Radar Malang- Dalam era digital yang serba cepat, hampir setiap aktivitas sehari-hari terhubung dengan layar. Mulai dari bekerja, berkomunikasi, hingga mencari hiburan, semua dilakukan melalui gawai.
Namun, belakangan ini muncul sebuah tren gaya hidup yang berlawanan arah: digital detox—yaitu mengambil waktu untuk menjauh dari perangkat digital secara sengaja demi kesehatan mental.
Apa itu digital detox? Ini adalah praktik membatasi atau menghentikan sementara penggunaan perangkat digital, seperti smartphone, laptop, dan media sosial. Tujuannya bukan sekadar “puasa” teknologi, melainkan menciptakan ruang untuk kembali terkoneksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar, dan orang-orang terdekat.
Mengapa tren ini muncul? Karena semakin banyak orang mengalami kelelahan digital, gangguan tidur, dan kecemasan akibat konsumsi informasi yang berlebihan.
Baca Juga: Mengatur Kembali Pola Tidur Usai Ramadan untuk Kesehatan Optimal
Notifikasi tanpa henti, tekanan media sosial, dan tuntutan respons cepat membuat banyak orang merasa kewalahan. Digital detox menjadi solusi untuk mengatur ulang kebiasaan digital dan menemukan kembali ketenangan.
Siapa yang menjalani tren ini? Mulai dari pelajar, pekerja kantoran, hingga selebritas ikut mengampanyekan pentingnya jeda dari dunia maya.
Bahkan beberapa perusahaan kini mendorong karyawan untuk menjalani detox digital secara berkala sebagai bagian dari program kesejahteraan mental.
Di mana bisa melakukannya? Tak perlu pergi jauh. Digital detox bisa dimulai dari rumah sendiri. Misalnya dengan menetapkan waktu “bebas layar” setiap malam, tidak mengecek ponsel saat bangun tidur, atau mengambil satu hari dalam seminggu untuk offline sepenuhnya. Ada juga yang memilih berlibur ke tempat tanpa sinyal sebagai bentuk detoks total.
Baca Juga: Bapenda Kabupaten Malang Evaluasi Tarif Jasa Pelayanan Kesehatan
Apa manfaatnya? Selain mengurangi stres dan kecemasan, digital detox bisa meningkatkan kualitas tidur, memperbaiki fokus, serta mempererat hubungan sosial secara langsung. Dengan tidak terus-menerus menatap layar, seseorang bisa lebih hadir dalam setiap momen kehidupan nyata.
Bagaimana memulainya? Mulailah dari langkah kecil: matikan notifikasi yang tidak penting, tetapkan waktu khusus untuk online, dan isi waktu luang dengan aktivitas non-digital seperti membaca buku, berkebun, atau berjalan-jalan. Jika dilakukan secara konsisten, digital detox bisa menjadi kebiasaan yang memperkaya hidup.
Tren ini mengingatkan kita bahwa dunia nyata tak kalah menarik dibanding layar smartphone. Menjauh sejenak bukan berarti ketinggalan, melainkan bentuk perhatian terhadap diri sendiri.
Di tengah hiruk-pikuk digital, digital detox menjadi langkah sadar untuk menjaga keseimbangan dan kesehatan mental. (afh)
Editor : Aditya Novrian