Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dari Medan Berat ke Pemberdayaan, Kisah Mantri BRI Perempuan di Pelosok Kolaka Utara

Aditya Novrian • Senin, 27 April 2026 | 07:19 WIB
Dari Medan Berat ke Pemberdayaan, Kisah Mantri BRI Perempuan di Pelosok Kolaka Utara
Dari Medan Berat ke Pemberdayaan, Kisah Mantri BRI Perempuan di Pelosok Kolaka Utara

KOLAKA UTARA, RADAR MALANG – Semangat emansipasi yang diwariskan R.A. Kartini terus hidup dalam berbagai bentuk. Salah satunya tercermin dari kiprah perempuan di sektor ekonomi kerakyatan, termasuk di wilayah terpencil.

Sosok itu terlihat pada Mispa Lewi Yt, Mantri BRI yang bertugas di Unit Ranteangin, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara. Di tengah keterbatasan akses dan kondisi geografis yang menantang, ia tetap menjalankan perannya untuk membuka akses keuangan bagi masyarakat.

Perjalanan karier Mispa tidak dimulai dari kondisi ideal. Saat pandemi Covid-19, ia sempat kehilangan pekerjaan. Namun situasi tersebut justru menjadi titik balik.

“Saat dirumahkan, saya mencoba melamar ke BRI meskipun usia sudah di batas maksimal. Puji Tuhan bisa lolos,” ujarnya.

Ia mengawali karier sebagai customer service sebelum akhirnya dipercaya menjadi Mantri BRI pada 2024, setelah melalui proses seleksi.

Wilayah Ranteangin dikenal memiliki medan yang sulit. Akses menuju desa-desa sebagian besar masih berupa jalan tanah dan batu, bahkan beberapa lokasi hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

“Antarrumah warga bisa berjarak 1 sampai 2 kilometer. Kadang harus jalan kaki karena tidak bisa dilalui motor,” jelasnya.

Tantangan semakin berat saat musim hujan. Jalan menjadi licin dan rawan dilalui. Di awal bertugas, kondisi tersebut sempat membuatnya hampir menyerah.

Namun, dukungan masyarakat setempat menjadi penyemangat. Sambutan hangat dari nasabah membuatnya bertahan dan terus menjalankan tugas.

Sebagai Mantri BRI, Mispa tidak hanya memberikan layanan perbankan. Ia juga berperan meningkatkan literasi keuangan masyarakat, yang mayoritas berprofesi sebagai petani cengkeh.

Selain itu, ia turut membina klaster usaha minuman herbal berbahan rimpang bernama Gujames. Pendampingan dilakukan mulai dari bantuan modal, edukasi pemasaran, hingga pemanfaatan e-commerce.

Kini, produk tersebut telah berkembang, memiliki kemasan yang lebih baik, bersertifikat halal, dan dipasarkan hingga luar desa.

Mispa mengakui, tantangan terbesar adalah rendahnya literasi keuangan masyarakat. Banyak warga yang masih terbiasa menyimpan uang tunai dan belum memanfaatkan layanan perbankan.

Meski begitu, ia melihat perannya bukan sekadar pekerjaan, melainkan kesempatan untuk memberi dampak.

“Perempuan bisa berkontribusi pada ekonomi keluarga dan masyarakat. Ini yang membuat saya terus semangat,” ungkapnya.

Secara terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menegaskan bahwa peran mantri sangat penting dalam mendorong ekonomi kerakyatan.

Mantri tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga menjadi pendamping usaha bagi nasabah, mulai dari tahap awal hingga berkembang.

Saat ini, BRI memiliki sekitar 26 ribu mantri, dengan 28,2 persen di antaranya merupakan perempuan.

“Kisah ini menunjukkan perempuan mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. Kesetaraan kesempatan menjadi kunci pertumbuhan inklusif,” tegasnya.

Editor : Aditya Novrian
#Mantri BRI perempuan #Kolaka Utara Sulawesi Tenggara #inklusi keuangan desa #Ekonomi Kerakyatan #Pemberdayaan UMKM BRI