Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bantu Orang Tua, Andalkan Beasiswa sejak Lulus SMP

Bayu Mulya Putra • Senin, 5 Mei 2025 | 17:31 WIB
CERDAS: Sholahuddin Al Fatih berfoto di salah satu sudut di Tashkent State University of Law (TSUL), beberapa waktu lalu.
CERDAS: Sholahuddin Al Fatih berfoto di salah satu sudut di Tashkent State University of Law (TSUL), beberapa waktu lalu.

CUACA di Uzbekistan cukup bersahabat pada bulan Februari lalu.

Suhu di luar ruangan saat itu berkisar 10 derajat Celsius.

Tidak ada salju yang biasanya menyelimuti Tashkent State University of Law (TSUL).

Itu adalah salah satu kampus tertua di Uzbekistan.

Dibangun sejak 1918.

Di auditorium kampus tersebut, setiap hari mulai 17 sampai 25 Februari, Fatih memberikan kuliah tamu kepada mahasiswa-mahasiswa TSUL.

Beragam pertanyaan ditanyakan ke dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.

Yang terbanyak seputar kondisi politik dan hukum saat ini.

”Ada yang bertanya apakah ada rencana presiden di Indonesia melanggengkan kekuasaan. Sebagai akademisi saya jawab sesuai kondisi saja. Saya jawab ada indikasi dari presiden sebelumnya, tetapi tidak terbukti,” terang pria berusia 32 tahun itu.

 Fatih menemukan sedikit perbedaan mahasiswa di Uzbekistan dengan Indonesia.

Mahasiswa di sana tidak membawa tas ransel seperti mahasiswa Indonesian pada umumnya.

Mereka hanya menggunakan satu tablet kecil ketika mengikuti perkuliahan.

”Ketika dosen menerangkan, mereka fokus memperhatikan, tidak asik menulis. Rupanya mereka itu kebiasaannya mengingat dulu, kemudian baru dicatat poin-poin pentingnya,” beber Fatih.

Yang membuat berbeda lagi yakni teknologi yang ada di TSUL.

Semua kelas telah menggunakan LED.

”Kalau di Indonesia seperti contoh di UMM masih ada yang menggunakan spidol. Ternyata pendidikan di Uzbekistan lebih maju dalam segi teknologi,” imbuh bapak tiga anak itu.

Selama lebih dari sepekan mengajar di sana, Fatih belajar banyak tentang negara Asia Tengah itu.

Seperti orang-orang Eropa, masyarakat di sana lebih suka jalan kaki dibanding naik kendaraan.

Suasana di negara tersebut lebih seperti Rusia daripada Asia.

Sebab, mereka merupakan salah satu bekas negara Uni Soviet. Mengajar di sana hanya sekian dari pengalamannya.

Mundur ke Oktober 2024, sebelum di Uzbekistan, Fatih menjadi dosen tamu di Universidade do Minho, Braga, Portugal.

Kemudian pada bulan Desember 2024, dia menjadi pembicara di Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA) di Terengganu, Malaysia.

”Saya bisa menjadi dosen tamu di beberapa negara berkat jaringan yang dibangun saat mengikuti program di Estonia pada 2023. Di sana saya peringkat dua. Akhirnya banyak kenal dosen luar negeri, hingga diundang menjadi dosen di Malaysia dan Uzbekistan,” jelas dosen Ilmu Hukum itu.

Program yang diikutinya yakni diskusi dosen internasional bertema demokrasi di Estonia.

Pesertanya ada 30 orang.

Berasal dari perwakilan beberapa negara seluruh dunia.

Program itu digelar Non-Governmental Organization (NGO) Citizen OS.

NGO itu memang berbasis di Estonia. Namun juga punya cabang di Indonesia.

Dari program itu lah Fatih sering mendapat undangan untuk menjadi dosen tamu.

Terbaru, Fatih mendapat tawaran anyar dari UniSZA.

Yaitu ikut program penelitian bersama dengan kampus tersebut.

Dia akan dibiayai sepenuhnya oleh kampus Malaysia untuk melakukan penelitian.

”Saya tidak menyangka sampai bisa keliling beberapa negara,” ucap dia dengan nada lirih.

Latar belakangnya memang tidak berasal dari keluarga yang berada.

Orang tuanya yang bekerja sebagai petani hanya bisa menyekolahkannya hingga jenjang SMP. Pendidikan selanjutnya bersumber dari beasiswa.

”Saya mulai ke Malang itu untuk sekolah di MAN 2. Jadi beasiswa dan dibiayai paman saya,” ujar pria yang sekarang berdomisili di Kelurahan Tasikmadu itu.

Di MAN 2 Kota Malang, prestasi Fatih cukup bagus.

Namun tidak disangka, dia tidak lulus ujian nasional.

Nilai matematikanya di angka 3.

”Saat mata pelajaran Matematika itu saya ketiduran di kelas, mengerjakannya akhirnya ngawur. Karena sebelumnya belajar sampai pagi, akhirnya tidak lulus karena mendapat nilai 3,” ungkap Fatih dengan tertawa kecil.

Dari kejadian itu, dia tahu bahwa setinggi apa pun ilmu tetap tidak boleh sombong.

Sebab kemalangan atau apes tidak mengenal waktu.

Untungnya ada ujian susulan, sehingga dia tidak perlu mengikuti ujian kejar paket.

Lulus dari sekolah menengah atas, Fatih kembali mencoba peruntungan mendapat beasiswa.

Tidak hanya sarjana, dia juga mendapat beasiswa magister.

”S1 saya di UB, kalau S2 nya di Unair semua menggunakan beasiswa. Hanya S3 yang tidak menggunakan beasiswa,” kata pria kelahiran Gresik itu.

Hidup Fatih berubah sejak menjadi dosen di UMM.

Dulu, dia sering jadi bahan olokan karena ekonomi yang pas-pasan.

”Tetangga desa juga bully saya, buat apa ke kota, mau jual apa untuk kuliah. Akhirnya sekarang saya membuktikan, tidak ada yang tidak mungkin selagi kita berusaha maksimal," papar dia. (*/by)

Editor : Aditya Novrian
#dosen UMM #Pengajar #beasiswa #Uzbekistan #Sosok inspiratif #portugal #prestasi #malang