Namun,di antara kuliner di jalan itu menu soto lah yang direkomendasikan saat kita buka pencarian di Google. Soto yang dimaksud adalah Soto Ayam Lamongan Soetomo milik Zainuri, owner sekaligus peracik resepnya.
Pria asli Lamongan yang mulai berjualan di Kota Malang sejak 2011 mengaku meracik sendiri resepnya dari hasil “riset” kecil-kecilan sebelum memilih lokasi jualan.
Hasil racikannya itulah yang menjadikan para pelanggannya, yang rata-rata pegawai kantoran dan juga banyak ojek online makanan, ketagihan untuk datang lagi menikmati pilihan menu yang ditawarkan.
Menurut Zainuri, ada macam-macam menu yang ditawarkan. Mulai dari soto biasa, istimewa rempela ati, hingga spesial request telur muda ayam kampung.
“Soto biasa, harganya Rp 12 ribu per mangkuk, kalau yang istimewa Rp 15 ribu per porsi,” terang Zainuri saat ditemui Jawa Pos Radar Malang, belum lama ini.
Dari pengamatan Jawa Pos Radar Malang, yang membuat khas Soto Ayam Lamongan Soetomo ini adalah kuahnya tidak begitu kental seperti soto lainnya. Kalau diperhatikan lebih detail, suwiran daging ayamnya banyak, termasuk sayurnya. Nah, saat koya diaduk ke dalam soto, ada rasa yang berbeda dengan soto lainnya.
”Saya menyesuaikan jualan bukan cuma lokasi. Rasa soto saya sesuaikan dengan maunya masyarakat di kota saya jualan,” kata dia.
Tapi, awal mula berjualan, Zainuri tidak langsung mendapat tempat seperti saat ini. Waktu itu, pada 2011-an dia menggunakan gerobak dan nunut 1 lokasi dengan penjual gado-gado. Hingga akhirnya dia diminta berdagang di lokasi milik kawannya yang tak jauh dari lokasi lama.
Dibantu adiknya nomor dua, Zainuri selalu melayani sekitar 600-an mangkuk setiap harinya. ”Namun selama Covid-19 ini, ya turun 50 persenan,” kata pria kelahiran 1980 ini.
Dia juga pernah melayani acara mantenan dengan porsi mangkuk mencapai 10 ribu. ”Kalau sebelum Covid-19, sebulan nerima pesanan bisa 5 kali. Kadang satu kali pesanan 300 mangkuk,” jelas dia.
Pewarta: Sandra Desi C
Foto: Darmono
Editor: Hendarmono Al S Editor : Editor : Hendarmono Al S.