Tujuh tahun setelah gempa Lombok, dr Aulia Dewi Kusumawati SpEM kembali terjun ke lokasi bencana sebagai personel medis. Dia ikut dalam proses pemulihan gempa berkekuatan 7,7 skala richter (SR) yang melanda Myanmar, 28 Maret lalu. Aulia berangkat bersama rekan-rekan dari TCKEMT pada 3 April lalu. - NABILA AMELIA
RADAR MALANG - Pesan di grup WhatsApp (WA) Tenaga Cadangan Kesehatan Emergency Medical Team (TCK-EMT) terus bermunculan sejak Myanmar dilanda gempa pada akhir Maret lalu.
Para tenaga kesehatan mulai memperbincangkan kemungkinan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengirim anggota TCK-EMT ke Myanmar.
Saat Idul Fitri 31 Maret lalu, notifikasi di grup semakin ramai.
Sebab, pihak Kemenkes RI mulai melakukan pendataan.
Seperti jumlah tenaga kesehatan yang siap diberangkatkan, hingga kebutuhan obat-obatan dan alat medis yang akan di bawa ke lokasi gempa.
Baca Juga: Dr dr Syifa Mustika SpPD KGEH FINASIM Luncurkan Buku 172 Halaman Rangkum Tips Puasa Sehat
Salah satu tenaga kesehatan yang ditanya kesiapannya untuk berangkat ke Myanmar adalah dr Aulia Dewi Kusumawati SpEM.
Dia alumnus Program Studi Spesialis Emergency Medicine (EM) Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) tahun 2019.
Tak hanya siap secara fisik, kelengkapan administrasi seperti paspor juga dicek.
Jika siap, tenaga kesehatan harus segera berangkat ke Jakarta untuk berkoordinasi dengan Kemenkes RI maupun personel TCK-EMT yang lain.
Sebelum berangkat, mereka juga ikut membantu mencari kebutuhan selama di Myanmar.
Mencari kebutuhan seperti kain perlak dan obat-obatan lainnya di tengah momen Lebaran.
Meski serba mendadak, TCK-EMT yang berisi tenaga terampil bila mengatasinya.
Di sana ada dokter, dokter spesialis, perawat, tenaga farmasi, tenaga logistik, tenaga administrasi, hingga staf pendukung lainnya.
Mereka direkrut sejak 2021 oleh Kemenkes RI.
Saat itu, Kemenkes membuka lowongan untuk tenaga profesional yang siap dipanggil jika ada kondisi darurat.
Setelah direkrut, mereka dilatih sesuai standar World Health Organization (WHO).
Semula, Indonesia hanya memiliki TCK-EMT tipe satu.
Yakni kelompok yang memberikan perawatan ringan.
Namun saat ini ada tipe dua yang diperbolehkan melakukan operasi.
Baca Juga: Malang 39 Kali Digoyang Gempa, Perhatikan Imbauan BPBD Terutama di Kawasan Rawan Bencana
Sejak dikukuhkan, TCK-EMT sering diterjunkan ke lokasi bencana.
Seperti saat gempa bumi di Turki pada 2023.
Lalu gempa bumi di Kota Port Vila, Vanuatu, pada 2024.
Selain itu, mereka juga ikut membantu korban erupsi Gunung Lewatobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, NTT, tahun 2024.
Untuk gempa Myanmar, Indonesia menerjunkan TCK-EMT tipe satu.
Tim itu diisi 32 personel.
Terdiri dari enam dokter, delapan dokter spesialis, delapan perawat, satu bidan, tiga tenaga farmasi, satu analis laboratorium, satu petugas administrasi, dan empat petugas logistik.
”Pengiriman tim tipe satu pun sudah atas pertimbangan antara pemerintah Indonesia dan Myanmar,” kata Aulia.
Itu disesuaikan dengan penanganan medis yang akan dilakukan selama sekitar satu bulan di negara berjuluk negeri seribu pagoda tersebut.
Pemberangkatan tim berlangsung pada 3 April lalu.
Mereka dilepas Kemenkes RI dan perwakilan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) di Lapangan Udara (Lanud) Halim Perdana Kusuma pada pukul 10.30.
Menyusul tim dari Indonesia Search and Rescue (INASAR) yang sudah terbang lebih dulu ke Myanmar pada 1 April.
Beruntung, keluarga sudah memahami ritme kerja Aulia.
Baca Juga: Dokter Residen Anestesi Unpad Perkosa Anak Pasien di RSHS, Pelaku Langsung Dipecat dan Ditahan!
Bukan sekali ini saja perempuan yang tinggal di Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang itu diterjunkan ke lokasi bencana.
Sejak masih berstatus sebagai mahasiswi kedokteran di Universitas Hasanuddin, Aulia pernah terlibat dalam misi penyelamatan korban tsunami Aceh tahun 2005.
Saat itu, Aulia bisa ikut karena tergabung dalam sebuah organisasi nirlaba.
Karena baru pertama kali terjun ke lokasi bencana, saat itu Aulia harus banyak beradaptasi.
”Saat tsunami di Aceh, saya bantu mencari mayat bersama lembaga masyarakat. Padahal bukan tugas saya,” kenang Aulia.
Sembilan tahun setelah tsunami Aceh, Aulia berangkat ke Kabupaten Kediri untuk membantu korban bencana yang terdampak letusan Gunung Kelud.
Yang terakhir tahun 2018, Aulia bertandang ke Pulau Lombok.
Kala itu, terjadi gempa yang berkekuatan 7 skala richter.
Baik gempa di Aceh, letusan Gunung Kelud, maupun gempa di Pulau Lombok sama-sama menyebabkan kerusakan besar hingga korban jiwa.
Perjalanan Aulia yang terbaru menuju Myanmar ditempuh dalam empat jam.
Rombongan akhirnya menginjakkan kaki di Bandara Internasional Nay Pyi Taw sekitar pukul 14.30.
Bandara tersebut berjarak sekitar 24 kilometer dari Rumah Sakit Umum dengan 50 Tempat Tidur di Kota Ottara Thiri (Ottara Thiri Township 50-Bedded Hospital) yang menjadi tempat Aulia bersama 31 personel lainnya bertugas.
Nay Pyi Taw cenderung memiliki tingkat kepadatan penduduk yang rendah.
Salah satunya terlihat dari kondisi jalan yang lebar, namun jarang dilewati kendaraan atau dipenuhi masyarakat.
Baca Juga: Usai Viral dan Menuai Protes, Kemenkes Batalkan Penghapusan Beasiswa Pendidikan Dokter 2025
Secara dampak gempa, kerusakan di sana tidak terlalu berat dibanding di Sagaing dan Mandalay.
Aulia melihat ada pecahan pada aspal, tembok bangunan, hingga kerusakan lain di beberapa bangunan.
”Tapi saya belum melihat yang hancur banget karena tinggi maksimal bangunan di sana hanya tiga lantai, menyesuaikan tinggi Museum Nasional Myanmar,” ungkap perempuan berusia 46 tahun tersebut.
Dari hasil kesepakatan bersama pemerintah setempat, TCK-EMT diminta untuk memulihkan kondisi Rumah Sakit Umum dengan 50 tempat tidur Ottara Thiri.
Saat gempa terjadi, rumah sakit itu ikut terdampak.
Bahkan, ada seorang lansia yang sempat terjebak selama 40 jam di sana.
Akibat gempa tersebut, banyak pasien yang trauma hingga memilih dirawat sementara di bawah pohon yang ada di luar rumah sakit.
Dalam rangka pemulihan di sekitar rumah sakit, TCKEMT membuat tenda pengobatan.
Tenda tersebut memiliki luas 80 meter persegi.
Satu tenda bisa memuat 10 tempat tidur.
Sampai kemarin (9/4) atau tujuh hari di Myanmar, tenda pengobatan yang dibuat TCK-EMT sudah melayani lebih dari 200 warga lokal.
Termasuk pasien rumah sakit yang terdampak gempa.
Kebanyakan mengalami cedera berupa lecet dan patah tulang.
Meski ada banyak warga yang terdampak, kebanyakan lebih memilih berdiam diri di dalam rumah.
Baca Juga: Di Balik Jas Putih: Mengarungi Jalan Panjang Menjadi Dokter
Aulia mengamati kalau mereka lebih khawatir dengan junta militer yang sudah menguasai pemerintahan.
Selama di sana, para personel TCK-EMT juga tinggal di tenda.
Bentuknya seperti barak. Dalam satu tenda, terdapat empat tempat tidur.
”Menginap di sana pun tidak mudah. Karena tidak boleh keluyuran, tukar uang tidak mudah, hingga kesulitan air dan sinyal,” cerita dia.
Kendati banyak mengalami tantangan saat terjun ke lokasi bencana, Aulia tetap melakoni pekerjaannya dengan tulus.
Selama dua dekade berkecimpung sebagai personel medis di bidang kebencanaan, Aulia merasa senang jika bisa bermanfaat dan menolong orang lain. (*/by)
Editor : A. Nugroho