Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Naik Gunung Makin Diminati Anak Muda, Tapi Jangan Asal Tren Tanpa Persiapan

A. Nugroho • Kamis, 31 Juli 2025 | 00:22 WIB
Pendaki muda saat menapaki jalur menuju puncak. Fenomena naik gunung kini kian tren di kalangan anak muda, namun penting untuk tetap mengutamakan keselamatan dan persiapan matang.
Pendaki muda saat menapaki jalur menuju puncak. Fenomena naik gunung kini kian tren di kalangan anak muda, namun penting untuk tetap mengutamakan keselamatan dan persiapan matang.

 

 

RADAR MALANG – Kegiatan mendaki gunung kini bukan sekadar hobi, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda. Semakin maraknya unggahan media sosial yang memperlihatkan keindahan puncak gunung dan suasana alam nan asri membuat banyak generasi muda tertarik untuk ikut merasakan sensasinya.

Keinginan untuk mencari ketenangan, udara segar, dan suasana yang jauh dari hiruk pikuk kota, menjadi alasan utama pendaki pemula mulai mencoba menaklukkan jalur-jalur pendakian. Tak sedikit dari mereka yang mengaku menjadikan gunung sebagai ruang refleksi sekaligus tempat pelarian dari rutinitas padat.

Namun di balik tren tersebut, muncul kekhawatiran mengenai minimnya pengetahuan para pendaki pemula. Banyak yang terjun langsung ke lapangan tanpa dibekali informasi dasar mengenai medan, risiko, hingga perlengkapan yang seharusnya disiapkan.

Peningkatan minat naik gunung memang tak terlepas dari pengaruh visual yang disebar luas di media sosial. Foto-foto eksotis dari puncak gunung, kabut tipis di pagi hari, hingga momen matahari terbit kerap menjadi magnet tersendiri. Sayangnya, dorongan FOMO (Fear of Missing Out) terkadang membuat seseorang terlalu terburu-buru tanpa persiapan matang.

Perwakilan dari salah satu perusahaan perlengkapan outdoor menyebutkan bahwa tren ini sebenarnya positif selama diiringi dengan pemahaman yang cukup. Pengetahuan tentang kondisi gunung, teknik bertahan hidup di alam, serta kemampuan membaca cuaca menjadi hal yang sangat penting dikuasai, apalagi bagi pendaki pemula.

Belakangan ini, sejumlah insiden yang melibatkan pendaki banyak terjadi. Di antaranya disebabkan karena mereka kurang mengenal medan pendakian atau membawa perlengkapan yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Beberapa kasus menunjukkan bahwa pendaki mengalami kelelahan, hipotermia, bahkan tersesat karena perencanaan yang kurang matang.

Setiap gunung memiliki karakteristik berbeda. Ada yang membutuhkan peralatan mendaki berat seperti carrier, trekking pole, hingga sleeping bag untuk suhu ekstrem. Namun ada pula yang bisa dijajal dengan perlengkapan ringan, tergantung dari jarak tempuh dan lama waktu pendakian.

Selain perlengkapan, fisik dan mental juga harus disiapkan. Mendaki gunung bukan semata tentang gaya hidup, tetapi juga menyangkut keselamatan. Karena itu, penting bagi pemula untuk melakukan riset terlebih dahulu, membaca pengalaman pendaki lain, dan jika perlu, ikut komunitas sebagai sarana belajar dan berbagi informasi.

Hal yang juga perlu diperhatikan adalah etika selama di alam bebas. Pendaki diharapkan tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak vegetasi, serta menjaga ketenangan demi kenyamanan bersama. Semangat mencintai alam harus dibarengi dengan kesadaran untuk menjaganya.

Menikmati alam memang hak setiap orang. Namun, keselamatan dan kesiapan tetap harus menjadi prioritas. Jangan sampai momen liburan atau eksplorasi justru berubah menjadi pengalaman buruk karena kurangnya persiapan.

Mendaki gunung bisa menjadi aktivitas menyenangkan dan penuh makna jika dilakukan dengan persiapan matang. Anak muda perlu memahami bahwa tren boleh diikuti, namun keselamatan tetap nomor satu. (id)

Editor : A. Nugroho
#gunung #pendaki #indonesia