ANGGRI Sartika Wiguna punya andil besar dalam memasarkan kopi milik petani di Malang selatan. Keberhasilan Tika mengantarkan kopi Kabupaten Malang go international tersebut berawal dari ketidaksengajaan.
Mulanya, dia ingin menciptakan teknologi dalam bidang pertanian. Pada 2019 lalu, Tika berambisi menciptakan teknologi infinity farming. Berbekal latar belakang pendidikan di jurusan Teknik Elektro Universitas Brawijaya (UB), dia mulai menjalankan rencananya. Dia dibantu teman-temannya yang punya keahlian di bidang programing.
Teknologi infinity farming memungkinkan petani untuk mengontrol hasil pertaniannya. Termasuk memetakan lahan-lahan potensialnya. Selain itu, infinity farming juga bisa memprediksi hasil panen. Dengan begitu, ancaman gagal panen bisa ditekan.
Proyek itu dijalankan di perkebunan kopi di Kabupaten Malang. Setahun berjalan, Tika menyadari bahwa alatnya tidak menjawab permasalahan petani. “Ternyata petani belum butuh itu (teknologi infinity farming),” ucapnya.
Dari hasil observasi lapangan, dia tahu bahwa selama ini petani masih berkutat pada masalah pemasaran. Mereka bingung memasarkan kopinya yang baru dipanen. Karena itu, dia beralih dari digital teknologi produksi pertanian menjadi digital marketing. ”Pemasaran lah yang paling dominan, bukan lagi programing,” tambah CEO Agronesian itu.
Pada 2020 lalu, Tika memulai memetakan potensi hasil perkebunan kopi di dua desa di Kabupaten Malang. Yakni Desa Baturetno, Kecataman Dampit dan Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo.
Baru mulai, pandemi covid-19 melanda Indonesia, bahkan dunia. Petani kopi pun terkena dampaknya. Kopi hasil dipanen tak bisa dijual karena masyarakat dilarang keluar rumah. Tapi
Tika bisa mengambil jalan pintas untuk memasarkan kopi-kopi itu ke mancanegara. Perempuan asli Arema itu memanfaatkan media sosial (medsos) untuk memasarkan kopi.
Saat itu, dia langsung membidik negara-negara Timur Tengah. Dia mengirim penawaran melalui email ke perusahaan-perusahaan besar. Terutama 10 perusahaan teratas versi google. Penawarannya mendapat respons positif dari salah satu perusahaan di Dubai. ”Kami menerima permintaan satu kontainer kopi. Nilai jualnya pun fantastis. Yakni sebesar Rp 1,2 miliar,” terangnya.
Dalam memasarkan produk, Tika mengedepankan keterbukaan. Itulah yang membuat dia dipercaya oleh buyer. “Saat itu, saya diberi uang muka Rp 800 juta,” ungkapnya. Tika juga tidak pernah nunggak pembayaran ke petani, sehingga dia tidak kesulitan pasokan meski ada permintaan tinggi dari mancanegara.
Dari pola bisnis dengan menerapkan pola keterbukaan itu akhirnya Tika mendapat kepercayaan lebih dari buyer. Pesanan terus mengalir dan jumlahnya meningkat. “Sekarang ekspor rutin 4-5 kontainer per bulan,” ucapnya.
Setiap kontainer nilai ekspornya USD 27.000 atau setara Rp 430 juta. Selain mengekspor, dia juga melayani penjualan dalam negeri. Namun harus dalam jumlah besar. Minimal sama dengan ketentuan ekspor, yakni 7 ton atau satu kontainer.
Saat ini sudah ada 1.200 petani yang menjadi mitra Tika. “Ada 800 petani kopi. Sisanya 400 orang adalah petani rempah,” ungkapnya.
Seiring tingginya permintaan buyer, dia juga menawarkan rempah-rempah dari Kota Batu dan Poncokusumo, Kabupaten Malang.
Dalam satu kali ekspor, setidaknya ada 46 orang yang dia pekerjaan. Di antaranya untuk bagian cuci, produksi, dan packaging butuh 35 personel dan 11 orang untuk loading dan anloading. Di antara negara dipasok kopi oleh Tika adalah beberapa negara di Uni Emirate Arab, Kanada, Singapore, dan Malaysia.
Itu membuatnya mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan ECS (Ekspor Center Surabaya) Kementerian Perdagangan (Kemendag) 2022. Dia juga mendapatkan kesempatan dalam program Export Coaching Program (ECP) Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP) Kemendag 2022. Minggu lalu, perempuan yang berdomisili di Sawojajar itu tanda tangan kontrak senilai Rp 25,7 miliar dari buyer di Jakarta. “Total kontrak sekitar ada 60 kontainer,” tutupnya. (dre/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana