SABTU (23/11), sekitar pukul 03.00 WIB, Suli Gazatri baru bisa menerima panggilan telepon dari wartawan Jawa Pos Radar Malang.
Saat itu dia baru saja selesai menggelar workshop membatik di Ubbo Mall, Lisbon, Portugal.
Waktu di sana masih menunjukkan pukul 20.00.
Perempuan berusia 55 tahun itu sedang menjadi salah satu perwakilan dalam Festival Kopi Indonesia yang digelar Oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Lisbon, Portugal.
Festival yang berlangsung sejak 4 November hingga 2 Desember 2024 tersebut juga diikuti negara lain, seperti Spanyol.
Namun, Indonesia paling mendominasi dengan menghadirkan sekitar 10 perwakilan.
Tugas utama Suli pada festival itu adalah mempromosikan kopi-kopi dari Indonesia.
Tapi, untuk lebih menarik pengunjung, dia juga membuka workshop membatik.
Workshop tersebut bebas diikuti oleh seluruh pengunjung Ubbo Mall.
Yang diajarkan bukan sembarang membatik.
Melainkan membuat motif batik tentang kopi.
Bagi Suli, kopi Indonesia memiliki kualitas yang bisa bersaing dengan produk produk dari negara lain.
Yang masih jadi kendala, sebagian besar petani belum memasarkan kopi hingga ke pasar internasional.
Karena itulah dia bergabung dengan PT SAE International dan mendampingi beberapa petani di berbagai kota di Indonesia untuk melakukan ekspor sejak 2020.
Beberapa kopi asal Indonesia sudah banyak yang diekspor oleh Suli.
Seperti Kopi dari Bali, Malang, Banyuwangi, dan Bondowoso.
”Paling banyak kopi dari Bali yang memenuhi kuota pengiriman,” tutur perempuan lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut.
Setiap tahun pihaknya mengirimkan sekitar dua kontainer kopi dari Indonesia ke Slovakia.
Tantangan terbesar sebelum menentukan jumlah pengiriman adalah meyakinkan buyer bahwa produkproduknya berkualitas.
Juga memiliki cita rasa yang disukai penggemar kopi di Eropa.
Untuk itu, memahami situasi di negara lain menjadi salah satu faktor penting yang perlu dikuasai.
“Yang terpenting, buyer harus memiliki gudang di negaranya. Atau kita yang punya gudang,” ungkap Perempuan yang juga lulusan Prodi Ekonomi Universitas Negeri Malang (UM) tersebut.
Ada juga alternatif lain, yakni mengandalkan relasi di negaranegara tujuan ekspor yang memiliki gudang.
Seperti saat menjalankan tugas di Portugal kali ini.
Misi Suli adalah mendapat relasi sebanyakbanyaknya.
Namun ada tantangan lain, yakni daya beli masyarakat Portugal tidak sebesar negara negara Eropa uang lain.
Di sisi lain, kebutuhan kopi di negara yang berada di Eropa Selatan tersebut cukup tinggi.
Bahkan banyak juga dijumpai kopi asal Indonesia yang dijual di negara tersebut.
Tapi pemasoknya dari Belanda.
Artinya, Belanda yang melakukan Impor dari Indonesia.
Suli sudah menawarkan berbagai cara untuk ekspor langsung dari Indonesia ke Portugal.
Salah satunya dengan cara cargo, atau menumpang kontainer yang ke Slovakia.
”Saya juga mencoba menawarkan pengiriman tidak menggunakan kontainer. Tapi memanfaatkan jasa perusahaan ekspedisi,” imbuhnya.
Tidak hanya di Ubbo Mall, pameran juga akan digelar di Kota Porto, Portugal, pada 28 November mendatang.
Selama menggelar workshop batik, Suli juga sudah mulai membaca peluang.
Misalnya, kebanyakan masyarakat di Porto sudah mengenal batik, tapi belum tahu cara membuatnya.
Dia pun mulai menjajaki kerja sama dengan salah satu galeri di sana untuk menggelar workshop yang lebih besar.
Suli juga sudah mengetahui bahwa jiwa seni masyarakat Portugal lebih kuat.
Karena itu, pengetahuan tentang cara membatik akan menarik minat masyarakat di sana.
”Jadi, selain mengenalkan kopi dari Nusantara, saya juga terus mempromosikan batik khas Indonesia,” terangnya.
Suli mengaku tidak pernah berhenti belajar dan mencari pengalaman baru.
Sebelum menekuni bidang ekspor, dia sempat menjadi pegiat wisata di Bali dan pengusaha craft.
Desember mendatang dia juga akan mengikuti festival serupa di Singapura.
“Semua ilmu pengetahuan memiliki korelasi masing masing. Tergantung bagaimana kita berusaha belajar,” pungkasnya. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana