RADAR MALANG - Di tengah gelombang solidaritas global bagi Palestina, muncul istilah yang mulai ramai diperbincangkan: Palestine Washing.
Kata ini mengundang pertanyaan, apakah setiap bentuk dukungan benar-benar lahir dari empati, atau sekadar manuver pencitraan?
Apa Itu Palestine Washing?
Palestine Washing merujuk pada upaya mendompleng isu Palestina demi keuntungan citra atau bisnis.
Baca Juga: Inggris, Prancis, dan Arab Saudi Gelar Diskusi Soal Pengakuan Negara Palestina
Fenomena ini menyerupai greenwashing, di mana perusahaan mengklaim ramah lingkungan meski faktanya tidak.
Pelaku Palestine Washing biasanya berpura-pura peduli, misalnya dengan kampanye donasi atau pernyataan dukungan, meski di balik layar mereka memiliki kepentingan yang bertentangan.
Siapa yang Terlibat dan Di Mana Praktiknya Terjadi?
Fenomena ini umumnya dikaitkan dengan korporasi global, selebritas, hingga pemerintah yang memanfaatkan konflik Palestina-Israel sebagai panggung pencitraan.
Baca Juga: YDSF Malang Salurkan 28 Alquran Palestina ke Pemukiman Lereng Gunung Kelud Blitar Utara
Industri makanan, hiburan, hingga politik sering menjadi ruang terjadinya praktik ini.
Misalnya, perusahaan yang terafiliasi dengan kepentingan Israel tiba-tiba menyatakan dukungan terhadap Palestina, atau figur publik menyuarakan solidaritas tanpa konsistensi nyata.
Kapan Istilah Ini Mencuat?
Istilah ini mulai populer sejak konflik Gaza memuncak pada 2023, saat boikot terhadap produk pro-Israel meluas.
Memasuki awal 2024, istilah ini semakin dikenal setelah sejumlah brand besar mendapat kritik atas upaya mereka meredam aksi boikot dengan kampanye kemanusiaan.
Mengapa Palestine Washing Menuai Reaksi Publik?
Karena bagi banyak orang, Palestina bukan sekadar konflik politik, melainkan isu kemanusiaan universal.
Jika solidaritas terhadap Palestina hanya dijadikan alat untuk meraih simpati pasar, esensi perjuangan itu bisa tergeser.
Publik merasa geram melihat empati yang seharusnya murni berubah menjadi strategi pemasaran.
Bagaimana Contohnya dan Apa Respons Masyarakat?
Beberapa merek besar di Indonesia mendadak mengumumkan donasi untuk Gaza, mencoba menunjukkan simpati di tengah derasnya kampanye boikot.
Misalnya, produsen makanan internasional menyumbang miliaran rupiah, namun masyarakat tetap skeptis, mencurigai langkah itu sebagai upaya meredam tekanan boikot.
Baca Juga: Indonesia Siap Buka Hubungan Diplomatik dengan Israel, Syaratnya: Akui Kedaulatan Palestina
Majelis Ulama Indonesia bahkan mengimbau konsumen agar lebih kritis dalam menilai dukungan semu ini.
Akankah Publik Terbuai?
Gerakan boikot telah menggoyang banyak brand global, memaksa mereka mencari cara mempertahankan citra, dan Palestine Washing menjadi salah satu strategi. (sai)
Editor : Aditya Novrian