Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dongeng dan Mainan Tradisional, Cara Yudi Agus Priyanto Sembuhkan Luka Anak-Anak

Aditya Novrian • Kamis, 9 Oktober 2025 | 16:44 WIB
TOTALITAS: Yudi Agus Priyanto menunjukkan peralatan mendongeng seperti mainan tradisional dan boneka monyet di Sanggar Kepompong kemarin.
TOTALITAS: Yudi Agus Priyanto menunjukkan peralatan mendongeng seperti mainan tradisional dan boneka monyet di Sanggar Kepompong kemarin.

Boneka Orang Utan Selalu Jadi Teman Setia.

Dari tangan Yudi Agus Priyanto, dongeng bukan sekadar hiburan, tapi menjadi penghibur luka. Dia telah menjelajahi banyak daerah bencana membawa satu misi. Membuat anak-anak tertawa lagi.

 

DERETAN permainan tradisional tersusun rapi di atas meja panjang kayu jati. Ada congklak dari batok kelapa, egrang kecil, gasing yang masih mengilap, hingga gamelan mini yang berdering pelan ketika disentuh.

Di tengah ruangan sederhana itu, Yudi Agus Priyanto bersiap membuka sesi mendongengnya. Menyalakan kembali tawa anak-anak yang mulai melupakan permainan masa lalu.

Sanggar Kepompong di Desa Talangsuko, Kecamatan Turen, menjadi saksi bagaimana Yudi menyalurkan semangatnya menjaga keceriaan anak-anak. Pendiri Sanggar Kepompong itu bukan sekadar pendongeng, melainkan seseorang yang percaya bahwa kebahagiaan adalah hak setiap anak bahkan di tengah bencana.

Kecintaannya pada dunia dongeng bermula dari keprihatinan. Pada 2010, ketika Gunung Merapi meletus, Yudi yang kala itu masih bertugas di Palang Merah Indonesia (PMI) melihat anak-anak yang telantar di pengungsian. Orang tua mereka sibuk mengurus kebutuhan dasar, sementara anak-anak kehilangan ruang bermain dan tawa.

”Saat itu, saya mengumpulkan teman-teman saya yang bisa mendongeng untuk anak-anak. Setidaknya penderitaan mereka bisa teralihkan,” kenangnya.

Dari situlah perjalanan panjang Yudi dimulai. Sepuluh tahun mengabdi di PMI membuatnya memahami betapa pentingnya perhatian psikologis bagi korban bencana, terutama anak-anak. Namun, setelah mengakhiri masa tugasnya pada 2014, ia tak bisa benar-benar meninggalkan dunia kemanusiaan.

Empat tahun kemudian, gempa besar mengguncang Palu. Rekan-rekan relawannya mengajaknya kembali turun tangan. Meski sudah bukan bagian dari PMI, Yudi tetap berangkat. ”Kami ke Palu dengan biaya sendiri. Tapi di sana, melihat anak-anak bisa tertawa lagi, semua rasa lelah hilang,” ujarnya dengan tersenyum.

Dari pengalaman itulah, semangat mendongengnya semakin tumbuh. Pada 2020, Yudi mendirikan Sanggar Dongeng Kepompong Nusantara di Jakarta. Awalnya, kegiatan sanggar ini berfokus di wilayah Jabodetabek. Namun, ketika bencana melanda daerah lain, Yudi dan rekan-rekannya tak ragu datang untuk menghibur anak-anak.

Saat Gunung Semeru meletus pada akhir 2021, mereka kembali turun membawa cerita, boneka, dan permainan sederhana. Tiga tahun berselang, Yudi memutuskan kembali ke kampung halamannya di Kabupaten Malang.

Di sana, ia menemukan kenyataan bahwa komunitas pendongeng masih jarang. Melalui komunikasi dengan rekan-rekan lamanya di PMI, muncul gagasan untuk membuka cabang sanggar di Malang. Maka pada 2024, berdirilah Sanggar Kepompong di Desa Talangsuko, tempat di mana tawa anak-anak kini kembali terdengar setiap pekan.

Kegiatan di sanggar tak hanya mendongeng. Yudi juga mengajak anak-anak mengenal permainan tradisional yang mulai dilupakan. Menurutnya, permainan seperti congklak, egrang, dan bekel menyimpan nilai-nilai sosial yang penting.

”Dari congklak, anak belajar sabar menunggu giliran. Dari egrang, anak belajar keseimbangan dan pantang menyerah,” jelasnya.

Dalam setiap dongeng, Yudi selalu menyisipkan pesan moral. Cerita-ceritanya tak sekadar fabel klasik seperti si kancil, tapi juga kisah nyata tentang keteguhan hati. Seperti Azzam, anak tanpa kelopak mata asal Mojokerto yang menjadi penghafal Alquran. Ia percaya, dongeng bisa menjadi jembatan antara imajinasi dan pembentukan karakter.

Ketika mendongeng di lokasi bencana, Yudi kerap membawa boneka orang utan. Tokoh itu sengaja dipilih karena bisa lebih bebas berinteraksi dengan anak-anak.

”Kalau anak-anak sudah mulai murung, saya buat orang utannya jahil. Kadang pura-pura menggigit, atau minta mainan. Mereka langsung tertawa,” tuturnya.

Bagi Yudi, tawa itu adalah bentuk penyembuhan. Tahun ini, langkah Yudi mendapat dukungan besar. Awal 2025, sanggarnya menerima hibah sekitar Rp 300 juta dari Kementerian Kebudayaan melalui program Dana Indonesiana. Dana itu digunakan untuk sosialisasi ke 50 sekolah di Kabupaten Malang.

Dia akan memperkenalkan dongeng sebagai metode pembelajaran dan pelatihan bagi guru, mahasiswa, hingga anak-anak. ”Kalau masih ada sisa, insya Allah kami tambah lima sekolah lagi,” ujarnya.

Kiprah Sanggar Kepompong semakin dikenal setelah menggelar lomba permainan tradisional dalam peringatan Hari Literasi Internasional di Sumber Sira bulan lalu. Anak-anak tampak riang mengikuti lomba egrang, engklek, tarik tambang, hingga dakonan. Suara tawa mereka menjadi bukti bahwa kebahagiaan bisa tumbuh dari hal-hal sederhana seperti cerita, permainan, dan kepedulian.

Di bawah atap sederhana sanggar, Yudi kembali menata mainan di atas meja kayu. Ia tahu, mungkin tak semua anak akan menjadi pendongeng, tapi setidaknya mereka akan mengingat hari-hari penuh tawa di Sanggar Kepompong. Tempat di mana imajinasi dan masa kecil kembali hidup. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#PMI #dongeng anak #malang #Sanggar #Kabupaten