SINGOSARI – Wisata sejarah di Bumi Kanjuruhan masih memikat perhatian wisatawan. Hal itu terlihat dari banyaknya kunjungan di Candi Singosari, Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari. Terhitung Januari hingga pertengahan Agustus lalu, objek wisata tersebut dikunjungi 17.500 wisatawan. Mayoritas pelajar dan mahasiswa.
“Per bulan, kami selalu merekapitulasi data pengunjung. Dari hasil rekapitulasi, rata-rata kunjungan sekarang sekitar 2.500 orang per bulan,” ujar Juru Pelihara Candi Singosari Minarif kemarin.
Mayoritas pengunjung adalah wisatawan lokal. Biasanya mereka mengunjungi candi sembari menempuh study. “Kalau wisatawan mancanegara (wisman) datang ya murni untuk berwisata,” imbuh Arif.
Namun demikian, mereka tidak hanya datang untuk berfoto. Melainkan sekaligus mempelajari sejarah candi. Kebanyakan membawa tour guide sendiri. Tour guide menjelaskan kepada wisatawan terkait sejarah Candi Singosari.
Jika tidak ada tour guide, mereka akan meminta bantuan juru pelihara candi untuk menjelaskan sejarah tersebut. Imbalan pun tidak dipatok harga. Biasanya, mereka memberikan sekitar Rp 50 ribu yang digunakan untuk pemeliharaan sarana pelengkap candi, seperti toilet umum.
Seperti diberitakan, kelestarian lingkungan candi kurang mendapat perhatian. Sebagai contoh, jalan dari pintu masuk yang memiliki panjang 15 meter saja di-paving menggunakan kas candi sekitar Rp 350 ribu. Itu diperoleh dari pengunjung yang memberikan sumbangan. Pembangunannya sekitar 2005 lalu dengan lebar 1,2 meter.
Sedangkan bagian pagar sudah di-tembok menggunakan batako sejak akhir 2023 lalu. Sebelumnya, sejak 1990-an, pagar tersebut masih terbuat dari besi yang dilengkapi kawat duri. “Pengunjung sempat menyampaikan, ini tempat wisata internasional, kenapa pagarnya tidak layak seperti itu? Akhirnya akhir 2023 lalu mendapat jatah perbaikan,” kata dia. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho