Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Festival Kampung Dilem Malang Jadi Simbol Toleransi Beragama

Mahmudan • Jumat, 9 Agustus 2024 | 13:10 WIB

TRADISIONAL: Seniman menyiapkan panggung sebelum dimulai pertunjukan. Festival Kampung Dilem di gelar di Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, Malang.
TRADISIONAL: Seniman menyiapkan panggung sebelum dimulai pertunjukan. Festival Kampung Dilem di gelar di Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, Malang.
 

 

WAGIR – Ada yang tak biasa dalam Festival Kampung Dilem di Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir kemarin.

Acara yang digelar kali ketujuh itu dikemas dengan semangat toleransi beragama.

Pada hari pertama, Minggu lalu (4/8) digelar pengajian dan tahlil akbar.

Baca Juga: Ajak Masyarakat Coba Super App Terbaru, BNI Adakan wondr Festival Kuliner Kajoetangan

Kemudian pada Senin (5/8) dilanjutkan doa bersama umat Hindu dan parade tari tradisional.

Lalu keesokan harinya, Selasa (6/8) doa bersama jemaat Kristen.

”Malam harinya, digelar acara hiburan kesenian daerah dengan konsep panggung tropical,” ujar Tim Kreatif Festival Kampung Dilem Angga Rubini di sela kegiatan.

Angga mengatakan, panggung dibangun menggunakan bahan-bahan alami.

Seperti daun kelapa, pohon juwet, dan kerangka bambu.

Panggung tersebut dirangkai dengan panjang 22 meter dan lebar 10 meter.

“Di dalamnya ada ornamen wayang juga.

Sehingga ketika orang melihat panggung, unsur budayanya langsung dapat,” kata dia.

Butuh waktu sebulan bagi Angga dan timnya untuk membuat panggung tersebut.

Konsep tropical tersebut dipilih karena mempertimbangkan kondisi alam yang terus berubah.

Dengan konsep itu, dia mengatakan, diharapkan masyarakat lebih memperhatikan dan merawat alam.

Terlebih, bersih desa juga disebut dengan sedekah bumi.

Baca Juga: Festival Dolanan Anak Bakal Hadir Lagi di Kota Malang

“Itu sebagai bentuk terima kasih kami kepada alam yang telah bermanfaat bagi kehidupan kami,” kata Angga.

Hiburan yang dipilih pun menyesuaikan tren.

Pada 2024 ini, pertunjukan bantengan atau yang dikenal dengan istilah “mberot” sedang populer.

Sehingga kesenian bantengan menjadi salah satu yang ditampilkan.

Kemudian, berlanjut pada Rabu (7/8) digelar pertunjukan kesenian reog Ponorogo. Acara akan berlangsung hingga Sabtu (10/8).

Dia mengatakan, Festival Kampung Dilem diharapkan bisa menjadi berkah yang nyata bagi masyarakat.

“Berkah yang nyata itu dalam bentuk perputaran perekonomian. Semoga bisa menjadi rezeki bagi masyarakat,” pungkasnya. (yun/dan).

Editor : Mahmudan
#wagir malang #seni #festival kampung