Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ahmad Syihab Athaillah, Remaja Tunanetra Tuntaskan Hafalan Alquran dengan Mendengar: Lulus SD Hafal 12 Juz, Lulus SMA Hafal 30 Juz

Zanadia Manik Fatimah • Rabu, 29 April 2026 | 18:24 WIB
TAMU INSPIRATIF: Ahmad Syihab Athaillah (tengah) berfoto bersama para juri di program Hafiz Indonesia RCTI, 2025 lalu. (Ahmad Syihab Athaillah For Radar Malang)
TAMU INSPIRATIF: Ahmad Syihab Athaillah (tengah) berfoto bersama para juri di program Hafiz Indonesia RCTI, 2025 lalu. (Ahmad Syihab Athaillah For Radar Malang)

KOTA BATU, RADAR MALANG - Ahmad Syihab Athaillah lahir 19 tahun lalu, saat usia kandungan ibunya baru enam bulan. Beratnya ketika itu 1,7 kilogram. Karena lahir lebih awal, beberapa organ tubuhnya belum berfungsi sempurna. Seperti kornea mata dan jantungnya. 

Dia sempat menjalani perawatan intensif selama 40 hari setelah dilahirkan di RS Melati Husada dan dirujuk ke RS Panti Waluya Sawahan (RKZ) Kasin, Malang. Kondisi matanya yang belum berkembang sempurna membuat orang tuanya harus menerima kenyataan kalau putra semata wayang mereka mengalami gangguan penglihatan. 

Berbagai upaya pengobatan dan terapi sudah dilakukan. Termasuk ke Rumah Sakit (RSA) Mata Cicendo, Bandung. Namun, dokter menyarankan agar keluarga menjaga kondisi yang ada. Sejak masa kandungan hingga tumbuh besar, ibunya, Syifaul Qulubiyah, konsisten memutar ayat-ayat suci Alquran. 

Kebiasaan itu terus berlanjut saat Syihab tumbuh menjadi remaja. Dari situlah, kemampuan mendengarnya terasah dengan sangat kuat. ”Kata Umi, saya sudah mulai berbicara sejak usia sekitar 1,6 tahun,” cerita remaja yang lahir 20 April 2007 itu. 

Memasuki usia sekolah, warga Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu itu mengenyam pendidikan di TK Baiturrohmah. Sempat menjalani masa adaptasi dengan pendamping guru dan orang tua secara bergantian, dia kemudian melanjutkan pendidikan ke SD Muhammadiyah 4 Kota Batu. 

Di sana lah titik awal perjalanannya sebagai penghafal Alquran dimulai. Saat duduk di kelas 1 SD, dia mulai menyetorkan hafalan secara rutin. Mulai dari juz paling terakhir. Yakni Juz 30, 29, 28, hingga 27, dan baru masuk ke juz 1. 

Metodenya yakni mendengar melalui murottal MP3 dan MP4. Syihab menghafal ayat demi ayat tanpa membaca huruf braille. Hingga kini, dia mengaku masih dalam proses belajar memperlancar bacaan Alquran braille. 

Perjalanan hafalannya berlangsung bertahap. Saat lulus SD, dia selesai menghafal 12 juz. Lalu meningkat menjadi 24 juz saat lulus SMP, dan akhirnya tuntas 30 juz ketika menyelesaikan pendidikan SMA. Proses itu tidak lepas dari disiplin murajaah (mengulang hafalan Alquran) yang dia jalani setiap hari. 

Pagi hari dia gunakan untuk mendengar murottal dan mengulang hafalan. Sementara selepas Magrib, dia menyetorkan hafalan kepada orang tuanya. Ayahnya, Kasiono, merupakan seorang guru bahasa Inggris. Bersama istrinya, pria berusia 52 tahun itu menjadi pendamping utama dalam proses tersebut.

Dukungan keluarga menjadi fondasi kuat bagi Syihab untuk terus berkembang. Selain belajar di sekolah formal, dia juga menempuh pendidikan nonformal. Termasuk homeschooling di SMP Islam Al Azhar. Serta rutin setoran hafalan secara daring ke Ponpes Darussurur, Bandung. 

Dia juga aktif mengikuti program Holiday with Quran di Griya Quran Kota Malang sejak 2023. Itu dia lakukan untuk melatih kemandirian dengan sistem asrama. Berkat ketekunannya, dia pernah menjadi bintang tamu inspiratif di berbagai program televisi. Seperti program Hafiz Indonesia di RCTI pada 2025, Ummat Trans TV, dan juara lima Dai Spesial Indonesia iNews TV pada 2021. 

Syihab juga sering meraih predikat juara dalam berbagai Musabaqah Hifzil Qur’an (MHQ) tingkat kota hingga nasional, hingga mendapatkan hadiah umrah pada 2020. Pada 24 Agustus 2025, dia resmi diwisuda sebagai hafiz 30 juz di Roudlatul Quran, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo. 

Dalam proses menghafal, Syihab juga menghadapi beberapa tantangan. Dia mengaku sempat kesulitan ketika berpindah ke surat baru. ”Apalagi saat juz 14, 20, dan 24 yang memiliki kemiripan ayat cukup banyak,” ujar dia antusias. 

Namun, kecintaannya terhadap Alquran membuat dia terus bertahan. Surat favoritnya adalah Al-Baqarah, khususnya ayat 183. Kemampuan ingatannya yang kuat membuat dia kerap dipercaya menjadi pembawa acara. Bahkan dalam bahasa Jawa atau lebih dikenal pranata acara. Semua itu dia pelajari dengan mengandalkan ingatan dan latihan berulang.

Syihab menguasai berbagai irama dalam melantunkan ayat Alquran. Dia juga bisa menirukan nada beberapa Syekh dari berbagai negara.

”Irama yang sudah saya pelajari dan cukup bisa dipraktikkan antara lain Bayyati, Shoba, Hijaz, Rast, Sikah, dan Jiharkah. Semua belajar dari Ustadz Ghozali dan Ustadz Sya’roni sejak saya SD, serta belajar dari internet juga,” tutur dia tenang. 

Kini, setelah menuntaskan hafalan Alquran, Syihab menapaki langkah baru. Dia diterima di UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang melalui jalur beasiswa teladan 2026. Dia memilih program studi (Prodi) Ilmu Hadis. Dia juga akan tinggal di asrama seperti rekan mahasiswa UIN Maliki Malang lainnya. 

Itu untuk melatih kemandirian dan memperdalam ilmu agamanya. ”Harapannya bisa memahami, menghafal, dan mengaplikasikan hadis-hadis yang ada,” tambah Syihab sembari tersenyum. Ia juga punya cita-cita besar dan mulia, yakni ingin mendirikan pondok pesantren gratis bagi mereka yang membutuhkan.

Di mata sang ibu, Syihab adalah sosok yang punya semangat juang tinggi. ”Dia saja tidak minder dan bisa berprestasi. Itu yang justru menguatkan saya dan membuat bangga,” cerita Syifa, sang ibu. 

Besarnya tekad, dukungan penuh keluarga, dan kedekatan dengan apa yang dia cintai, Syihab mampu melampaui batas yang selama ini dianggap mustahil. ”Bahkan hampir semua keinginan Syihab bisa tercapai melalui Alquran. Seperti bertemu para syekh hingga pergi ke tanah suci,” tambah Syifa. (*/by)

Editor : Bayu Mulya Putra
#ahmad syihab #Warga Batu #tunanetra #penghafal alquran