RADAR MALANG – Para nenek moyang pendiri negeri meninggalkan jejak sejarah yang masih dilestarikan hingga kini dan seterusnya. Salah satunya, Candi Singasari yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Singasari.
Candi Singasari berada di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Situs tersebut terletak di lembah antara pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna. Dari Kota Malang sendiri jarak tempunya sekitar 10 km.
Dibangun pada akhir abad ke-13, Candi Singasari merupakan simbol kejayaan dan kekuatan politik Singasari, serta menjadi tempat yang mengandung makna religius dan spiritual pada masanya.
Pada Kitab Negarakertagama dan Prasasti Gajah Mada, candi ini merupakan tempat untuk menghormati Raja Singasari yang terakhir, yakni Raja Kertanegara yang mangkat pada tahun 1292 Masehi dalam serangan Raja Jayakatwang dari Kediri.
Sejak ditemukan oleh orang berkebangsaan Belanda, Nicolaus Engelhard pada 1803, Candi Singasari mulai diteliti yang kemudian pada tahun 1819, beberapa arcanya dibawa ke Belanda dan dipajang di museum Leiden.
Candi Singasari termasuk kuil Siwa yang besar dan tinggi layaknya menara.
Cara pembuatannya menggunakan sistem penumpukan batu andesit hingga ketinggian tertentu yang diteruskan dengan mengukir dari atas dan turun ke bawah.
Pada kaki candi, terdapat bilik berisi yoni atau lambang kewanitaan yang biasanya terdapat dalam tubuh candi. Di atas bilik candi dan di atas relung terdapat hiasan kepala Kala.
Di sisi kiri dan kanan bangunan penampil yang ada di depan (barat) terdapat relung tempat arca Nandiswara dan Mahakala.
Di sisi timur terdapat arca Ganesha dan sisi selatan ada Arca Siwa-Guru (Resi Agastya).
Di sekeliling halaman candi juga terdapat banyak arca yang bersifat Siwa dan Buddha.
Candi Singasari memiliki patung raksasa penjaga gerbang, yakni dua arca Dwarapala yang memiliki tinggi 3,7 meter dan lingkar tubuh hingga 3,8 meter.
Selain itu, ukiran relief pada candi ini sebagian besar berbentuk bunga dan binatang. Terdapat pahatan singa yang saling bertolak pandang. Di sisi lain, Muka Kala atau Kirti Murka terukir yang berfungsi sebagai pengusir roh jahat.
Sebagai warga Indonesia yang memiliki kekayaan budaya, menelusuri sejarah yang diciptakan para pendahulu sangat penting dilakukan sebagai upaya pelestarian dan pengalaman yang berkesan.
Penulis: Marsha Nathaniela
Editor : Aditya Novrian