RADAR MALANG – Musim BRI Super League 2025/2026 menjadi momentum spesial bagi Heni Kurniawan. Pria 37 tahun itu dipercaya penuh mendesain seluruh jersey Arema FC, mulai dari home, away, hingga kostum ketiga dan keempat.
Jika pada musim sebelumnya hanya menggarap sebagian, kali ini Heni mendapat kepercayaan penuh. Ia pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengeksplorasi kreativitas dalam setiap desain yang dibuat.
Jersey kandang (home) menjadi proyek awal yang digarap sejak Februari 2025, di tengah berlangsungnya musim 2024/2025. Desain berwarna biru dengan ornamen kuning itu terinspirasi dari kostum Arema saat final Copa Dji Sam Soe 2006.
“Kostum itu ada tambahan warna di kerah, ujung lengan, dan celana. Saya modernisasikan agar sesuai tren kekinian,” ujar Heni.
Meski pengerjaan teknis relatif cepat, proses revisi menjadi tantangan tersendiri. Heni harus menyesuaikan desain dengan masukan dari manajemen, mulai dari tampilan yang dinilai terlalu simpel hingga detail kerah agar lebih presisi saat produksi.
Setelah sekitar satu bulan revisi, jersey home akhirnya rampung. Sementara jersey tandang (away) berwarna dasar putih dengan aksen biru bisa diselesaikan lebih cepat, hanya dalam waktu sepekan.
Dalam proses kreatifnya, Heni tidak bekerja sendiri. Ia rutin berdiskusi dengan rekan desainer, termasuk komunitas pecinta jersey di Malang. Selain itu, ia juga aktif mencari referensi dari pertandingan sepak bola, baik lokal maupun internasional.
Salah satu sumber inspirasinya adalah situs Footy Headlines yang memuat tren jersey klub dunia. Dari sana, ia memadukan gaya global dengan identitas khas Arema FC.
Tantangan terbesar muncul saat menggarap jersey ketiga (third). Desain ini mengalami revisi hingga tiga kali dan memakan waktu pengerjaan sekitar dua bulan. Awalnya berwarna abu-abu, kemudian berubah menjadi merah muda, hingga akhirnya diputuskan menggunakan warna merah maroon dengan aksen kuning.
Inspirasi warna tersebut diambil dari kostum kandang AS Roma. Bahkan, logo yang digunakan pun berbeda, yakni tulisan “AFC” tanpa lambang utama.
“Pemilihan logo itu terinspirasi dari teman. Meski tanpa lambang, orang tetap tahu siapa kita,” jelasnya.
Sementara itu, jersey keempat (fourth) mengusung konsep sederhana dengan dominasi warna putih. Untuk menghindari kesan monoton, ditambahkan aksen abu-abu di beberapa bagian.
Sejak mulai mendesain jersey Arema FC pada musim 2021/2022, Heni mengaku sempat diliputi kekhawatiran. Ia takut desainnya tidak diterima, apalagi saat jersey musim 2022/2023 sempat dikritik.
Namun, pengalaman dan proses panjang membuatnya semakin percaya diri. Respons positif dari Aremania terhadap jersey musim ini menjadi bukti kerja kerasnya.
“Jersey musim depan sudah selesai. Tinggal menunggu proofing untuk melihat hasil akhirnya,” tandasnya.
Bagi Heni, mendesain jersey bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk dedikasi terhadap klub kebanggaan Malang. Setiap detail dirancang dengan cermat agar mampu merepresentasikan karakter Singo Edan.
Editor : Aditya Novrian