”Wayahe udan ngene kudu sregep ngrijiki jogan. Cek gak isin lek onok tamu,”
Jogan
Istilah ini bisa bermakna lantai. Bisa juga dimaknai dengan latar rumah. Asal muasalnya berasal dari bahasa Jawa kuno. Seperti disampaikan Budayawan Malang Dwi Cahyono.
Dia menyebut, kata jogan merujuk pada lantai rumah kuno yang terbuat dari tanah keras. ”Kalau sekarang masuknya lantai plester, tapi tetap dibilang jogan,” terang dia. Merujuk pada konteks waktu zaman sekarang, jogan lebih diartikan sebagai latar rumah atau teras.
Pemilik Yayasan Inggil itu menambahkan, istilah tersebut tergolong sebagai kata dari Bahasa Jawa kuno yang masih lestari sampai sekarang. ”Secara tingkatan, itu merupakan bahasa tengahan, bukan inggil bukan ngoko. Dari bangsawan sampai rakyat biasa mengucapkan kata yang sama,” imbuhnya.
Sampai sekarang, di Malang Raya, Pasuruan dan daerah lainnya, istilah tersebut masih dipakai. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, istilah jogan juga masih dipakai. Merujuk pada lantai yang posisinya lebih rendah. Sementara lantai yang posisinya lebih tinggi disebut dengan jrambah. (biy/by)
Editor : Aditya Novrian