Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Terus Diburu, Ayam Endemik Kota Batu Ini Terancam Punah

Ahmad Yani • Senin, 29 Maret 2021 | 20:00 WIB
PRODUKTIF: Salah seorang peternak ayam di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo mampu memproduksi telur berkualitas.
PRODUKTIF: Salah seorang peternak ayam di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo mampu memproduksi telur berkualitas.
KOTA BATU – Boleh jadi, tak banyak yang tahu bahwa Kota Batu memiliki hewan endemik asli, yakni ayam hutan. Namun, jumlahnya terus menurun dan kini terancam punah. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Pencinta Ayam Hias (APAH) Indonesia Jawa Timur Rully Wicaksono kemarin (28/3).

Pria asal Desa Bumiaji itu menuturkan, jenis ayam hutan yang dimaksud yakni ayam hutan hijau. Menurut dia, setiap daerah yang memiliki hutan selalu ada ayam dengan nama latin Gallus varius itu. Tetapi tetap memiliki perbedaan karena bermutasi menyesuaikan daerah tempat tinggalnya. ”Kalau di Kota Batu lokasinya berada di lereng (Gunung) Arjuno, lewatnya bisa melalui Desa Giripurno,” kata Rully.

Baca juga : Ini Dia Giant Otter, Satwa Baru di Batu Secret Zoo

Pria yang juga sehari-hari dipercaya merawat ayam hias milik Wali Kota Batu itu menjelaskan beberapa perbedaan ayam hutan hijau di tiap daerah. Seperti di ayam hutan hijau Jember memiliki tubuh yang agak panjang dan kaki agak menghitam. Lalu dari daerah Pujon dan Ngantang, Kabupaten Malang, ayam tersebut memiliki ciri tubuh gemuk, kaki berwarna putih, tapi mudah jinak karena sering ketemu manusia. ”Sedangkan ayam dari Kota Batu cirinya tubuhnya kecil, kakinya cenderung bulat dan menghitam,” katanya.

Dia mengatakan, terakhir memiliki ayam hutan hijau asal Kota Batu pada tahun 2017 lalu. Rully mendapatkannya dari pemburu. Dia membelinya dengan harga Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribu per ekor. ”Jadi ceritanya saya itu tidak tega karena menemukan pemburu itu hendak memburu ayam (asal Kota Batu). Saya pesankan jangan dibunuh, tetapi saya beli saja untuk dirawat,” katanya.

Namun, pada tahun 2018 hingga saat ini, dia sudah tidak pernah dihubungi lagi oleh para pemburu yang asalnya rata-rata dari Singosari dan Lawang itu. Informasi yang dia terima, para pemburu sudah tidak pernah menemukan lagi ayam hutan tersebut sehingga beralih memburu burung-burung di sekitar lereng Gunung Arjuno. ”Mungkin sudah jarang saat ini dan keberadaan pemburu itu kejam sebenarnya hanya untuk kesenangan, bukan lagi untuk dimakan tujuannya,” katanya.

Di sisi lain, dia pernah berencana mengajukan pembuatan Ranperda Kota Batu tentang konservasi alam yakni tumbuhan dan satwa liar. Salah satu tujuannya untuk mengurangi peredaran dari aktivitas pemburu satwa liar di Kota Batu.

”Saya bersama aktivis lingkungan lainnya pernah audiensi terkait hal ini dengan Ibu Wali Kota dan diberi izin mencari kawasan untuk pelestarian. Tetapi sampai saat ini untuk perda belum ada tindak lanjutnya,” tutur Rully. Dia memperkirakan ayam hutan hijau asal Kota Batu saat ini jumlahnya tidak lebih dari 100 ekor. (nug/c1/dan) Editor : Ahmad Yani
#save ayam hutan #Kota Batu #Hewan endemik #terancam punah