Persembahkan Dua Medali meski Bertarung dengan Tangan Terpasang Pen
AURA kebahagiaan masih terpancar di wajah David Rinekso Pribadi kemarin. Atlet 24 tahun asal Bululawang, Kabupaten Malang itu berhasil mengharumkan nama Indonesia di Asia Tenggara. David dan tim berhasil membawa pulang dua medali di ajang Sea Games 2025 di Thailand, 18 Desember lalu.
Sebelum dipercaya mewakili Indonesia, David sudah menjalani serangkaian seleksi. Dia berhasil lolos seleksi, sehingga diberangkatkan bersama 11 atlet kabaddi putra lainnya. Namun kendala muncul saat Pelatnas berlangsung.
Mereka harus berlatih dengan biaya mandiri. Tentu merogoh kocek yang tidak sedikit. Namunbeban sedikit berkurang karena PP FOKSI (Pengurus Pusat Federasi Olahraga Kabaddi Seluruh Indonesia) memberi kemudahan kepada atletnya dengan menyediakan venue latihan ideal dan mess untuk menginap.
David menyadari kondisi tersebut wajar. Maklum, kabaddi merupakan cabang olahraga (cabor) baru di ajang Sea Games. Oleh karena itu, anggaran yang diberikan kepada mereka tidak sebanyak cabor lain.
Di ajang tersebut, David terpaksa berkompetisi dengan kondisi tangan kirinya terpasang pen. Itu imbas tangan patah saat bertanding di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024 lalu.
Meski dengan keterbatasan tersebut, atlet kelahiran 16 Desember 2001 itu tidak menyerah. Justru dia mampu mengalahkan lawan-lawannya. David tampil di nomor Standard Style dan Three Star. Dia dipercaya sebagai right cornerkarena memiliki kekuatan menyerang dan bertahan.
Kala itu, dia bersaing dengan atlet mancanegara. “Karena terhitung sebagai cabor baru, jadi hanya ada enam negara yang terlibat,” kata dia. Di antaranya Indonesia, Thailand, Myanmar, Timor Leste, Malaysia dan Singapura.
Permainan tersebut berformat round robin dan pemenang medali akan ditentukan di tiga peringkat teratas.Di nomor standard, langkah tim Indonesia berjalan mulus. Mereka meraih kemenangan dengan jarak poin lima sampai enam. Namun di partai pemuncak mereka takluk dari tim tuan rumah dengan selisih enam poin.
Itu karena tim David hanya 12 atlet, sementara kontingen lain rata-rata 15 atlet. Ditambah lagi, salah satu menjalani perawatan karena alami cedera. David yang saat itu didapuk sebagai kapten di nomor Three Star harus memutar otak agar timnya bisa tetap meraih hasil terbaik.
Sekaligus memikirkan stamina mereka di laga-laga berikutnya.“Dalam pikiran saya saat itu tim harus selamat. Mereka harus bisa tampil fit di pertandingan berikutnya baru kami bisa memikirkan pertandingan,” katanya. Karena kalah jumlah personel, mereka kalah atas Thailand, namun menang atas Singapura.
Bagi David, pencapaian tersebut cukup memuaskan. Itu karena dirinya awalnya berkenalan dengan Kabbadi saat menjadi volunteer penata matras lapangan di Asian Games 2018. Mulanya, dia hanya fokus untuk menekuni cabor Woodball.
Namun setelah melihat cabor tersebut, dia kepincut. Akhirnya pada 2019 David banting setir. Waktu itu dirinya masih menjadi atlet dari Denpasar.
Latihan setiap hari membuatnya dipanggil di Porprov Bali 2019 dan 2021. Dari dua edisi itu dia langsung membantu Denpasar meraih medali emas. Pada 2020 lalu dirinya juga masuk PON mewakili Jawa Timur di kategori eksibisi dan berhasil membawa medali perunggu.
Pertemuannya dengan Jawa Timur membuatnya mantap pindah pada 2021, sekaligus mewakili Kota Malang yang merupakan tempat kelahiran orang tuanya. David kemudian melanjutkan studi di Universitas Negeri Malang (UM). Pada 2023 dia mendapatkan panggilan timnas Kabbadi Indonesia untuk mengikuti Sea Games.
Setelah berhasil meraih medali perak dan perunggu di Sea Games 2025, dia tidak langsung tancap gas mengikuti event internasional. Dia perlu melakukan operasi pengangkatan pen Januari tahun depan. “Saya juga ada target mengembangkan Kabbadi di Jawa Timur, khususnya Kota Malang,” tandasnya.(*/dan)
Editor : A. Nugroho