Sudah 31 tahun Prof Dr Agr Sc Hagus Tarno SP MP mengabdikan diri untuk meneliti serangga. Rutinitas mengumpulkan sampel membawanya menyusuri hutan-hutan di berbagai penjuru Asia. Dari batang ke batang pohon, dari ranting ke ranting, Tarno menemukan beragam kumbang, termasuk spesies baru yang sebelumnya belum pernah dikenali dunia.
NAHDIATUL AFFANDIAH
BAGI Hagus Tarno, akhir pekan bukan sekadar waktu untuk beristirahat. Hari-hari itu justru menjadi kesempatan menyelesaikan ratusan proyek penelitian tentang serangga. Kadang ia tenggelam di ruang kerja rumahnya, laboratorium, atau kampus tempatnya mengajar di Universitas Brawijaya (UB). Berjam-jam waktunya dihabiskan menatap tubuh-tubuh mungil kumbang, mengamati setiap detail morfologinya demi memastikan spesies dan jenisnya.
Namun ruang laboratorium bukan satu-satunya tempatnya bekerja. Pada waktu-waktu tertentu, Tarno menghabiskan tiga hari hingga sepekan untuk menjelajahi hutan-hutan Asia Timur dan Asia Tenggara. Bersama rekan peneliti, dosen, maupun mahasiswa, ia berburu sampel serangga yang kelak menjadi bahan penelitian.
Perjalanan itu membuahkan hasil penting. Pada 2024, Tarno mengikuti Bark and Ambrosia Beetles Academy yang diselenggarakan University of Florida bekerja sama dengan UB. Dari forum ilmiah tersebut, tim gabungan peneliti yang dipimpinnya berhasil mengidentifikasi empat spesies kumbang baru.
”Salah satu kumbang hasil penelitian kami beri nama Amasa Brawijaya. Merujuk pada nama kampus kami, UB,” tutur Tarno.
”Sekaligus warisan sejarah Kerajaan Majapahit," tambahnya.
Penelitian tersebut dilakukan bersama peneliti dari University of Florida, Michigan State University, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Meski sampel keempat spesies baru berasal dari hutan yang berbeda, ternyata seluruhnya juga ditemukan di kawasan UB Forest, Karangploso.
Temuan penting di bidang biodiversitas hutan tropis itu kemudian dipublikasikan dalam Journal of the Coleopterists Bulletin. Artikel tersebut dia beri judul ”Checklist of the Bark and Ambrosia Beetle Species (Coleoptera, Curculionidae, Platypodinae, and Scolytinae) Collected at the Universitas Brawijaya Forest Properties, East Java, Indonesia with Descriptions of New Species”. Empat spesies baru tersebut diberi nama crossotarsus gunungapi, cosmoderes Arjuno, Cosmoderes opacus, dan Amasa Brawijaya.
Bagi Tarno, penemuan itu bukanlah garis akhir. Di ruang koleksinya masih tersimpan ratusan sampel yang menunggu diteliti. Tahun ini saja, sedikitnya ada delapan spesimen kumbang yang belum berhasil diidentifikasi. Peluang menemukan spesies baru pun masih terbuka lebar.
Guru Besar Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan UB itu memang bukan nama baru di dunia entomologi. Ketertarikannya pada serangga berawal sejak 1995. Meski kemudian juga mendalami nematoda atau cacing mikroskopis, kecintaannya pada dunia serangga tak pernah surut.
Semuanya bermula dari kampung halamannya di Dusun Tegaron, Kepanjen, Kabupaten Malang. Sebagai anak petani, Tarno kecil kerap menyaksikan tanaman di ladang orang tuanya tiba-tiba layu, bahkan mati tanpa diketahui penyebabnya. Rasa ingin tahu itulah yang perlahan menuntun dia menekuni ilmu hama dan penyakit tumbuhan.
Saat menjadi dosen muda UB pada 2002, Tarno memusatkan penelitiannya pada nematologi. Ketika melanjutkan studi doktor di Kyoto University, Jepang, niatnya masih sama. Namun arah penelitiannya berubah ketika dosen pembimbing meminta dirinya mengkaji penyakit layu pohon oak Jepang yang ternyata berkaitan erat dengan keberadaan serangga.
Sejak saat itu, Tarno kembali mendalami kumbang ambrosia dan kumbang kulit kayu (bark beetle). Meski berukuran kecil, kelompok serangga ini memegang peran penting dalam ekosistem hutan sekaligus penyebaran penyakit tanaman. Kumbang ambrosia memiliki perilaku unik. Mulai menggali terowongan di batang pohon, membawa jamur tertentu pada tubuhnya, membudidayakan jamur tersebut di dalam kayu, lalu menjadikannya sebagai sumber makanan.
Keahlian Tarno di bidang ini tergolong langka di Indonesia. Tak mengherankan jika berbagai publikasi ilmiahnya menjadi rujukan peneliti internasional. Dalam lima tahun terakhir saja, ia telah menghasilkan puluhan publikasi bereputasi yang mengulas keanekaragaman kumbang ambrosia di Indonesia, pola penyebarannya di hutan tropis dan perkebunan, hingga perilaku unik serangga tersebut.
Kini jejaring risetnya telah melintasi banyak negara. Mulai Jepang, Amerika Serikat, China, Taiwan, Prancis, hingga sejumlah negara di Eropa. Tak jarang, spesimen yang ditemukannya dikirim ke laboratorium di luar negeri untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Di balik berbagai pencapaiannya, Tarno tak ingin ilmu itu berhenti pada dirinya sendiri. Ia aktif melibatkan mahasiswa dalam setiap penelitian dan mendorong mereka membangun jejaring akademik sejak dini.
Baginya, ilmu pengetahuan akan berkembang ketika dibagikan kepada lebih banyak orang. Oleh karena itu, ia kerap mengirim mahasiswa untuk penelitian di mancanegara agar mereka merasakan langsung pengalaman berburu serangga di habitat aslinya sekaligus belajar dari para peneliti dunia. (*/dan)
Editor : Mahmudan