YOHAN Purnomo menemukan dunianya di antara tumpukan kertas gambar, kanvas, dan serpihan warna yang memenuhi setiap sudut rumahnya di Jalan Simpang Kepuh Nomor 29, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sukun. Rumah itu sekaligus menjadi studio seni yang hidup.
Dindingnya dipenuhi karya meski tak banyak lukisan yang bertahan lama. Sebagian besar langsung berpindah tangan begitu selesai dikerjakan.
Di ruang kerja yang sederhana namun padat peralatan, perhatian mudah tertarik pada meja di sudut ruangan. Di sana bertumpuk kertas gambar bermerek Canson. Di atasnya, bertebaran sketsa berbagai karakter.
Mulai figur anime, pemain sepak bola timnas Argentina Lionel Messi, hingga ilustrasi hewan surealis yang sarat simbol. Setiap goresan tampak terukur, seolah menyimpan cerita di balik garis-garis halusnya.
Di meja itulah Yohan menghabiskan hingga tiga jam setiap hari untuk siaran langsung di YouTube melalui kanalnya, Yohan Draws Art. Aktivitas tersebut menjadi ruang berbagi sekaligus tempatnya mengasah teknik menggambar yang kembali ia tekuni secara serius sejak 2022.
”Mulai teknik arsir, layering pensil, pemilihan dan pemahaman alat, sampai teknik penguncian arsiran banyak saya bagikan melalui live atau video konten,” ujar bapak dua anak itu.
Kecintaannya pada drawing sebenarnya bukan hal baru. Empat tahun terakhir menjadi titik balik ketika ia kembali menaruh perhatian besar pada seni gambar. Sebelumnya, Yohan lebih banyak bergelut di dunia lukis dan seni kriya.
Sejak awal 2000-an, ia menekuni berbagai medium seperti kaca hias, kaca patri, grafir, hingga ukiran kuningan. Fondasi menggambarnya terbentuk saat menempuh studi Seni Rupa Murni di Universitas Udayana, Bali, pada pertengahan 1990-an.
Di masa itu, latihan garis menjadi disiplin utama. Dengan alat sederhana berupa lidi dan tinta cina, ia ditempa untuk berani membuat garis tegas.
”Waktu itu garis sama dengan cerminan mental dan kontrol diri, jadi harus yakin, tegas, dan tidak bergetar saat tangan memulai gambar,” kenangnya. Eksplorasi teknik menggambar kembali ia dalami sejak 2022.
Yohan bereksperimen dengan berbagai alat, termasuk pensil warna, sembari terus memperkaya pendekatan visualnya. Hari-harinya diisi dengan menggambar, melukis, serta mengerjakan pesanan ukir kaca. Di sela kesibukan itu, ia sesekali membantu istrinya menyiapkan pesanan kue atau melayani pelanggan jasa tato yang datang ke rumah.
Kanal YouTube-nya yang diikuti ribuan pegiat seni menjadi pemantik semangat untuk terus berbagi ilmu. Dari interaksi dengan para penonton, Yohan semakin terdorong menantang diri. Hingga suatu hari ia menemukan poster Colour 4Life Competition Faber Castell 2025. Kompetisi itu memberinya kesempatan menggunakan 12 pensil warna edisi terbaru.
Alih-alih menambah palet warna, Yohan justru membatasi diri hanya pada 12 warna tersebut. Baginya, keterbatasan bisa memunculkan kreativitas. ”Langsung saya mencari konsep gambar dan mulai submit Oktober 2025 lalu,” tuturnya.
Ia memilih penyu sebagai subjek utama. Hewan laut itu baginya menyimpan makna perjalanan hidup dan ingatan akan asal-usul. Penyu digambarkan berenang menuju pantai yang dihiasi motif batik sebagai representasi budaya Indonesia.
Di sisi lain, ia menampilkan pantai yang bersih sebagai bentuk kritik sosial terhadap kebiasaan membuang sampah sembarangan. Terutama plastik yang kerap disangka ubur-ubur oleh penyu.
Karya tersebut mengantarkannya menjadi juara tingkat nasional. Kejutan belum berhenti. Pada akhir Desember 2025, Yohan kembali dihubungi panitia karena karyanya maju ke tingkat Asia-Pasifik, bersaing dengan pemenang dari tujuh negara, termasuk Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Australia.
Pengumuman berikutnya datang pada akhir Januari. Karyanya terpilih sebagai pemenang Asia-Pasifik. Hadiah itu membuka kesempatan baginya berkunjung ke Jerman.
”Akhir Januari lalu dapat pengumuman lagi, ternyata karya saya terpilih jadi pemenang di Asia Pacific dan dapat kesempatan ke Jerman,” katanya dengan nada bangga.
Rencana perjalanan itu ingin ia wujudkan pada musim semi atau musim panas pertengahan tahun bersama istrinya. Ada satu destinasi yang paling ia nantikan, yakni Schloss Faber Castell yang legendaris.
Yohan berharap kunjungan tersebut bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan juga kesempatan melihat lebih dekat dunia seni yang selama ini menemaninya dan siapa tahu, suatu hari karyanya bisa ikut dipajang di sana.
Di tengah kesederhanaan ruang kerjanya, Yohan terus menekuni garis demi garis. Bagi dia, seni bukan hanya soal hasil akhir, melainkan proses panjang yang membentuk ketekunan, keberanian, dan keyakinan pada setiap goresan. (*/adn)
Editor : A. Nugroho