Terkait temuan ini, mereka mendesak agar instansi terkait lebih mengakurasikan data jumlah mata air yang masih eksis di Kota Batu. Sebelumnya, Perumdam Among Tirto mencatat, keberadaan sumber mata air hingga 2022 ini hanya tersisa 58 titik, dari sebelumnya masih terdapat 111 titik. Tak hanya itu, debit air juga diyakini mengalami penurunan.
Menurut Among Tirto, faktor yang berpengaruh dalam penurunan sumber mata air ini terjadi karena beberapa hal. Pertama, pembangunan yang tidak ramah lingkungan. Kemudian minimnya ruang terbuka hijau (RTH) dan maraknya pengeboran sumur bor yang tidak terkontrol.
Sementara itu aktivis Sabers Pungli Ahmad Rifai menyampaikan pandangan lain. Dia menekankan, pihaknya telah melaksanakan ekspedisi mata air dan susur sungai. Hal ini untuk mengetahui kondisi nyata dari sungai- sungai di Kota Batu yang menjadi hulu dari Sungai Brantas. “Kami miris karena ada pihak menyebutkan Kota Batu hanya punya 111 mata air, dan saat inipun tinggal 58 titik saja. Ketika saya minta data (tentang mata air tersebut), ternyata tidak ada yang tahu,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Mat Berlin itu prihatin, karena tidak akuratnya data yang diberikan pihak terkait kepada media. Karena dalam ekspedisi mata air dan susur sungai yang telah dilakukan, Sabers Pungli mengklaim telah menemukan sebanyak 225 mata air di wilayah Kota Batu.
Bahkan menurutnya ada pihak yang protes dengan pernyataan bahwa mata air di Kota Batu hanya berjumlah 58 titik. Karena jumlah itu terlalu sedikit dari kenyataan di lapangan. ”Kepala Desa Tulungrejo memprotes karena di desanya saja ada sekitar 70 mata air. Itu hanya di satu wilayah, artinya jumlah mata air pasti lebih banyak dari itu,” tegasnya. (adk/lid) Editor : Mardi Sampurno