MALANG, RADAR MALANG - Di usia saat sebagian pelajar masih menuntaskan pendidikan menengah, M. Fatichul Firdaus justru bersiap memasuki dunia kampus. Remaja 15 tahun asal Pasuruan itu tercatat sebagai calon mahasiswa termuda Universitas Negeri Malang (UM) yang lolos melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.
Dia diterima di Program Studi Pendidikan IPA setelah menempuh perjalanan akademik yang tak biasa. Bukan hanya karena usianya yang jauh lebih muda dibanding calon mahasiswa lain, tetapi juga karena perjuangannya melewati keterbatasan ekonomi sambil menempuh jalur percepatan pendidikan.
Baca Juga: Calon Maba Wajib Tahu! Ini Sarana Ibadah di Universitas Negeri Malang
Anak bungsu dari tiga bersaudara itu mengaku kondisi keluarga menjadi salah satu alasan dirinya memilih lulus lebih cepat. Sejak usaha ayahnya bangkrut pada 2010, keluarganya bertahan dengan penghasilan ibunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Situasi itu membentuk cara pandangnya terhadap pendidikan.
Saat banyak remaja seusianya menikmati masa sekolah tanpa tekanan besar, Fatich justru berpikir bagaimana bisa segera lulus, mandiri, dan membantu orang tua.
Karena itu, sejak MTs dia mengambil Sistem Kredit Semester (SKS) dan menyelesaikan studi hanya dalam dua tahun. Pola yang sama kembali ditempuh saat bersekolah di MAN 1 Pasuruan.
Di tengah proses itu, perjuangan sehari-harinya tidak ringan. Setiap hari dia menempuh perjalanan pulang-pergi sekitar 3,6 kilometer dengan sepeda menuju sekolah.
Baca Juga: Calon Maba Wajib Tahu! Ini Sarana Ibadah di Universitas Negeri Malang
“Setelah sampai sekolah, tenaga memang berkurang. Tapi saya berusaha tetap fokus belajar,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan fasilitas, Fatich mengandalkan pola belajar mandiri. Memahami konsep utama, mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari, lalu memperkuat dengan latihan soal.
Metode itu mengantarkannya lolos SNBP 2026 ke UM.
Momen pengumuman pada 31 Maret lalu menjadi titik emosional bagi keluarganya. Saat hasil seleksi menunjukkan dirinya diterima, suasana rumah berubah haru.
Bagi Fatich, itu bukan sekadar lolos perguruan tinggi negeri, tetapi validasi atas perjuangan panjang yang dijalani selama ini.
Kini dia mulai menyusun target berikutnya. Selain mengurus Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk membantu biaya kuliah, dia juga menargetkan lulus cepat dan menjadi guru IPA di usia muda.
Tak berhenti di situ, dia juga berencana membuka jasa les privat untuk membantu anak-anak yang membutuhkan tambahan belajar.
Bagi Fatich, pendidikan bukan hanya jalan mengubah masa depan pribadi, tetapi juga cara membantu orang lain mendapat kesempatan yang sama.
Di usia 15 tahun, langkahnya baru dimulai. Tetapi pilihan-pilihan yang diambilnya sudah menunjukkan arah yang jelas.
Editor : Aditya Novrian