Jelajahi 80 Spot Penyelaman Terbaik di Tanah Air
PADA 1979, buku masih menjadi barang mewah bagi Ugi Agustono Scott.Sebab saat itu kondisi perekonomian keluarga sedang tidak baik-baik saja.Terutama sejak ayah Ugi yang bernama Kasiani meninggal dunia.
Untuk memenuhi kebutuhan Ugi beserta saudara-saudaranya, sang ibu harus bekerja sebagai penjual nasi pecel. Dengan kondisi ekonomi serba terbatas, Ugi dan saudara-saudaranya harus bekerja keras agar bisa menempuh pendidikan yang layak.
Untuk bisa mengakses buku, perempuan kelahiran Blitar itu harus menyisihkan seluruh uang saku selama sepekan yang nilainya Rp 5.
”Uang saku yang diberikan tidak digunakan membeli baju atau sepatu, tapi untuk menyewa buku,” kenang Ugi. Satu buku disewa dengan harga Rp 1. Artinya, dalam sepekan Ugi bisa membaca lima buku. Buku yang dibacanya beragam. Mulai buku yang memuat soal Indonesia, Afrika, Eropa, dan ilmu pengetahuan lainnya.
Dari sana, pemikiran Ugi semakin terbuka lebar. Dia jadi tahu bahwa Indonesia kaya akan berbagai sumber daya alam. Salah satunya perairan.Sejak saat itu, timbul keinginan untuk menjelajahi 80 titik penyelaman terbaik di Sabang sampai Merauke.Keinginannya berkeliling Indonesia juga dipengaruhi rasa cinta tanah air yang selalu ditanamkan Kasiani kepada Ugi.
Namun perjalanan untuk bisa menjelajahi puluhan titik penyelaman tidak berjalan mudah. Sejak duduk di bangku kuliah, perempuan berusia 58 tahun itu harus mengumpulkan dana sendiri. Seperti dengan membuat catatan berbayar, bekerja sebagai guru les, dan mengikuti seleksi hingga mendapat beasiswa.
Sebelum tahun 2000, Ugi pernah mendapat beasiswa untuk berkuliah selama 4 tahun dari Standar Chartered Bank.Dia mengambil jurusan Bahasa Jepang di Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya. Tidak berhenti sampai di sana, Ugi juga berkesempatan belajar Bahasa Jepang di Jepang selama 4 bulan dan bekerja di perbankan selama 4 tahun.
Meski demikian, mimpi untuk menjelajahi perairan Indonesia tidak hilang.Setelah bekerja sebagai pegawai bank, Ugi memutuskan berhenti pada 1996 dan belajar menulis. Guru menulis Ugi bukan sosok sembarangan.
Dia berguru langsung kepada almarhum Yapi Panda Abdiel Tambayong atau yang dikenal dengan nama pena Remy Sylado. Pertemuan keduanya tidak dilakukan melalui forum sastra.Melainkan Ugi sendiri yang mengajukan diri untuk bertemu Remy secara personal.
Selain Remy, Ugi juga belajar kepada penulis sekaligus wartawan Arswendo Atmowiloto. Dari dua sosok itu, Ugi belajar menulis selama dua tahun.Dia diminta belajar dengan cara membaca buku rutin.Selama sepekan, Ugi harus menyelesaikan dua buku yang masing-masing berisi 300 halaman.
”Saya diminta mengambil intisari dari buku. Lalu menuliskannya,” cerita dia. Setelah berguru kepada Remy dan Arswendo, Ugi sempat berkeliling ke banyak tempat. Baru pada 2020, dia kembali lagi ke Indonesia dan bekerja di Papua selama hampir satu tahun.
Selanjutnya Ugi berangkat untuk bekerja ke Eropa. Di Eropa, dia menjajal berbagai pekerjaan seperti caregiver atau merawat orang sakit hingga bekerja di toko untuk mengumpulkan modal menjelajahi 80 titik penyelaman. ”Sambil bekerja, saya menyempatkan untuk rutin menulis,” jelasnya.
Di tengah kesibukannya bekerja, Ugi sempat mengalami pelecehan seksual.Pelecehan seksual itu membuat kondisi mentalnya terganggu.Namun, Ugi berupaya pulih dengan cara menulis sampai emosinya benar-benar membaik.Pelecehan seksual yang dirasakannya juga dituangkan ke dalam buku karyanya yang berjudul Gendhis Kembang Wangi.
Buku karyanya itu terbit Januari 2024.Karena buku Gendhis Kembang Wangi, Ugi berkesempatan untuk berbicara tentang perempuan di beberapa forum internasional.Setelah merasa cukup modal, Ugi akhirnya memulai penyelaman pada Oktober 2024.Dia melakukan penyelaman bersama suaminya yang bernama Erik Scott.
Penyelaman pertama dilakukan di Raja Ampat. Lalu berlanjut ke perairan lain seperti Misool, Wakatobi, Bunaken, Komodo, Alor, Bali, Halmahera, dan terakhir di Sabang. Rangkaian penyelaman itu rampung pada 2025.
Selama enam bulan menyelam, Ugi berkesempatan mendapat sponsor dari perusahaan internasional.
Salah satunya sponsor berupa peralatan untuk mengambil foto maupun video. Sponsor yang didapat merupakan buah perjuangan Ugi dalam mempromosikan foto dan video perairan yang dibuatnya.
Ugi pun bersyukur bisa mendapat sponsor.Apalagi, dalam satu kali menyelam, butuh biaya yang besar. Jika diestimasikan, satu kali menyelam bersama suaminya dibutuhkan biaya berkisar Rp 100 juta.Itu untuk peralatan hingga akomodasi selama menginap di daerah-daerah yang disinggahi.
Selama menjalani aktivitas menyelam, dia juga pernah mendapat pengalaman kurang menyenangkan. Misalnya saja saat Ugi mengalami insiden di kedalaman 20 meter di perairan Wakatobi. Dia sempat salah mengartikan instruksi dari dive master atau pendamping saat menyelam.
Akibatnya, masker diving yang digunakan Ugi copot. Dia sampai harus dibawa ke atas air dan mendapat pernapasan buatan. Insiden serupa juga pernah dialami saat dia menyelam di perairan Sabang.
Kendati demikian, semuanya terbayar karena Ugi merasa bangga bisa mempromosikan Indonesia melalui karyanya di forum-forum internasional. Di samping video penyelaman, Ugi juga mempromosikan film edukasi pendek yang terinspirasi dari Komodo di Indonesia. Film itu berjudul Nataga The Little Dragon.
Upaya mempromosikan Indonesia tak hanya dilakukan Ugi di luar negeri.Di Indonesia, Ugi juga singgah ke beberapa daerah, termasuk Kota Malang.Kota Malang dan daerah-daerah di Jawa Timur menjadi sasaran Ugi dalam membagikan pengalamannya karena dia ingin literasi tidak hanya berkembang di daerah besar seperti Jakarta.
Di Kota Malang, Ugi bersama suaminya datang ke beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, hingga Universitas Katolik Widya Karya. Rutinitas itu sudah berlangsung sejak 18 Oktober lalu.
Di beberapa perguruan tinggi itu, Ugi mengajak para mahasiswa untuk menulis melalui lomba.Hasil tulisan para pemenang juga diunggah di platform Boomtale.com.Platform itu baru dibuat Ugi dalam empat bulan terakhir.Tujuannya untuk mewadahi para mahasiswa yang gemar menulis sekaligus mendorong mahasiswa dalam literasi.
”Saya ingin ini bisa membangkitkan literasi generasi Z. Sebab tulisan mereka sebenarnya bisa menjadi tiket atau paspor untuk berkeliling dunia. Namun tentu harus diiringi dengan kerja keras,” papar dia. Karya yang diunggah di Boomtale.com juga tidak hanya menjadi pajangan. Karya itu bisa dibeli dengan harga antara Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu. (*/by)
Editor : A. Nugroho