"Semoga PLTS ini menginspirasi kita semua dalam mengurangi penggunaan energi fosil. Ini juga mendorong kita untuk mengganti dengan energi baru terbarukan (EBT) seperti listrik tenaga surya. Tentunya dengan skala sesuai dengan kebutuhan masing masing,” ucap Direktur Utama PT Kebon Agung Didid Taurisianto dalam peresmian.
Menurut Didit, PLTS PG Kebon Agung mempunyai kapasitas 1,078 megawatt peak (MWp). Sebagai gambaran, 1 megawatt bisa menciptakan listrik bagi 900 rumah tangga biasa dalam setahun. “Kami bekerja sama dengan PT Sun Energy untuk pengembangan PLTS ini,” ucapnya.
Dengan adanya PLS tersebut, lanjutnya, maka PG Kebon Agung bisa mengkombinasikan kebutuhan listrik dari EBT dengan biomassa. Pembangkit Listrik Tenaga Bio Massa (PLTBM) PG Kebon Agung mempunyai daya 15,2 megawatt. Selain itu, listrik dari PLN juga mengalir sebesar 1,7 megawatt. “Kami juga sudah lama menggunakan bahan bakar ampas tebu yang merupakan bahan bakar EBT," ucap dia.
Dengan adanya tambahan PLTS, menurut Didit, mampu meningkatkan kapasitas produksi PG Kebon Agung. Pihaknya juga berkomitmen membangun agrobisnis berbasis tebu wawasan lingkungan. Tujuannya sekaligus mendukung pengembangan EBT sebesar 23 persen pada 2025 mendatang.
Sementara itu, sejumlah pejabat penting hadir dalam peresmian ini. Antara lain, Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi, Kementrian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia Basilio Dias Araujo. Kemudian Komisaris Utama PT Kebon Agung beserta jajaran, Direktur Utama PT Kebon Agung beserta jajaran, Pemimpin Pabrik Gula Kebon Agung serta Chief of Sales SUN Energy. Bupati Malang HM Sanusi menghadiri peresmian itu.
Menurutnya, hal itu menjadi salah satu titik balik dalam rangka transformasi energi di Kabupaten Malang. Apalagi belakangan ini terdapat berbagai alternatif energi terbarukan yang terus dikembangkan. Baik di mancanegara maupun domestik. "Saya mendukung penuh adanya upaya pembaruan energi dengan pioneer PG Kebon Agung. Terlebih, teknologi ini juga dapat menjadi sebuah terobosan karena semakin berkurangnya cadangan energi fosil di dunia,” ujarnya. (fin/nen) Editor : Mardi Sampurno