Butuh Dua Tahun Temukan Formula Terampuh
PAGI itu, cahaya matahari baru saja merayap dari balik jendela ketika Hermawan Widyananda mulai menyalakan komputer dan membuka catatan risetnya. Rutinitas itu ia ulang setiap hari selama dua tahun terakhir.
Dari pukul 05.00 hingga menjelang malam, ritme hidupnya hampir seluruhnya tersedot pada satu tujuan. Menemukan formula obat herbal untuk melawan kanker payudara. Perjalanan yang dimulai itu perlahan membentuk pola hidup tersendiri, sunyi, disiplin, dan penuh percobaan yang tak jarang berakhir buntu.
Motivasinya sederhana namun mendesak. Kanker payudara adalah jenis kanker dengan kasus terbanyak di Indonesia. Di berbagai data kesehatan, namanya terus berada di posisi teratas sebagai salah satu penyebab kematian perempuan.
Hermawan melihat celah di sana. Kebutuhan akan obat berbahan herbal yang tidak hanya terjangkau, tetapi juga minim efek samping. Celah kecil itu yang kemudian ia jadikan pijakan untuk melangkah jauh, bahkan jauh melebihi batas waktu normal pendidikan S2 dan S3 yang ia jalani di Universitas Brawijaya.
Risetnya dimulai pada 13 Februari 2023. Saat itu ia masih mahasiswa magister yang baru masuk ke dunia penelitian serius. Namun fokusnya kemudian membawanya menyelesaikan jenjang S2 dan S3 dalam waktu kurang dari empat tahun. Tepat pada Maret 2025, ia menuntaskan seluruh proses akademik dengan nilai sempurna.
”Alhamdulillah saya juga mendapatkan IPK 4," ujarnya. Tidak ada nada berlebihan. Hanya ekspresi lega yang tampak lebih dominan dibanding bangga.
Namun pencapaiannya tak berhenti di ruang kampus. Peneliti muda itu juga mendapat undangan Presiden Prabowo Subianto untuk menghadiri Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2025 di Bandung.
Masuk sebagai salah satu dari 1.000 peneliti terkemuka, ia membawa serta temuan yang mengisi hari-harinya tanpa jeda. Sebab dalam prosesnya, libur akhir pekan hanyalah istilah. Waktu yang biasanya dipakai orang untuk bertemu keluarga atau sekadar beristirahat.
Bagi Hermawan berubah menjadi kesempatan mengecek kembali dosis, mengulang ekstraksi, atau membandingkan hasil uji sebelumnya.
Dari berbagai percobaan, ia akhirnya mengerucut pada tiga tanaman yang menjadi inti formulanya. Temu kunci, temu giring, dan patikan kebo. Tiga nama yang mungkin tak begitu akrab bagi masyarakat, kecuali bagi mereka yang terbiasa mengolah rimpang atau mengenal tanaman liar sebagai bagian dari pengobatan tradisional.
Temu kunci dan temu giring berada dalam famili yang sama dengan jahe. Aroma khas rimpangnya langsung tercium begitu kulit luarnya dibelah. Patikan kebo berbeda dari keduanya. Tumbuh liar dengan daun-daun kecil yang mampu hidup di banyak kondisi tanah.
Proses pembuatannya dilakukan dengan metode yang sama tekunnya. Rimpang dan daun dikeringkan terlebih dahulu, kemudian diblender hingga menjadi bahan dasar untuk ekstraksi. Dari ekstraksi inilah ia berkelana dengan formula.
Setiap hari ia menyesuaikan dosis, mencatat perubahan kecil, lalu mengulang. Dari total riset yang memakan waktu dua setengah tahun, lebih dari setahun dihabiskan khusus untuk mencari komposisi yang tepat. ”Meramu formula paling memakan waktu,” katanya.
Hasil temuannya tidak hanya berdiri di atas klaim pribadi. Dua tahap uji laboratorium menjadi pagar ilmiah yang menguatkan formulanya. Uji pertama dilakukan melalui sistem komputer yang mencocokkan senyawa tanaman dengan basis data yang sudah ada.
Hasilnya menunjukkan kecocokan yang signifikan. Senyawa dari tiga tanaman itu berpotensi mematikan sel kanker. Uji kedua dilakukan langsung di laboratorium menggunakan sel kanker payudara hidup. Formulasi herbal itu kembali menunjukkan hasil yang sama. Kemampuannya membunuh sel kanker terbukti.
Dengan dua hasil tersebut, Hermawan mulai menatap tahap berikutnya. Tahun depan ia berencana membuat prototipe agar formulanya bisa berkembang menjadi Obat Herbal Terstandardisasi atau OHT. Ia ingin ramuan itu memiliki standar ilmiah yang sama seperti produk-produk herbal yang sudah beredar di pasaran.
Selain itu, ia juga mempertimbangkan untuk mematenkan temuan tersebut atau menjadikannya jurnal ilmiah. Pilihan itu masih terbuka, namun arah utamanya tetap sama. Membawa riset ini menuju bentuk yang bisa digunakan masyarakat luas. Di usia 27 tahun, ia masih memiliki waktu panjang untuk melanjutkan langkahnya. (*/adn)
Editor : A. Nugroho