RADAR MALANG - Teh yang diracik secara khusus bisa memberikan sensasi yang sangat beragam.
Ada yang terasa seperti kopi, ada pula yang memberikan rasa hangat rempah-rempah khas Indonesia.
Teh yang sengaja difermentasi selama lebih dari 10 tahun pun bisa menghasilkan nuansa yang memanjakan indra perasa.
Aroma wangi khas teh menyeruak ketika memasuki ruangan kafe Pop Mason 52 di Jalan Arif Munandar, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Deretan kotak berisi ragam jenis teh tampak berjajar di meja kayu sepanjang tiga meter. Lengkap dengan meja khusus untuk menyeduh teh.
Plus berbagai peralatan seperti teapot dan gelas-gelas kecil untuk meminum teh.
Ketika master tea menuangkan air panas ke teapot berisi racikan teh, wangi minuman itu semakin kuat memenuhi ruangan.
Kemudian air dari dalam teapot dituangkan ke beberapa cup kecil dengan hati-hati.
”Yang ini namanya tea guan yin. Rasanya seperti kopi,” ujar Master Tea Joko Restiawan sembari menyodorkan cup ke Jawa Pos Radar Malang kemarin (6/10).
Meminum teh guan yin memiliki rasa khas seperti kopi robusta.
Ada rasa pahit tercampur manis dengan warna sedikit cokelat pekat.
Menurut Joko, teh jenis itu memang cocok bagi para pencinta kopi. Meskipun masih banyak jenis varian teh lain yang jarang ditemukan di sembarang tempat.
Di Pop Mason 52 ada sekitar 77 jenis teh dari berbagai belahan dunia.
Tapi, mayoritas mereka racik sendiri dari hasil eksperimen mencampurkan berbagai jenis teh, bunga, dan buah.
Beberapa teh di antaranya langsung didatangkan dari Jepang, China, dan Taiwan.
Ketika ada tamu yang datang, mereka akan menanyakan jenis teh yang disuka.
Tak jarang juga bertanya tentang kondisi mood pelanggan saat itu. Barangkali ada beberapa jenis teh yang bisa merelaksasi tamu.
”Bisa di bilang, minum teh bisa menjadi salah satu stress release,” lanjutnya.
Misalnya teh yang sengaja di campur dengan rempah rempah untuk menghasilkan sensasi unik. Namanya Konings Tea.
Merupakan campuran teh hitam, cengkih, kayu manis, kapulaga, jahe, dan jinten.
Saat diminum, sensasi yang muncul adalah rasa hangat sekaligus merelaksasi tubuh menjadi semakin lega.
Beberapa varian teh bahkan sengaja difermentasi dalam kurun waktu bertahun-tahun.
Misalnya, varian Aged Phu Erl yang disimpan hingga lebih dari 10 tahun.
Varian itu menyuguhkan sensasi meminum teh dengan mengeluarkan after taste aroma tanah basah.
Untuk 15 gram Aged Phu Erl 10 years dibanderol dengan harga Rp 65 ribu.
Sedangkan Aged Phu Erl 12 years seberat 350 gram di banderol dengan harga Rp 1,2 juta.
“Kalau semakin lama rasanya semakin unik dan semakin mahal,” kata pria asal Pekalongan itu.
Namun, sejauh ini teh dengan campuran buah masih menjadi favorit kalangan muda yang berkunjung ke kafe.
Aroma teh yang tidak begitu kuat dicampur rasa buah menawarkan sensasi yang unik.
Sebagai contoh, Blissful Berries Tea yang mencampurkan teh merah, aneka buah berry dan bunga mawar.
“Kalau itu rasanya manis ada cenderung ke asam. Terus ada hint wangi dari bunga mawar,” ujar Joko.
Tak jarang beberapa turis mancanegara mampir untuk mencicipi teh di Pop Mason 52.
Mereka lebih suka teh yang identik dengan nuansa Indonesia. Seperti teh dengan campuran berbagai rempah.
“Bahkan kami juga punya langganan bule dari Amerika yang sering mampir ke sini,” cerita dia.
Bukan hanya menjadi minuman, teh ternyata bisa dikreasikan menjadi makanan unik.
Misalnya olahan siomay dengan potongan teh oolong. Atau chicken wings yang di balut dengan teh merah.
“Based kuah kami dari teh sekaligus daun nya juga bisa dimakan sebagai topping,” kata pria kelahiran 1994 itu.
Hampir setahun belakangan hadir di Kota Malang, animo pengunjung yang menikmati teh datang dari berbagai macam kalangan.
Ada orang lokal Malang yang ingin belajar teh sekaligus belanja sendiri, pembeli dari luar kota, juga wisatawan mancanegara. (ori/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana