Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Nisriina Alyaa dan Lenka Melinda Florienka Tampil Vokal dalam EuroMUN 2026 di Belanda: Piawai Beradu Argumen tentang AI hingga Keamanan Eropa

Aditya Novrian • Jumat, 29 Mei 2026 | 17:49 WIB
UNJUK GIGI: Nisriina Alyaa (berkerudung) dan Lenka Melinda Florienka (depan, tiga dari kiri) foto bersama delegasi Indonesia dalam EuroMUN 2026 di Maastricht, Belanda, 12 Mei lalu.(Lenka Melinda Florienka for Radar Malang)
UNJUK GIGI: Nisriina Alyaa (berkerudung) dan Lenka Melinda Florienka (depan, tiga dari kiri) foto bersama delegasi Indonesia dalam EuroMUN 2026 di Maastricht, Belanda, 12 Mei lalu.(Lenka Melinda Florienka for Radar Malang)

RADAR MALANG - Udara dingin langsung menyambut Nisriina Alyaa dan Lenka Melinda Florienka ketika kaki mereka menjejak Bandara Amsterdam Schiphol, Belanda, 12 Mei lalu. Jarum jam baru menunjukkan pukul 12.00 siang. Namun embusan angin musim semi membuat suhu terasa menusuk kulit.

Setelah hampir 18 jam perjalanan dari Jakarta dengan transit di Istanbul, rasa lelah belum benar-benar hilang. Tetapi semangat keduanya justru sedang berada di titik tertinggi. Bukan tanpa alasan. Perjalanan jauh itu menjadi bagian dari langkah besar mereka mengikuti European Model United Nations (EuroMUN) 2026 di Maastricht, Belanda.

Nisriina, mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Brawijaya (UB), dan Lenka, mahasiswa Teknik Informatika Politeknik Negeri Malang (Polinema), terpilih sebagai delegasi Indonesia bersama delapan mahasiswa lain dari berbagai kampus melalui Djarum Foundation angkatan 2024/2025.

Perjalanan belum selesai saat mereka tiba di Amsterdam. Rombongan masih harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam menuju Maastricht. Kota kecil di selatan Belanda itu justru meninggalkan kesan mendalam bagi Lenka.

Baca Juga: Fasih Bahasa Inggris dari Sesame Street, Guide Asal Tumpang Jadi Langganan Pendaki Mancanegara ke Semeru

”Karena Maastricht terbilang sebagai kota kecil. Penduduknya tidak banyak, sehingga syahdu. Jika ingin berjalan-jalan, biasanya bisa menggunakan bis atau jalan kaki. Ada juga yang menggunakan sepeda,” kenang Lenka.

Bagi Lenka, itu menjadi pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di Eropa. Nuansa kota yang tenang, bangunan khas Eropa, hingga suhu dingin menjadi pengalaman baru yang sulit dilupakan. Sementara Nisriina sebenarnya sudah dua kali datang ke Belanda. Namun, suasana kompetisi internasional tetap menghadirkan kesan berbeda baginya.

Ajang MUN pertama yang diikuti Nisriina saat menjadi mahasiswa juga berlangsung di Belanda. Karena itu, EuroMUN 2026 terasa seperti perjalanan yang kembali mempertemukannya dengan mimpi lama, tetapi dengan tantangan yang lebih besar.

Baca Juga: Kopi, Lupus, dan Perjuangan Muhammad Nabiel Bertahan Hidup lewat Kedai Maeda

Sebelum forum dimulai pada 14 Mei, para delegasi masih memiliki waktu menikmati Maastricht. Baru setelah itu mereka mulai menjalani rangkaian EuroMUN 2026 di Fakultas Hukum Maastricht University. Gedung fakultas dengan arsitektur klasik-modern itu menjadi pusat pertemuan sekitar 250 delegasi dari berbagai negara.

Di balik bangunan megah dan suasana akademik internasional, rasa gugup tak bisa sepenuhnya hilang. Apalagi setiap delegasi dituntut mampu mempertahankan argumen layaknya diplomat sungguhan.

Lenka ditempatkan di komite European Parliament (EP) yang membahas regulasi artificial intelligence (AI). Menariknya, dia justru mendapat peran sebagai anggota partai kanan ekstrem yang menolak regulasi AI.

”Kebetulan saya memilih komite itu karena memiliki kesamaan dengan jurusan saya di kampus yakni Teknik Informatika,” ungkap dia.

Tugas Lenka bukan perkara mudah. Di tengah kekhawatiran dunia terhadap dampak AI seperti deep fake dan penyalahgunaan teknologi, dia justru harus tampil membela posisi yang kontra terhadap regulasi.

”Saya berusaha sebisa mungkin membela partai secara vokal dan mempertahankan argumen,” tegas Lenka.

Performa itu membuahkan hasil. Lenka berhasil membawa pulang penghargaan Verbal Commendation.

Baca Juga: Sediakan Tempat Perisirahatan Gratis, Pemuda Tumpang Malang Ini Menampung 10.000 Lebih Pendaki Lokal dan Mancanegara

Sementara itu, Nisriina berada di Komite North Atlantic Treaty Organization (NATO). Dia membahas isu keamanan kawasan Eropa dan Atlantik di tengah perubahan iklim global. Mencairnya es di Artik maupun Antartika dinilai dapat membuka jalur baru bagi kapal-kapal Rusia dan Tiongkok yang berpotensi memicu ancaman keamanan.

Karena itu, delegasi diminta merumuskan regulasi dan langkah strategis yang komprehensif. Di tengah persaingan ketat, Nisriina justru tampil menonjol. Kemampuannya menyusun argumentasi dan mempertahankan posisi membuatnya keluar sebagai Best Delegate atau delegasi terbaik.

Prestasi keduanya tidak lahir secara instan. Sebelum berangkat ke Belanda, mereka lebih dulu mengikuti seleksi ketat bersama 58 penerima beasiswa Djarum Foundation lain pada Oktober 2025. Dari proses itu, hanya sepuluh mahasiswa yang terpilih menjadi delegasi Indonesia.

Baca Juga: 1.502 Siswa Kota Malang Dipastikan Lolos SNBT

Setelah lolos, perjuangan berikutnya dimulai. Mereka harus bolak-balik Malang–Jakarta demi menjalani pembekalan dan latihan intensif sejak pertengahan November 2025. Waktu istirahat pun banyak dikorbankan.

”Saya sendiri harus pintar-pintar membagi waktu karena EuroMUN 2026 berlangsung di tengah-tengah tugas akhir,” ungkap Lenka.

Dia beberapa kali harus mengganti jadwal bimbingan hingga menjalani kuis susulan demi menyesuaikan agenda persiapan MUN. Namun, semua pengorbanan itu tidak disesalinya. Sebab, EuroMUN menjadi pengalaman pertama sekaligus terakhirnya selama menjadi mahasiswa.

Hal serupa dirasakan Nisriina. Meski sudah berpengalaman mengikuti MUN, dia tetap melakukan riset mendalam untuk memahami isu dan mekanisme sidang.

“Namun yang dipelajari untuk MUN kan konteksnya luas. Persiapan seperti riset tetap harus dilakukan. Terkadang saya juga membantu teman-teman lain untuk mengerti mekanisme MUN,” terang Nisriina.

Baca Juga: Jamu ala Teh Celup Buatan Pasutri Asal Kedungkandang Malang Ini Tembus Ribuan Produksi Per Bulan

Rasa gugup sempat muncul ketika mengetahui dua kompetitornya merupakan juara EuroMUN 2025. Tetapi tekanan itu justru menjadi pemicu untuk tampil maksimal.

Setelah seluruh rangkaian forum selesai, penghargaan yang diterima Nisriina terasa begitu emosional. Tiga tahun lalu, dia pernah pulang dari Belanda dengan predikat Verbal Commendation. Kini, di forum internasional yang sama, dia berhasil naik tingkat menjadi Best Delegate.

”Tapi saat itu saya mendapat penghargaan Verbal Commandation. Ternyata saat kembali lagi ke sini, saya mendapat penghargaan lain. Apalagi ini MUN terakhir, sehingga menjadi kesempatan menorehkan kesempatan terbaik,” pungkasnya. (*/adn)

 

Editor : Aditya Novrian
#EuroMUN #Nisriina #Lenka #mahasiswa #prestasi