----
Semerbak kuah kaldu langsung tercium saat wartawan koran ini mengunjungi kedai Bakso Kerikil Cak Alimin. Kedai berukuran sekitar 4X4 meter di Jalan Tumapel Barat, Pagentan, Singosari ini terbilang tidak pernah sepi. Pembelinya terus datang silih berganti. Terkadang makan di tempat, namun juga ada yang membungkus untuk disantap di rumah.
Penampakan Bakso Kerikil Cak Alimin terbilang unik. Kalau umumnya bakso dibuat dengan ukuran sedang atau besar, pentol bakso di tempat tersebut mirip batu kerikil di sungai. Satu porsi bakso kerikil terdiri dari mie soun, cincangan daun seledri dan bawang goreng dan pastinya pentol kerikil. Namun, pelanggan juga bisa menambahkan pendamping lain seperti tahu putih atau tahu goreng.
Nah, untuk cita rasa, Bakso Kerikil Alimin terbilang nagih. Kuahnya cenderung bening dengan kaldu sapi yang cukup kuat. Meskipun ukurannya kecil, bakso tersebut 100 persen terbuat dari daging sapi. Alhasil, aromanya sangat menggoda.
Saat masuk di mulut teksturnya terasa padat, tapi tetap empuk. Owner Bakso Kerikil Muslikah, ada proses yang cukup panjang sebelum baskso buatannya bisa dinikmati pelanggan. Salah satu yang paling penting yakni pemilihan bahan. Ibu dua anak itu hanya menggunakan daging sapi yang super dan harus benar-benar fresh.
"Apabila dagingnya kemarin (tidak fresh) rasanya akan beda. Jadi, usai dipotong itu langsung harus diselep," kata perempuan 43 tahun itu. Baru kemudian adonan tersebut dibumbui dan diolah menjadi bakso. Karena dagingnya bagus, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk proses memasak, yakni hanya sekitar 2 jam saja.
Sedangkan untuk membuat kaldunya, Muslikah mengaku menggunakan bagian sapi sengkel yang direbus dalam suhu sedang. Sengkel merupakan bagian depan atas dari kaki sapi. "Setelah itu kami olah dengan bumbu sederhana tanpa campuran aneh-aneh untuk hasilnya kaldu yang bercita rasa natural dan juga nendang," paparnya. Hal itu membuat kuah dari Bakso Kerikil Alimin sangat tercium kaldunya.
Untuk menikmati semangkuk Bakso Kerikil Alimin juga tidak perlu menguras kantong dalam-dalam. Pembeli hanya perlu membayar Rp 6 ribu saja untuk menyantap seporsi kudapan berkuah itu. Tapi, pelanggan bebas request semisal ingin membeli lebih dari nilai tersebut.
Lebih lanjut, menurut Muslikah, bakso kerikilnya muncul lantaran sebuah inovasi dan ingin berbeda. "Adanya bakso kerikil ini lantaran kami ingin hadirkan varian berbeda dari bakso pada umumnya," katanya. Maklum, di Malang memang banyak sekali penjual bakso. Alhasil, bisa dibilang menjadi bagian dari strategi usaha.
Meski bentuknya kecil, namun menyantap bakso kerikil tetap bisa membuat perut kenyang. Bakso Kerikil Alimin, disebut Muslikah sudah ada sejak 35 tahun lalu. "Awalnya dulu itu pakai gerobak dorong dan berjualan berkeliling," katanya. Setelah itu menetap, lalu selanjutnya membuka ruko seperti saat ini. Terus berkembang dinilainya merupakan hasil dari konsistensi.
Di mana, dia mengaku selalu menjaga cita rasa. "Saya berusaha agar rasanya tidak berubah. Sebab, apabila sampai beda pengunjung bisa kurang nyaman," katanya. Jadi, sejak awal berjualan sampai saat ini dia tidak pernah mengurangi bumbu. Bahan-bahan yang digunakan juga tidak pernah diganti.
Namun dalam situasi pandemi seperti sekarang, Muslikah mengaku kondisi tersebut cukup berpengaruh terhadap penjualannya. Kedai bakso miliknya mengalami penurunan omzet yang signifikan.
"Penurunan omzetnya sampai 40 persen. Angka itu menjadi terbesar selama saya berjualan," kata wanita ramah itu. Berkat hal tersebut, dia juga terpaksa harus berjualan lebih lama. Sebab, ketika pandemi, daya jual tempatnya terbilang lambat. Khususnya beberapa bulan belakangan saat kebijakan PPKM diterapkan.
Kondisi tersebut bahkan membuatnya menghentikan sementara operasional satu cabang bakso dan tiga gerobak dorongnya karena sepi pembeli. Sebab jika dipaksa berjualan, antara penjualan dan pemasukan tidak sebanding. Maka jalan satu-satunya adalah menutup sementara cabang.
Meski sedang mengalami kondisi kurang baik, Muslikah menolak untuk menyerah. Menurutnya, bisnis kuliner yang sudah dia jalankan bertahun-tahun itu harus tetap ada. "InsyaAllah apabila tetap percaya dan terus berdoa pasti ada jalan dari kondisi ini," ungkapnya. (gp/mas/rmc/iik) Editor : Farik Fajarwati