Kisah Calon Jemaah Haji Termuda dari Malang Raya: Didaftarkan Haji sejak Usia 5 Tahun, Hani Ariba Jahra Isma Berangkat di Usia 16

Nabila Amelia • Dipublikasikan Jumat, 24 April 2026 | 19:30 WIB
Hani Ariba Jahra Isma (kiri) bersama kedua orang tua dan kakaknya siap berangkat haji tahun ini. Dia sudah didaftarkan haji sejak usia 5 tahun oleh orang tuanya. (Nabila Amelia/Radar Malang)
Hani Ariba Jahra Isma (kiri) bersama kedua orang tua dan kakaknya siap berangkat haji tahun ini. Dia sudah didaftarkan haji sejak usia 5 tahun oleh orang tuanya. (Nabila Amelia/Radar Malang)

MALANG, RADAR MALANG – Keputusan mendaftarkan haji sejak usia dini mengantarkan Hani Ariba Jahra Isma berangkat ke Tanah Suci lebih cepat. Di usia 16 tahun, siswi asal Kecamatan Kedungkandang itu menjadi salah satu calon jemaah haji (CJH) termuda dari Malang Raya tahun ini.

Hani sudah terdaftar sebagai CJH sejak berusia lima tahun. Saat itu, ia bahkan belum memahami apa itu rukun haji. Namun, keputusan orang tuanya kini berbuah manis setelah penantian panjang.

“Tentu ini jadi kesempatan yang saya nantikan, apalagi bisa haji bersama orang tua,” ujar Hani saat ditemui di kediamannya, 19 April lalu.

Baca Juga: Kisah Calon Jemaah Haji Termuda Malang Raya: Haidar Fattah Rizqy Santoso Selesaikan Seluruh Tugas Sekolah sebelum Berangkat

Tak hanya Hani, sang kakak Diara Adzra Irba Hanifa yang kini berusia 17 tahun juga didaftarkan hampir bersamaan. Keduanya masuk antrean haji sejak kecil, memanfaatkan aturan lama yang belum membatasi usia minimal pendaftar.

Orang tua mereka, Rahadian Widikusuma dan Ratna Susanti, mendaftarkan anak-anaknya saat regulasi masih mengacu pada Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 14 Tahun 2012. Saat itu belum ada batas usia minimal untuk mendaftar haji.

Kini aturan telah berubah. Dalam PMA Nomor 15 Tahun 2015, usia minimal pendaftar ditetapkan 12 tahun. Namun bagi Hani dan kakaknya, keputusan orang tua di masa lalu justru membuka jalan berangkat lebih cepat.

Pada musim haji 2026, keluarga ini berangkat bersama dengan pembagian mahram. Sang ayah mendampingi kakak Hani, sementara Hani didampingi ibunya.

Baca Juga: Kisah Calon Jemaah Haji Termuda Asal Kota Batu: Lelyana Arifa Lanjutkan Mimpi sang Ayah ke Tanah Suci

Sayangnya, sang adik bungsu Nadia Khairunnisa Salsabila belum bisa ikut karena lahir setelah aturan baru diberlakukan. Meski begitu, keluarga telah memberikan pemahaman.

“Adik sudah mengerti. Selama kami haji, dia ditemani keluarga lain,” jelas Hani.

Bagi Hani, kesempatan ini menjadi momen langka di tengah panjangnya antrean haji di Indonesia. Ia mengaku bersyukur bisa berangkat di usia muda.

Meski masih remaja, Hani merasa cukup siap. Ia telah mendapatkan bekal pengetahuan haji selama menempuh pendidikan di sekolah asrama berbasis agama.

“Mulai dari rukun, urutan ibadah, sampai tanggal-tanggal penting sudah pernah dipelajari,” katanya.

Pengalaman umrah yang pernah dijalani juga membuatnya lebih familiar dengan rangkaian ibadah. Saat manasik haji, ia dan kakaknya mengaku tidak mengalami kendala berarti.

Hanya satu bagian yang terasa baru bagi Hani, yakni rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Namun ia tetap optimistis bisa menjalaninya dengan baik.

Selain kesiapan rohani, persiapan fisik juga menjadi perhatian. Hani rutin mengikuti latihan, mulai dari tes lari hingga kebugaran. Aktivitasnya sebagai anggota ekstrakurikuler basket turut membantu menjaga kondisi tubuh.

Baca Juga: Penuh Suka Cita! 380 Jemaah Calon Haji Kloter Pertama Embarkasi Surabaya Resmi Terbang ke Tanah Suci

“Waktu latihan lari, saya bisa selesai lebih cepat,” ujarnya.

Keberangkatan di usia muda juga membuat Hani kerap menjadi perhatian jamaah lain. Tak sedikit yang heran melihat usianya.

“Banyak yang tanya, kok masih muda sudah haji,” katanya sambil tersenyum.

Dukungan juga datang dari sekolah. Hani mendapat kelonggaran untuk menunaikan ibadah haji, dengan syarat tetap menyelesaikan tugas akademik.

Sementara itu, sang kakak juga mendapat kabar baik. Diara dinyatakan lolos sebagai siswa eligible dan diterima di Universitas Brawijaya melalui jalur SNBP.

Di balik semua itu, Hani menyimpan harapan sederhana. Ia ingin memanfaatkan momen di Tanah Suci untuk berdoa, terutama terkait masa depan pendidikannya.

“Saya ingin kuliah di bidang fisioterapi atau kesehatan masyarakat. Semoga dimudahkan jalannya,” pungkasnya.

Bagi Hani, perjalanan ini bukan sekadar ibadah. Ini adalah hasil dari keputusan panjang orang tua sejak ia kecil—yang kini mengantarkannya menapaki salah satu perjalanan paling penting dalam hidupnya.

Editor : Aditya Novrian
calon jemaah haji termuda haji usia muda Malang daftar haji sejak kecil antrean haji Indonesia kisah jemaah haji muda