Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (3): Mbah Honggo Jadi Pengajar Ngaji Bupati Malang Pertama

Bayu Mulya Putra • Senin, 3 Maret 2025 | 19:20 WIB

TERAWAT: Makam Mbah Honggo di kawasan Kajoetangan Heritage ditetapkan sebagai cagar budaya sejak 2021. Mbah Honggo merupakan salah satu panglima perang pangeran Diponegoro.
TERAWAT: Makam Mbah Honggo di kawasan Kajoetangan Heritage ditetapkan sebagai cagar budaya sejak 2021. Mbah Honggo merupakan salah satu panglima perang pangeran Diponegoro.

Jejak Pangeran Onggo Koesomo atau akrab disapa Mbah Honggo tetap terawat di Kajoetangan Heritage. Sembari menghindar dari kejaran pasukan Belanda, Mbah Honggo ikut melakukan syiar Islam. Salah satunya menjadi pengajar ngaji Bupati Malang yang pertama.

NABILA AMELIA

SEJUMLAH pejuang konsisten melakukan syiar Islam di tengah perjuangannya.

Salah satu jejaknya ada di Kajoetangan Heritage.

Di sana terdapat jejak beberapa pejuang.

Salah satunya adalah Pangeran Onggo Koesomo atau Mbah Honggo.

Semasa hidup, Mbah Honggo pernah menjadi satu dari beberapa panglima perang pasukan Pangeran Diponegoro.

Dalam Surat Keterangan Wali Kota Malang Nomor 188.45/ 487/ 37.73.112/2021 tentang Penetapan Makam Mbah Honggo sebagai Situs Cagar Budaya, dijelaskan bahwa beliau pernah hijrah ke Malang setelah Perang Diponegoro.

Perang yang juga dikenal dengan sebutan De Java Ooorlog tersebut berlangsung pada tahun 1825 sampai 1830.

Pemicu terjadinya Perang Diponegoro adalah pembangunan rel kereta api yang melewati daerah Tegalrejo di Jawa Tengah.

Pembangunan itu dipersoalkan karena Pemerintah Belanda menancapkan tonggak-tonggak rel sampai melintasi makam leluhur Pangeran Diponegoro.

Ada pula persoalan lain se perti pajak yang tinggi hingga campur tangan Belanda dalam urusan Istana Yogyakarta.

Akibat akumulasi berbagai persoalan, Pangeran Diponegoro pun berang.

Bersama 100 ribuan serdadu, mereka melawan Pasukan Belanda yang dipimpin Jenderal Hendrikus Merkus de Kock.

Pada 1830, Pangeran Dipo negoro menggelar perundingan dengan Jenderal de Kock.

Diponegoro menuntut agar didirikan negara yang merdeka, bersih dari penjajahan, dan bersendikan agama Islam.

Namun, tuntutan itu tidak di setujui Belanda.

Mereka malah memberi instruksi untuk di lakukan penangkapan terhadap Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya.

Mereka pun melarikan diri.

Sebagian ada yang bergerak menuju Malang, termasuk Mbah Honggo.

Selain itu, ada Kyai Ageng Peroet yang di kebumikan di sebelah Mbah Honggo.

Selanjutnya ada Mbah Batu yang makamnya terletak di Kota Batu.

Serta Mbah Joego atau Kyai Zakaria II yang melarikan diri ke Gunung Kawi.

Selama pelarian, Mbah Honggo bersembunyi di kawasan yang sekarang men jadi Kajoetangan Heritage.

Kawasan tersebut kemungkinan dipilih karena dulunya masih berupa hutan.

Hutan itu ditumbuhi tanaman dengan bentuk daun yang menjulur seperti jari jari tangan atau disebut juga Patang tangan berdasar Prasasti Pamotoh.

Konon, orang yang bersembunyi di sekitar sana sulit ditemukan.

Selain masih berupa hutan, ada Sungai Kerangkeng.

Aliran sungai tersebut sampai ke Kali Sukun.

”Karena sungai kan sumber kehidupan, sehingga Mbah Honggo memu tuskan untuk menetap di sana,” ungkap Budi Fathony.

Budi adalah keturunan generasi ketujuh dari Bani Khoiron atau keturunan Mbah Honggo dari pihak ayah nya yang bernama Yazid.

Dari cerita yang dikumpulkan Budi, Mbah Honggo tidak hanya menghindar dari kejaran Belanda.

Dia juga turut menyebarkan Islam dengan menjadi guru mengaji dari Bupati Malang yang pertama kali menjabat pada 1819 sampai 1839, yakni Raden Tumenggung Notodiningrat I.

Terkait wafatnya Mbah Honggo, Budi belum menemukan catatan yang pasti.

Namun dengan jejak Mbah Honggo yang pernah melakukan syiar Islam, sampai sekarang pihak keluarga masih melestarikan tradisi bermuatan Islam.

Misalnya saja pengajian dan tahlilan.

Selain melestarikan tradisi, keluarga Budi juga merawat makam Mbah Honggo.

Lokasinya berada di Jalan Jenderal Basuki Rahmat Gang 4, Kelurahan Kauman, Keca matan Klojen.

Untuk menemukan lokasinya juga tidak sulit karena terdapat penanda arah menuju ke sana.

Perawatan sehari hari biasanya dibantu oleh keluarga yang tinggal di sekitar makam Mbah Honggo.

Salah satu anggota keluarga yang rutin membantu perawatan yakni Susanna.

Sejak dulu, keluarga Susanna sudah diminta merawat makam Mbah Honggo.

Tepatnya sejak Susanna yang bernama Santi masih hidup.

Santi bersama istrinya merawat makam Mbah Honggo karena diutus oleh pihak Mataram tempat mereka bernaung dulu.

Sebelum ditata seperti sekarang, area makam Mbah Honggo masih seperti benteng. Ada undak-undakan, sehingga tidak tampak dari bawah.

Selain itu, kondisi penerangan juga masih minim.

”Dulu juga pernah dijadikan tempat pengungsian pada zaman perang,” sebut nya. (*/by)

Editor : Aditya Novrian
#jejak penyebaran ajaran Islam #mbah honggo #Penyebaran Islam #malang