Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Profil Dr dr Dhelya Widasmara SpDVE Subsp DT FINSDV FAADV, Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Berprestasi

Aditya Novrian • Kamis, 12 September 2024 | 23:01 WIB
Dr dr Dhelya Widasmara SpDVE Subsp DT FINSDV FAADV
Dr dr Dhelya Widasmara SpDVE Subsp DT FINSDV FAADV

Bagikan Edukasi Interaktif lewat Buku hingga Teknologi

MASALAH pada kulit masih dianggap remeh oleh masyarakat.

Misalnya saja dalam penggunaan tabir surya.

Belum semua masyarakat rutin menggunakan tabir surya.

Padahal meski di tempat tertutup, tabir surya tidak boleh absen digunakan.

Sebab, sinar UV bisa menembus kaca.

Maka dari itu, pemakaian tabir surya bisa diaplikasikan setiap hari dan dioles ulang setiap 3-4 jam sekali tanpa harus menunggu untuk keluar ruangan.

Beberapa masalah pada kulit itu hanya sebagian.

Ada pula masalah kulit yang disebabkan infeksi.

Misalnya scabies atau gudik (infeksi kulit yang disebabkan oleh tungau) dan kusta (infeksi bakteri kronis).

”Jadi sebenarnya masalah kulit beragam. Kulit juga bagian yang penting karena paling luas di tubuh kita,” kata perempuan yang akrab disapa dr Lala itu.

Dari sana, dr Lala akhirnya tertarik untuk mendalami bidang kesehatan kulit dan kelamin.

Padahal, ayahnya dr Dadang Hendrawan SpJp (K) FIHA FiCss merupakan dokter spesialis jantung.

Sementara ibunya, Prof Dr Dewi Astuti Muchtar SH MS merupakan guru besar ilmu hukum.

Infografik kontribusi  dr Lala di bidang kesehatan
Infografik kontribusi dr Lala di bidang kesehatan

Namun, dia memilih bidang yang berbeda.

Dia Lala memilih program studi spesialis kulit dan kelamin di Universitas Airlangga (Unair).

Setelah lulus, dia tetap konsisten menekuni spesialis bidang kesehatan kulit dan kelamin, terutama untuk infeksi tropis.

Tak hanya sekadar menempuh pendidikan, dr Lala juga rutin menyabet berbagai penghargaan (selengkapnya baca grafis).

”Tapi saya tidak ingin menyimpan ilmu sendiri. Karena itu, saya selalu berupaya memberi edukasi kepada masyarakat,” tegas istri dari ASN Pemkab Malang Edwin Arief Fachruddin ST MM MT itu.

Edukasi mengenai kesehatan kulit dan kelamin yang diberikan dikemas dalam bentuk yang interaktif.

Sebagai contoh, di TikTok dia mencoba menggunakan lagu yang sedang tren di masyarakat.

Kemudian, dr Lala juga mengembangkan beberapa kanal media sosial untuk edukasi.

Misalnya saja YouTube, Instagram.

Selain di media sosial, dr Lala rajin turun ke masyarakat.

Seperti ke pondok pesantren.

”Kalau di pesantren, edukasinya pun menyesuaikan dengan mereka sehingga bisa diterima,” jelas dr Lala.

Upaya dr Lala untuk memberi edukasi pun masih berlanjut.

Beberapa waktu lalu, dr Lala melakukan soft launching untuk aplikasi INSERT.

Aplikasi berbasis artificial intelligence (AI) itu bisa membantu melakukan deteksi dini untuk scabies.

dr Lala berencana memberi edukasi hingga ke luar Malang.

Terutama daerah-daerah yang belum tersentuh edukasi kesehatan kulit dan kelamin secara masif.

Salah satunya adalah Gorontalo.

Kemudian, dokter Lala juga sedang menjalin komunikasi dengan dinas pendidikan dan kebudayaan.

Tujuannya untuk memberi edukasi infeksi tropis sejak dini. (mel/adn)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Profil #berprestasi #dokter spesialis kulit dan kelamin