"Sudah tiga tahun ini kami mengalami kerugian dan tidak ada intervensi Pemkot Batu," ujarnya.
Kesejahteraan petani apel terus menurun. Rokhim mengatakan, dirinya sampai terlilit hutang hingga ratusan juta akibat selalu merugi tiga tahun belakangan.
"Kondisi apel hancur terkena cuaca ekstrem dan harga pasar yang anjlok. Untung seperempat saja sekarang sudah bagus," katanya.
Disaat normal, dirinya dapat memanen 20 ton apel dari kebunnya yang seluas 2 hektare. Namun saat ini ia memaparkan dapat memanen 2 ton saja sudah untung.
"Semua apel saya kena penyakit tutul mata ayam. Sehingga buahnya tidak bisa dijual," jelasnya. Setiap panen dirinya harus membuang 80 persen hasil panennya karena tak layak jual akibat penyakit tersebut. Penyakit itu berasal dari bakteri yang dibawa oleh lalat buah. Usaha seperti memberi berbagai macam obat tidak membuahkan hasil.
Usaha satu-satunya agar tidak terlalu merugi, ialah memproduksi kripik apel sebagai oleh-oleh khas Kota Batu. Tetapi pandemi yang ada menyebabkan penjualannya tidak terlalu membantu.
Berpasrah adalah hal yang bisa dilakukannya kini. Abdul mencoba mengambil kesempatan untuk beralih untuk menanam jeruk meski untung yang didapat tidak sebanyak saat menanam apel.
"Jeruk itu panennya setahun hanya sekali," paparnya.
Harapan segera membaiknya kondisi dan perhatian yang diberikan pemkot tentu masih ada. Pemaksimalan terkait kondisi alam dan hasil panen yang memaksanya untuk beralih.
"Ya bagaimana, sudah tiga tahun ini kami mengalami kerugian. Jadi ya harus beralih ke jeruk," tutupnya.
Pewarta : Wildan Agta Affirdausy Editor : Shuvia Rahma