BATU - Anggaran yang disediakan Pemerintah Kota (Pemkot) Batu untuk pembangunan laboratorium pertanian dinilai terlalu minim. Sebab, anggaran sebesar Rp 2 miliar itu hanya bisa memenuhi peralatan laboratoriun saja. Alias belum termasuk lahan, bangunan, laboran, dan kebutuhan operasional lainnya.
Hal itu disampaikan Dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Fery Abdul Choliq SP MP. Dia menyebut pendirian laboratorium bukan perkara sederhana. Apalagi untuk laboratorium pertanian. Pasalnya, peralatannya cukup mahal. Belum lagi operasionalnya harus ditunjang ahli dan laboran yang kompeten.
“Belum lagi gaji yang harus dibayarkan kepada ahli dan laboran tersebut,” ucapnya. Fery mengatakan laboratorium pertanian setidaknya memuat empat fokus. Yakni pengembangan budidaya, kelengkapan teknologi penunjang, kesuburan tanah, dan sosial ekonomi. Sehingga, keberadaan laboratoriun bisa menjawab tantangan secara holistik.
Misalnya, untuk penanganan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Dengan begitu laboratorium bisa menjadi rumah sakit di bidang pertanian. Pria asal Kecamatan Junrejo itu juga berharap laboratorium bisa memperbaiki struktur tanah yang menjadi permasalahan utama penurunan kualitas pertanian di Kota Batu.
“Selama ini pengecekan tanah biasa dilakukan di laboratorium milik kampus di Kota Malang,” imbuhnya. Lebih lanjut, laboratorium juga perlu memiliki program pascapanen, kemitraan, digital marketing, dan kerja sama dengan berbagai stakeholder. Dengan begitu, hasil pertanian bisa terserap pasar secara maksimal.
Terlepas dari anggaran yang masih belum ideal, Fery mengaku mendukung rencana pendirian laboratoriun pertanian di Kota Batu. Sebab belum banyak daerah yang berorientasi ke arah tersebut. Jika berhasil, Kota Batu bakal menjadi pionir. “Anggaran yang ada bisa diarahkan ke kebutuhan prioritas dulu sehingga pemenuhan lainnya bertahap,” pungkasnya. (dia/dre/adv)
Editor : Indra Andi