Glintung termasuk kampung yang memiliki lebih dari satu versi asal-usul penamaan. Mulai dari tanaman lama bernama gintungan, bentuk kontur tanah yang menanjak, hingga peristiwa peperangan yang mengakibatkan mayat bergelimpangan.
SALAH satu versi itu pernah ditulis Arkeolog dan Sejarawan Malang Dwi Cahyono. Dalam artikel berjudul Sonjo Kampung: Bedah Sejarah ”Kampung Eko Kultur” Glintung, dia menyebut Glintung berasal dari nama tanaman lama yang konon bernama gintungan. Nama pohon itu sudah ada dalam Kakawin Ramayana, mahakarya sastra Jawa Kuna yang disuratkan pada medio abad IX Masehi. Kemudian ada penambahan huruf ”L” di tengah kata, sehingga pengucapannya berubah menjadi glintungan.
Dalam Kakawin Ramayana tertulis kalimat gintungan awan kalwang agantung. Artinya kalong bergelantungan di gintungan yang menjulang tinggi. Dari situ dapat dibayangkan bahwa gintungan merupakan pohon tegak tinggi menjulang
Rantingnya digunakan sebagai tempat kelelawar besar bergelantungan.
Pohon gintungan juga pernah diulas dalam buku Toponim Kota Malang yang ditulis Ismail Lutfi dan Reza Hudiyanto. Disebutkan bahwa pohon itu memiliki nama latin bischofia javanica. Habitatnya tersebar di Asia Tenggara dan Australia Tropis. Kayu pohon gintung cukup tahan terhadap semut putih. Di Minahasa, kayu itu digunakan untuk konstruksi rumah, jembatan besar, dan penambangan. Sementara daunnya dapat digunakan untuk mengusir serangga di tanaman padi dan jagung.
Saat ini, Kampung Glintung mencakup 6 RW di Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing. Yakni RW 05, RW 06, RW 17, RW 18, RW 19, dan RW 23. Ketua RW 05 Ageng Wijayakusuma mengaku pernah mendengar cerita bahwa dahulu Kampung Glintung merupakan hutan yang banyak ditumbuhi tanaman glintungan. Namun dia tidak pernah tahu seperti apa bentuk pohon tersebut.
Ageng menetap di Glintung sejak 2002. Namun saat dirinya masih kecil, kakeknya pernah tinggal di Glintung pada 1970an. Saat itu, dia menjumpai kawasan Glintung di sebelah barat rel kereta api masih berupa sawah yang sangat luas. ”Waktu itu kebanyakan warga masih bekerja sebagai petani. Sebagian beternak bebek, kambing, sapi, dan kerbau,” katanya.
Untuk saat ini, Ageng mengatakan sudah tidak ada yang tahu apakah di kawasan tersebut pernah ditumbuhi pohon glintungan. Sebab, sejak dia datang sudah tidak ada tanaman yang disebut sebagai cikal bakal nama kampung itu.
Versi sedikit berbeda diungkapkan Hariyanto, warga RW 5 Kampung Glintung. Dia pernah mendengar cerita bahwa dahulu Glintung menjadi tempat gugurnya banyak prajurit saat terjadi perang antara kerajaan Singasari dengan Kediri (Perang Ganter 1222 Masehi). ”Saat itu banyak dijumpai mayat pating glintung di wilayah ini. Makanya dinamakan Glintung,” ujarnya.
Hariyanto juga membenarkan bahwa dulu banyak lahan sawah di Glintung. Saat kecil, pria yang kini berusia 55 tahun itu masih menjumpai kereta trem yang lewat di kawasan tersebut. Setiap hari ada kereta lori yang transit di Glintung dan menurunkan tebu untuk kemudian diangkut lagi ke pabrik tebu di Kebonagung.
Glintung sebagai bekas persawahan dibuktikan dengan ditemukannya lumpang di RW 23. Batu lumpang itu dapat digunakan sebagai data artefaktual. Sebab lumpang batu pada zaman dulu digunakan untuk menumbuk padi atau bahan olahan lainnya. Saat ini, lumpang batu itu dibiarkan berada di pinggir jalan oleh warga. ”Mitosnya akan kembali ke tempat itu lagi meskipun sudah dipindah,” kata ketua RW 23 Glintung Judhy Ristijanto.
Versi lain diungkapkan pegiat Sejarah Suwardono, Menurutnya, Glintung diambil dari bahasa Jawa kuno yang berarti jalan menanjak di perbukitan. ”Kalau kita lihat kontur tanah mulai dari Kantor Pajak Pratama di timur Jalan S. Parman sampai Pertigaan Jalan Bantaran (Hotel Atria), jalan itu dulu sangat menanjak. Sekarang tidak terasa karena ada penebalan jalan di bagian selatan,” terangnya. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno