
KEPANJEN, RADAR MALANG - Bawang putih merupakan salah satu produksi pertanian yang terimbas kemarau panjang. Itu terlihat dari minimnya lahan yang panen. Dari total 20 hektare tanaman bawah putih, hasil panen dalam kurun delapan bulan ini, Januari-Agustus lalu berkisar 13 ton.
Kepala Bidang Holtikultura Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Heri Suntoro menjelaskan, tahun ini ada 20 hektare lahan pertanian yang ditanami bawang putih. Lokasinya menyebar di tiga desa.
“Lahan pertanian bawang putih di Desa Taji, Kecamatan Jabung seluas 8 hektare, lalu di Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir 6 hektare, dan di Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir 6 hektare,” ujar Suntoro kemarin.
Jenis bawang putih yang ditanam pun beragam. Ada Tawangmangu Baru, Lumbu Kuning, Lumbu Hijau, dan Geol Temanggung Agrihorti. Dari total lahan 20 hektare kebun bawang putih tersebut, lanjutnya, belum semuanya memasuki masa panen.
“Sementara ini menghasilkan 13 ton. Target tahun ini ada di angka 15 ton,” terang pejabat eselon III B Pemkab Malang itu.
Baca Juga: 80 Persen Petani Bawang Merah di Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu Pilih Panen Dini
Menurut dia, belum maksimalnya panen bawang putih karena cuaca yang kian panas dan kesulitan air. Kondisi tersebut terjadi merata di seluruh wilayah yang menanam, kecuali di Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir.
Di sisi yang lain, Suntoro menyadari bahwa perawatan tanaman bawang putih terbilang rewel. Saat musim tanam, air harus cukup. Tidak boleh lebih agar tidak busuk. Sebaliknya saat memasuki masa panen, tanah harus kering. Elevasi perkebunan juga kebanyakan di atas 800 meter di atas permukaan laut.
“Biasanya tanam pada bulan Oktober dan November, lalu tahun ini pada Februari dan Maret. Tapi ya lihat kondisi iklimnya juga. Kami masih akan maksimalkan Oktober dan November untuk capai target,” kata Heri.
Sementara itu, Kepala DPTHP Kabupaten Malang Avicena Medisca Saniputra mengatakan bahwa bawang putih yang ditanam untuk sekarang ini lebih kepada pembibitan. Tidak banyak untuk keperluan konsumsi. “Yang di Sumbersuko itu bibit bantuan pemerintah pusat. Hasilnya nanti akan dikasih ke pusat lagi untuk disebar ke daerah lain,” ucap dia.
Pihaknya menyadari telah berhadapan dengan gempuran bawang putih impor. Yang secara penampilan lebih menarik di mata pembeli daripada bawang lokal. “Bawang putih kita itu unggul di rasa, tapi ukuran dan penampilan masih kurang menarik di bandingkan yang impor. Ini jadi tantangan kita,” tandas Avicena. (biy/dan)



