BATU, RADAR MALANG – Faiq Muhammad Alkatiri mendadak menjadi sorotan publik setelah konten dakwah yang diunggah melalui akun Instagram @bangfaiq_batu viral dan ditonton jutaan kali. Meski kini dibanjiri pengikut baru dan berbagai tawaran kerja sama, pria asal Kota Batu itu memilih tetap menjalani rutinitas sebagai pedagang kambing sekaligus konsisten berdakwah di media sosial.
Popularitas yang datang dalam waktu singkat tidak mengubah kesehariannya. Setiap pagi hingga sore, Faiq masih menghabiskan waktu di kandang transit kambing miliknya di Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, tempat ia mengelola usaha keluarga yang telah dijalankan selama bertahun-tahun.
Viral di Instagram, Akun Baru Langsung Dibanjiri Pengikut
Nama Faiq mulai ramai diperbincangkan setelah video pertamanya di Instagram menyebar luas di berbagai media sosial. Hingga Selasa (21/7), akun @bangfaiq_batu terus menerima pengikut baru dengan jumlah yang meningkat dalam waktu singkat.
Faiq mengaku tidak pernah membayangkan respons publik akan sebesar itu. Padahal, akun Instagram tersebut baru dibuat beberapa hari sebelum videonya viral.
Baca Juga: Dari Gubuk Galejo, DZ Sandyarto Menghidupkan Kembali Rinding Malang
"Akunnya baru dibuat Jumat lalu, tapi dalam hitungan jam followers sudah 30 ribu. Jujur saya kaget banget dan tidak menyangka sama sekali," ujarnya.
Video yang viral itu juga memancing rasa penasaran warganet terhadap penampilannya yang khas. Rambut gondrong sebahu, jenggot lebat, dan gamis yang selalu dikenakan membuat banyak orang langsung mengenali sosoknya.
"Setiap hari penampilan saya memang seperti ini," katanya sambil tersenyum.
Kandang Kambing Bukan Konten, tetapi Tempat Bekerja Sehari-hari
Di balik video yang viral, kandang kambing yang kerap muncul dalam setiap unggahan ternyata bukan sekadar latar untuk membuat konten.
Tempat tersebut merupakan lokasi usaha yang setiap hari menjadi pusat aktivitas Faiq. Sejak 2015, ia meneruskan usaha jual beli kambing yang sebelumnya dirintis oleh almarhum ayahnya.
Setiap hari, Faiq membeli kambing dari pasar untuk ditampung sementara sebelum dijual kembali dalam kondisi hidup maupun dipotong sesuai permintaan pelanggan.
"Saya biasa beli kambing dari pasar, lalu ditampung sebentar di sini. Kalau ada yang pesan, bisa dipotong atau dibeli hidup," jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa penampilannya bukan dibuat demi kebutuhan konten media sosial. Rambut panjang dan jenggot lebat telah dipertahankan sejak 2006 sebagai bagian dari ikhtiarnya menjalankan sunah dan meneladani penampilan Rasulullah SAW.
Dakwah Dikemas Lebih Dekat dengan Anak Muda
Faiq mengatakan, tujuan utama membuat akun media sosial bukan untuk mengejar popularitas. Ia justru ingin memanfaatkan platform digital sebagai sarana menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada generasi muda.
Menurutnya, dakwah di media sosial perlu dikemas dengan pendekatan yang lebih relevan agar mudah diterima oleh pengguna internet, khususnya kalangan muda.
"Kalau terlalu lempeng atau lurus-lurus saja, kadang kurang dilirik. Jadi saya coba kemas sedemikian rupa agar ada daya tariknya," tuturnya.
Baginya, media sosial merupakan ruang yang efektif untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan selama isi kontennya tetap memberikan manfaat bagi masyarakat.
Viral Belum Berdampak pada Penjualan Kambing
Meski popularitasnya meningkat pesat, Faiq mengaku hal tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap usaha yang dijalankannya.
Sebagian besar pesan yang masuk melalui media sosial justru berisi sapaan, pertanyaan acak, ajakan berkenalan, hingga tawaran endorsement berbagai produk.
"Kalau pesan yang masuk kebanyakan tanya random, bukan tanya kambing," ungkapnya.
Ia mengatakan, pembeli yang datang hingga kini masih didominasi pelanggan lama dan warga sekitar. Aktivitas jual beli kambing berjalan seperti biasa tanpa lonjakan permintaan.
"Kalau penjualan kambing biasa saja, tidak ada peningkatan yang signifikan. Transaksi berjalan standar seperti sebelum-sebelumnya," katanya.
Ingin Menjaga Keseimbangan Berdagang dan Berdakwah
Bagi Faiq, viral hanyalah fase yang bisa datang dan pergi. Yang jauh lebih penting adalah menjaga konsistensi dalam menjalankan usaha keluarga sekaligus terus menyebarkan pesan-pesan kebaikan melalui media sosial.
Ia berharap dua aktivitas tersebut dapat terus berjalan beriringan dan memberikan manfaat bagi orang lain.
"Insya Allah akan terus dijalankan secara seimbang, baik rutinitas jualan kambing maupun berdakwah di media sosial. Semoga bisa terus istikamah," pungkasnya.
Editor : Aditya Novrian