebuah Perjalanan.

Buku pertamanya itu telah terjual hingga ratusan eksemplar.

Sejak saat itu, nama Yohan mulai dikenal lebih luas dan sering diundang sebagai pemateri di kampus hingga di Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Nasional.

Selain mengumpulkan prestasi akademik, Yohan mengabdikan dirinya pada berbagai hal.

Seperti menjadi pembina Gerakan Siswa Menulis Buku (GSMB) tanpa memungut biaya.

Saat ini komunitas itu sudah memiliki lebih dari 100 siswa binaan.

“Jujur sebenarnya saya ingin lebih, namun kapasitas saya masih terbatas,” kata Dosen Fakultas Sastra di Universitas Negeri Malang (UM) itu.

Yohan mengaku memiliki motivasi besar untuk selalu berbagi dengan orang lain.

Salah satunya mengabdikan diri secara cuma-cuma.

Selain di GSMB, hal yang sama dia lakukan di kampus.

Misalnya dengan mengajak para mahasiswa berdiskusi tentang keterampilan menulis.

Lama kelamaan, aktivitas diskusi semacam itu mendorong Yohan untuk membentuk tempat belajar bersama.

Maka terbentuklah Ruang Alternatif Belajar Bersama.

Forum itu tidak bersifat formal.

Biasanya dilakukan dengan berkumpul di sebuah kafe bersama anak didiknya, kemudian menulis dan membedah buku bersama.

Tujuan membentuk ruang alternatif itu untuk memberikan wadah bagi anak-anak yang punya keinginan besar untuk bisa menulis.

“Sesekali saya terkesima, melihat karya anak-anak seusia mereka sudah luar biasa,” kata pria yang kini tinggal di kawasan Gadingkasri itu.

Yohan menambahkan, keinginan untuk selalu bermanfaat bagi orang lain sudah ditanamkan ayahnya dari kecil.

Kebetulan ayahnya adalah tokoh agama yang punya pesantren yang berikhtiar untuk syiar.  

Ayahnya kerap menggelar syiar dengan biaya mandiri.

“Dari situ saya belajar bahwa bermanfaat bagi orang lain tak perlu menunggu moment,” sambung lulusan S-1 dan S-2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Malang itu.

Di tengah kesibukan menjadi dosen muda, Yohan juga mengabdi di SMP Laboratorium UM sebagai pengajar Bahasa Jawa.

Sebagai orang asli Jawa, dia merasa perlu memperkenalkan budaya daerah pada generasi Z.

”Kebetulan di rumah juga saya pakai bahasa Jawa. Paling tidak saya tularkan ilmu pada anak sekarang biar tak kehilangan karakter sebagai orang Jawa,” beber bungsu dari dua bersaudara itu.

Ke depan, Yohan masih memiliki beberapa target yang sangat ingin dirinya capai.

Yang paling dekat adalah melanjutkan studi S3.

Selain itu dia ingin lebih banyak menulis dan menerbitkan buku.  

Pada saat yang sama, Yohan juga ingin terus menambah prestasi di kancah yang lebih tinggi. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Penulis #yohan #dosen