Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dwi Prasetyo Yulianto Jadi Creative Production Kris Dayanti dan Raul Lemos

Aditya Novrian • Kamis, 18 Desember 2025 | 18:15 WIB
EKSKLUSIF: Dwi Prasetyo Yulianto (kanan) bersama Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta. Foto kanan, Dwi Prasetyo Yulianto ikut merayakan ulang tahun ke-50 Kris Dayanti beberapa waktu lalu.
EKSKLUSIF: Dwi Prasetyo Yulianto (kanan) bersama Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta. Foto kanan, Dwi Prasetyo Yulianto ikut merayakan ulang tahun ke-50 Kris Dayanti beberapa waktu lalu.

Bisa Bertatap Muka Langsung dengan Presiden Timor Leste

 

LANGKAH Dwi Prasetyo Yulianto nyaris tak pernah berhenti. Dari satu ruangan ke ruangan lain, dari satu kota ke kota berikutnya, kamera selalu ada di tangannya. Hidupnya kini bergerak mengikuti jadwal dua nama besar. Kris Dayanti dan Raul Lemos. Sebuah ritme yang padat, cepat, dan menuntut kesiapan mental setiap saat.

Pria yang akrab disapa Pras itu bukan sekadar pekerja yang datang pagi lalu pulang sore. Ia tinggal di rumah Kris Dayanti di Jakarta, menempati kamar sendiri, dan menjadi bagian dari keseharian keluarga itu.

Hubungan kerja yang dijalaninya sejak akhir 2024 perlahan tumbuh menjadi relasi yang lebih personal. Tidak ada jarak yang kaku, tidak pula sekadar instruksi satu arah. Yang terasa justru kepercayaan.

Semua bermula setelah ia menyelesaikan studinya di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Juni 2024. Wisuda tak serta-merta menghadirkan kepastian. Tiga bulan berlalu tanpa pekerjaan tetap.

Hari-harinya diisi dengan menunggu dan mencoba, sambil menimbang ke mana langkah akan diarahkan. Hingga pada September, sebuah tawaran datang bergabung sebagai tim media Kris Dayanti.

Saat itu, Kris Dayanti sedang berada dalam Pemilihan Legislatif (Pileg). Pras menjadi bagian dari delapan orang yang bertugas mengabadikan aktivitas kampanye. Ia belajar bekerja cepat, berpacu dengan waktu, dan menghadapi dinamika dunia politik yang keras. Kamera menjadi alat utama, tapi kepekaan membaca momen justru menjadi pelajaran terpenting.

Pileg berakhir, hasilnya tak berpihak. Kris Dayanti gagal kembali duduk di kursi DPR RI. Namun justru di titik itu, pintu lain terbuka. Seluruh tim media ditawari untuk tetap melanjutkan kerja sebagai creative production dalam kegiatan sehari-hari. Dari delapan orang, hanya Pras yang bersedia.

Keputusan itu diambil tanpa banyak pertimbangan. Bagi Pras, berpindah ke Jakarta bukan masalah besar. Ia sudah terbiasa merantau. Ia mengemas barang dan menetap di rumah Kris Dayanti.

”Sebulan pertama, fokus lebih banyak mendampingi bapak (Raul Lemos) ke Timor Leste,” kenang Pras. Dari proyek pembangunan jalan hingga jembatan, Pras mengikuti setiap kunjungan lapangan. Di bawah terik matahari dan medan yang tak selalu ramah, ia merekam aktivitas bisnis Raul sekaligus belajar memahami ritme kerja seorang kontraktor.

Setelah satu bulan, porsi kerja mulai terbagi. Kesibukan Kris Dayanti tak kalah padat. Jadwal manggung hampir setiap hari, pertemuan dengan kolega, hingga aktivitas personal yang tetap harus terdokumentasi.

Tak jarang, Pras melewati satu minggu penuh tanpa libur. Tubuh lelah, mata kurang tidur, menjadi bagian dari keseharian. Namun Pras tak menganggapnya sebagai beban. Ia justru merasa sedang berada di fase belajar paling penting.

”Setiap agenda adalah kelas, setiap perjalanan adalah pelajaran. Keduanya pun tak pelit ilmu,” terang dia. Pras difasilitasi mengikuti kursus drone dan didorong untuk terus mengasah kemampuan videografi. Ia belajar tidak hanya merekam gambar, tetapi juga menyusun cerita.

Di antara banyak pengalaman, satu momen terasa paling istimewa. Pertemuan dengan Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta. Bukan dalam acara resmi kenegaraan, melainkan di rumah pribadi sang presiden. Suasananya santai, tanpa protokol berlapis. Raul Lemos dan Ramos Horta berbincang layaknya dua sahabat lama.

Pertemuan dengan orang nomor satu di Timor Leste itu bukan satu-satunya. Dalam setahun, Pras tercatat empat kali bertemu Jose Ramos Horta. Tiga di antaranya dalam agenda formal. Ia juga mendampingi Raul Lemos bertemu sejumlah menteri. Bagi pemuda berusia 23 tahun, pengalaman ini terasa seperti lompatan besar dalam hidup.

Kini, Pras terlibat dalam proyek promosi pariwisata Timor Leste. Melalui video, potensi wisata negeri itu diperkenalkan ke publik. Patung Cristo Rei di Dili dan kawasan pegunungan Rabilau di Ainaru menjadi pembuka. Ke depan, masih banyak destinasi lain yang akan diangkat. Proyek ini lahir dari keinginan Raul Lemos memajukan tanah kelahirannya.

Di balik semua itu, ada sisi lain yang harus dijalani. Minimnya waktu istirahat dan tekanan kerja menjadi tantangan tersendiri. Pras juga belajar mengelola emosi. Dalam dunia bisnis, tak semua agenda berjalan mulus.

”Ada kalanya suasana hati bapak berubah karena persoalan pekerjaan, saya dituntut memahami kondisi, tanpa larut dalam perasaan,” terang dia. Baginya, semua ini adalah investasi masa depan. Ia bercita-cita menjadi produser film.

Jalan ke sana masih panjang, namun pengalaman mendampingi dua figur publik lintas negara telah membentuk mental dan keterampilannya. Dari balik kamera, Pras bukan hanya merekam kehidupan orang lain, tetapi juga sedang membangun kisah hidupnya sendiri. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#UMM #malang #raul lemos #Pileg