RADAR MALANG – Prof Dr Ir Stefanus Yufra Menahen Taneo MS MSc menempuh perjalanan panjang penuh keterbatasan sebelum akhirnya dipercaya menjadi Rektor Universitas Ma Chung periode 2023–2027. Putra asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) itu pernah menempuh perjalanan hingga 24 kilometer demi bisa bersekolah.
Kisah hidup Stefanus menjadi potret perjuangan pendidikan dari daerah terpencil menuju dunia akademik nasional. Lahir dari keluarga petani sederhana di Desa Kaeneno, Kecamatan Fautmolo, TTS, ia tumbuh dengan keterbatasan fasilitas pendidikan. Namun pesan sang ayah agar terus belajar menjadi pegangan hidup yang tidak pernah ia lepaskan.
Baca Juga: Juney Hanafi, Pria Asal Malang Meraih Juara Setelah Mengayuh Sepeda Sejauh 1.000 Kilometer di Flores
Perjuangan Sekolah dari Desa Terpencil di NTT
Sejak kecil, Stefanus sudah terbiasa bangun dini hari untuk mengejar pendidikan. Saat masih duduk di bangku SMP dan SMA, ia harus berangkat pukul 04.00 agar tiba di Kota Soe sebelum jam pelajaran dimulai.
“Kalau SD masih satu desa dengan rumah saya. Tapi SMP dan SMA harus ke Kota Soe,” kenang pria kelahiran 1964 tersebut.
Jarak menuju sekolah mencapai sekitar 24 kilometer. Kondisi jalan saat itu masih sepi, minim penerangan, bahkan rawan tindak kejahatan. Awalnya ia memiliki teman seperjalanan. Namun rekannya memilih berhenti sekolah karena tidak kuat menjalani perjalanan jauh setiap hari.
Stefanus akhirnya melanjutkan perjuangan itu seorang diri. Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang sederhana, pendidikan menjadi amanah penting dari ayahnya, Junus Taneo, yang dikenal sebagai tokoh agama Kristen Protestan di kampungnya.
“Bapak saya bilang, enam anak laki-lakinya harus tamat pendidikan. Kalau perempuan cukup baca tulis, sehingga rata-rata hanya sekolah sampai SD,” ujarnya.
Sebagai anak kesembilan dari sepuluh bersaudara, Stefanus memegang teguh pesan tersebut. Baginya, pendidikan adalah jalan untuk keluar dari keterbatasan hidup.
Baca Juga: Jamu ala Teh Celup Buatan Pasutri Asal Kedungkandang Malang Ini Tembus Ribuan Produksi Per Bulan
Belajar di Tengah Minim Guru dan Buku
Tantangan Stefanus tidak berhenti pada persoalan jarak sekolah. Saat SMA, fasilitas pendidikan di daerahnya masih sangat terbatas. Jumlah guru minim dan beberapa mata pelajaran bahkan tidak diajarkan secara penuh.
“Untuk mata pelajaran Biologi saya hanya dapat dua semester. Kemudian mata pelajaran Fisika dan Kimia tidak dapat karena gurunya tidak ada,” ungkapnya.
Kondisi buku pelajaran juga jauh dari memadai. Satu buku digunakan bersama oleh dua siswa dalam satu bangku. Meski begitu, Stefanus justru menemukan ketertarikannya pada Matematika.
Ia menghafal sekitar 42 rumus Matematika secara otodidak, mulai kalkulus hingga aljabar. Kebiasaan itu dilakukan saat mengambil air, pekerjaan rutin yang setiap hari ia lakukan di rumah.
“Daripada bosan, saya hafalkan,” katanya sambil tersenyum.
Baca Juga: 11 Tahun Meneliti Rambut Jagung, Dosen FTAB UB Berhasil Ciptakan Sunscreen SPF 50
Beasiswa Membuka Jalan ke Malang
Perubahan besar dalam hidup Stefanus dimulai pada 1983. Kakaknya, Daniel Taneo, yang lebih dulu kuliah di Universitas Brawijaya (UB), menyarankan dirinya pergi ke Malang untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan.
Tak lama berselang, Stefanus mendapat kabar menjadi satu-satunya siswa penerima beasiswa pemerintah di sekolahnya.
“Tampaknya pertimbangan dari sekolah karena saya lancar mempelajari Matematika,” imbuhnya.
Beasiswa sebesar Rp 240 ribu itu menjadi modal awalnya merantau ke Malang. Uang tersebut digunakan membeli tiket pesawat seharga Rp 43 ribu dan membayar kos Rp 15 ribu per bulan.
Di Kota Malang, Stefanus melanjutkan pendidikan di Universitas Katolik Widya Karya Malang. Kehidupan sebagai mahasiswa rantau dijalani dengan penuh kesederhanaan.
Baca Juga: Cedera hingga Panas 38 Derajat Tak Hentikan Daniel dan Aqilah Ukir Prestasi di Pakistan
Memilih Jadi Dosen demi Terus Belajar
Setelah lulus sarjana, Stefanus sempat dihadapkan pada tiga pilihan hidup. Pulang ke kampung halaman, bekerja di perusahaan perkebunan di Kalimantan, atau menjadi dosen.
Ia akhirnya memilih dunia akademik karena ingin terus melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Keputusan tersebut membawa Stefanus menempuh studi magister di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1989 dan melanjutkan pendidikan di Belanda pada awal 2000-an. Setelah itu, ia meraih gelar doktor di Universitas Brawijaya pada 2017.
Karier akademiknya terus berkembang hingga bergabung dengan Universitas Ma Chung. Kini, Stefanus dipercaya memimpin kampus tersebut sebagai rektor periode 2023–2027.
Perjalanan dari desa kecil di Timor Tengah Selatan menuju kursi rektor di Kota Malang itu masih terasa seperti mimpi baginya. Namun semua berawal dari tekad seorang anak desa yang memilih tetap berlari menuju sekolah ketika banyak orang menyerah di tengah jalan. (*/adn)
Editor : Aditya Novrian