Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kisah Aipda Nanang Sugianto Dirikan Gantangan Burung Komandan BC di Pakisaji Malang, Misi Sosial Satukan Kelompok Pemuda

Fathoni Prakarsa Nanda • Kamis, 5 September 2024 | 00:30 WIB

HOBI DAN PEDULI: Aipda Nanang Sugianto biasa menghabiskan waktu di kantor Gantangan Burung Komandan BC setiap akhir pekan.
HOBI DAN PEDULI: Aipda Nanang Sugianto biasa menghabiskan waktu di kantor Gantangan Burung Komandan BC setiap akhir pekan.

Kesamaan hobi bisa menyatukan warga yang sekian lama berseteru.

Itu yang menjadi latar belakang Aipda Nanang Sugianto mendirikan gantangan burung Komandan BC di Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, awal tahun ini.

Tak sedikit warga yang merasakan manfaat ekonomi gantangan tersebut.

DI sela-sela menjalankan tugas sebagai anggota Bintara Unit Gakkum Satlantas Polres Malang, Nanang tetap menyempatkan diri menekuni hobinya.

 Yakni memelihara burung berkicau. Bahkan, pria berusia 39 tahun itu menempatkan burung murai batu kegemarannya di Pos Laka Lantas Kepanjen, tempat dia biasa bekerja.

”Saya dulu hampir menyukai semua jenis burung. Mulai dari murai batu, cucak hijau, anis merah, hingga love bird. Sekarang murai saja,” kata pria yang mulai menekuni hobi memelihara burung sejak 2009 itu.

Biasanya, polisi berusia 39 tahun tersebut menghabiskan waktu akhir pekan untuk mengurusi gantangan burung yang dia dirikan pada 3 Maret 2024 lalu di Kedungmonggo.

Arena tempat lomba burung berkicau itu dibangun di atas lahan milik rekan Nanang.

Baca Juga: Cekik Dua Wanita Sampai Tewas, Aipda RS Terancam Hukuman Berat

 Luasnya sekitar 26 x 52 meter. Setiap pekan dilaksanakan perlombaan rutin.

”Kami juga memiliki misi sosial saat mendirikan gantangan burung Komandan BC,” terang bapak dua anak itu.

Salah satunya adalah menciptakan suasana positif dan kondusif di kawasan Kedungmonggo dan sekitarnya.

Sebab, sebelumnya banyak perilaku negatif di kawasan tersebut.

Nanang mencontohkan seringnya terjadi perseteruan antar blok perkampungan.

Tak jarang perseteruan itu berlanjut dengan keributan.

 Contoh lain adalah banyaknya pemuda yang mabuk-mabukan. Bahkan berakhir dengan adu jotos.

Kondisi itu diperparah dengan banyaknya warga yang menganggur.

”Saya diminta membantu mengatasi persoalan itu,” kata pria yang berdomisili di lingkungan Kauman, Kecamatan Pakisaji tersebut.

 Perlahan Nanang melakukan pendekatan dengan warga.

Meski terpisah menjadi beberapa kubu, namun mereka memiliki kesamaan.

Yakni hobi memelihara burung berkicau. Maka, muncullah ide untuk membangun gantangan dan melibatkan warga setempat dalam pengelolaannya.

Hingga kini terdapat sekitar 25 pemuda asli Kedungmonggo yang dilibatkan mengelola area gantangan.

Baca Juga: Ungkap Penyelundupan Senjata untuk KKB hingga Tangkap Komandan TPN/OPM, Ini Profil Kapolda Papua Komjen Mathius D Fakhiri

Mereka diberi tugas sesuai dengan karakter dan kemampuan masing-masing.

Misalnya, yang memiliki badan kekar dan watak keras diminta mengelola keamanan.

Ada juga yang bertugas mengurusi tiket dan dokumentasi.

Ke depan, para pemuda itu diharapkan terus mengembangkan diri.

Misalnya memperluas wawasan tentang burung berkicau.

Termasuk menyerap ilmu dari para juri burung berkicau yang selama ini masih selalu didatangkan dari luar.

 ”Kami berharap ke depan ada warga Kedungmonggo yang bisa menjadi juri,” imbuhnya.

Nanang memastikan setiap akhir pekan selalu mengadakan lomba burung berkicau.

Akhir Agustus lalu memang sempat libur karena warga setempat masih fokus pada agenda peringatan HUT Ke-79 Kemerdekaan RI.

Dalam setiap event, peserta dikenakan tiket antara Rp 35 sampai 160 ribu, menyesuaikan dengan jenis burung dan kelasnya.

 Yang paling sering dilombakan adalah burung jenis murai batu, cucak hijau, anis merah, dan cendet.

Baca Juga: Kisah Danrem 083/Baladhika Jaya saat Jadi Komandan Pasukan PBB, Emban Misi Perdamaian di Perbatasan Israel dan Lebanon

Sedangkan kelasnya terbagi menjadi Sigma A, Athena, Bravo, Omega, dan Delta A-B. Meski tergolong baru, gantangan Komandan BC juga sudah pernah menyelenggarakan event berskala nasional Mei lalu. Yakni Komandan Cup I.

 “Pesertanya ada yang dari Jogja dan Semarang,” sebut Nanang.

Pendapatan dari gantangan tidak ada yang masuk ke Nanang maupun pemilik lahan.

 ”Semua kembali ke warga yang ikut mengelola setelah dihitung bersih. Saya dan pemilik lahan hanya menerima laporan saja, ramai atau tidak,” tandas Nanang. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#bintara #malang #gantangan burung Komandan BC #Nanang