Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kopi, Lupus, dan Perjuangan Muhammad Nabiel Bertahan Hidup lewat Kedai Maeda

Nahdiatul Affandiah • Rabu, 27 Mei 2026 | 17:25 WIB
TAK PERNAH MENYERAH: Muhammad Nabiel menyeduh kopi untuk pelanggan di kedai Maeda yang dirintisnya kemarin malam. (Nahdiatul Affandiah/Radar Malang)
TAK PERNAH MENYERAH: Muhammad Nabiel menyeduh kopi untuk pelanggan di kedai Maeda yang dirintisnya kemarin malam. (Nahdiatul Affandiah/Radar Malang)

RADAR MALANG – Bertahun-tahun hidup dengan lupus tidak membuat Muhammad Nabiel menyerah pada keadaan. Di tengah perjuangannya melawan penyakit autoimun langka, pria asal Malang itu justru membangun Kedai Maeda sebagai ruang bertahan hidup sekaligus tempat berbagi untuk sesama, mulai membantu korban bencana hingga warga Gaza.

Di balik aroma kopi yang diraciknya setiap malam, tersimpan perjalanan panjang penuh rasa sakit, masa kritis di rumah sakit, hingga upaya bangkit dari kondisi nyaris lumpuh total akibat lupus yang baru terdiagnosis saat dirinya berusia 19 tahun.

Tubuh Mudah Drop sejak Kecil

Sejak kecil, kondisi tubuh Nabiel memang berbeda dibanding anak seusianya. Dia mudah kelelahan setelah beraktivitas fisik. Seusai bermain atau olahraga, tubuhnya sering tiba-tiba lemas tanpa sebab yang jelas.

Baca Juga: Sediakan Tempat Perisirahatan Gratis, Pemuda Tumpang Malang Ini Menampung 10.000 Lebih Pendaki Lokal dan Mancanegara

Keluarganya berkali-kali membawanya menjalani pemeriksaan medis. Namun hasilnya selalu normal.

“Tapi badan rasanya memang gampang drop,” kenangnya.

Salah satu momen yang paling membekas terjadi saat dirinya duduk di bangku SMP. Ketika ujian praktik olahraga mengharuskan siswa berlari mengelilingi Stadion Gajayana sebanyak enam putaran, Nabiel bahkan belum menyelesaikan setengah putaran ketika tubuhnya sudah kehabisan tenaga.

Karena sering sakit-sakitan, keluarganya sempat mengganti namanya sebagai bentuk ikhtiar agar kondisi kesehatannya membaik. Hingga akhirnya dia memakai nama Muhammad Nabiel seperti sekarang.

Divonis Lupus setelah Nyaris Lumpuh Total

Kondisi terparah terjadi saat Nabiel memasuki semester dua Jurusan Psikologi Universitas Negeri Malang (UM). Tubuhnya mendadak ambruk total.

Baca Juga: PerjalananProf Dr Ir Stefanus Yufra Menahen Taneo MS MSc Jadi Rektor Universitas Ma Chung, Pernah Tempuh 24 Kilometer demi Sekolah

Jika sebelumnya rasa lemas masih bisa pulih setelah dipijat, kali itu otot-otot tubuhnya berhenti berfungsi. Hanya jantungnya yang tetap bekerja memompa darah.

Selama empat bulan, Nabiel menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Hari-harinya dipenuhi perjuangan sederhana yang terasa sangat berat. Mulai menggerakkan tangan, duduk perlahan, hingga belajar berdiri lagi.

Setelah sempat membaik, penyakitnya kembali kambuh beberapa bulan kemudian. Dia kembali dirawat selama enam bulan.

Barulah pada 2012 dokter memastikan Nabiel mengidap lupus, penyakit autoimun kronis yang membuat sistem kekebalan tubuh menyerang organ sehat dalam tubuh sendiri.

Baca Juga: Juney Hanafi, Pria Asal Malang Meraih Juara Setelah Mengayuh Sepeda Sejauh 1.000 Kilometer di Flores

Kasus Nabiel tergolong langka karena hasil tes Anti-Nuclear Antibody (ANA) miliknya tetap negatif hingga sekarang.

“Tapi sampai saat ini tubuhku kalau dites ANA ya tetap negatif,” cerita Nabiel.

Padahal sebagian besar penderita lupus umumnya menunjukkan hasil ANA positif.

Kedai Maeda Jadi Tempat Bertahan Hidup

Sejak divonis lupus, hidup Nabiel bergantung pada obat-obatan. Namun dia memilih tidak menyerah.

Baca Juga: 11 Tahun Meneliti Rambut Jagung, Dosen FTAB UB Berhasil Ciptakan Sunscreen SPF 50

Setiap pagi dia rutin berjalan kaki untuk menjaga keseimbangan otot tubuhnya. Kini intensitas olahraganya meningkat menjadi lari kecil meski belum mampu melakukan aktivitas berat.

“Ototku pernah lumpuh total. Jadi sekarang aku benar-benar harus menjaga tubuh,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan itu, Nabiel menemukan ruang untuk bertahan lewat kopi. Dia merintis Kedai Maeda yang perlahan tumbuh menjadi tempat singgah bagi banyak orang.

Dari balik meja racik kopi, Nabiel mendengarkan berbagai cerita pelanggan. Mulai persoalan rumah tangga, pekerjaan, hingga kehidupan pribadi.

Kedai Maeda pun tak sekadar menjadi tempat membeli minuman. Suasana hangat yang dibangun Nabiel membuat banyak pelanggan merasa nyaman untuk berbagi cerita dan beristirahat sejenak dari tekanan hidup.

Sisihkan Penghasilan untuk Gaza dan Korban Bencana

Di balik perjuangan menjaga kesehatannya sendiri, Nabiel juga rutin menyisihkan penghasilannya untuk kegiatan kemanusiaan.

“Salah satunya aku menyalurkan 20 persen pendapatanku untuk saudara-saudara di Gaza,” ujarnya.

Baca Juga: Jamu ala Teh Celup Buatan Pasutri Asal Kedungkandang Malang Ini Tembus Ribuan Produksi Per Bulan

Tak hanya Palestina, pada Desember 2025 lalu Nabiel juga mendonasikan 30 persen penghasilannya untuk korban bencana di Sumatera.

Bagi Nabiel, sakit bukan alasan untuk berhenti peduli terhadap sesama. Perjalanan panjang melawan lupus justru membuatnya memahami bahwa hidup selalu memberi ruang untuk bertahan dan berbagi.

Editor : Aditya Novrian
#Muhammad Nabiel #lupus di Malang #Kedai Maeda #pengidap lupus bertahan hidup #kisah inspiratif Malang