MALANG KOTA – Kabar mengejutkan datang dari Spiritual Mentality Healing untuk Anak Inklusi (Staling Inklusi) Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Ki Hadjar Dewantara Malang.
Dalam sebulan terakhir lembaga itu diminta menangani dua kasus anak yang mencoba membunuh ibunya.
Hingga saat ini, dua anak tersebut masih terus menjalani terapi hipnosis.
Pengelola Staling Inklusi PKBM Ki Hadjar Dewantara Malang Agus Projo Harsono mengatakan, dua anak itu terdeteksi mengalami skizofrenia.
Yakni gangguan mental yang memengaruhi emosi dan tingkah laku.
Pengidap skizofrenia kerap mengalami halusinasi atau bisikan-bisikan aneh yang membuat pikirannya kacau.
Agus mencontohkan, salah satu anak yang ingin membunuh ibunya itu mengaku sakit hati.
Sebab dia pernah diikat dan dibawa paksa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ).
Proses itu dilakukan dengan bantuan warga sekitar, sehingga sang anak merasa dipermalukan.
”Upaya untuk mencoba membunuh sang ibu itu sudah pernah dilakukan. Caranya dengan membekap wajah ibunya dengan bantal,” terangnya.
Menurut Agus, skizofrenia tak terjadi setiap saat.
Kadang penderitanya normal seperti biasa.
Mungkin pada saat dibawa ke RSJ, penyakit anak itu agak kambuh.
Jadi masih terus teringat dan memicu rasa sakit hati.
Untuk menangani masalah tersebut, pihaknya melakukan terapi hipnosis dengan cara membuat klien tertidur.
Kemudian terapis membisikkan sugesti tentang hal-hal baik.
Ucapan sugesti itu akan menjadi program dalam otak klien.
Dengan begitu, klien akan memperbaiki kondisinya secara perlahan.
Penanganan seperti itu juga dilakukan dengan melibatkan orang tua klien.
Sebab hipnosis pada harus dilakukan sesering mungkin.
Orang tua juga diajari cara melakukan hipnosis sederhana agar bisa dilakukan di rumah.
Dengan begitu, orang tua akan punya peran lebih besar dalam proses penyembuhan anak-anak yang memiliki gangguan mental.
Agus menambahkan, Staling Inklusi merupakan program satu-satunya yang ada di PKBM Kota Malang.
Sebenarnya program itu belum dibuka secara resmi.
Namun sejak 16 September lalu Staling Inklusi sudah menerima layanan.
“Kami kan ada ABK juga yang belajar di sini. Jadi lebih dulu mereka yang kami tangani,” ungkapnya.
Secara keseluruhan, saat ini Staling Inklusi sudah menangani 17 klien.
Kasus paling banyak adalah penderita attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).
Layanan penanganan semacam itu bisa diakses tanpa dikenakan tarif.
”Klien hanya diminta untuk infaq seikhlasnya saja,” terangnya. (dre/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana