Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Tidak Peduli Ramadan, Pelaku Open BO di Malang Nekat Buka Layanan, Begini Modus Operandinya

Fathoni Prakarsa Nanda • Sabtu, 30 Maret 2024 | 01:00 WIB

 

Logo Michat. Aplikasi ini menjadi salah satu modus operandi open BO di Malang
Logo Michat. Aplikasi ini menjadi salah satu modus operandi open BO di Malang

Meski Sulit Cari Pelanggan dan Berisiko Tertangkap

MALANG KOTA – Praktik prostitusi ternyata masih berlangsung selama Ramadan. 

Bahkan pada saat mayoritas masyarakat sedang berpuasa pada siang hari, penawaran perbuatan maksiat itu tetap ada. 

Rata-rata ditawarkan melalui aplikasi online. 

Paling mudah terdeteksi adalah penawaran open BO melalui MiChat. 

Pantauan wartawan koran pada Rabu lalu (27/3), masih banyak akun yang menyatakan buka layanan prostitusi. 

Semua bisa dilihat melalui fitur ”People Nearby” di aplikasi tersebut. 

Baca Juga: HADEH! 15 Perempuan Terduga Open BO Diamankan Tim Razia Kota Malang, Ada yang Jual Diri sambil Bawa Anak

Dalam radius 4 kilometer, selalu ditemukan penawaran dari pekerja seks komersial (PSK). 

Hari itu, setidaknya ada 179 akun yang menyatakan diri sebagai penyedia jasa pemuas nafsu. 

Sebanyak 12 di antaranya mengaku sebagai waria. 

Semua terpantau pada pukul 23.40 dari sekitar Kelurahan Tulusrejo, Kecamatan Lowokwaru. 

Bahkan pada Kamis siang (28/3), yakni sekitar pukul 10.15, masih ada 132 akun MiChat yang menawarkan open BO maupun jasa pijat plus-plus. 

Radius penawaran yang dapat dijangkau pun lebih luas, yakni 5 kilometer. 

Wartawan koran ini mencoba menemui salah satu pelaku open BO yang tetap mencari pelanggan pada siang hari di bulan Ramadan. 

Setelah scrolling fitur ”People Nearby”, akhirnya ketemu perempuan berinisial PU, 28, yang dapat dijangkau di sebuah hotel di Jalan Letjen Sutoyo, Kelurahan Rampal Celaket, Kecamatan Klojen. 

Perempuan itu menceritakan alasan mengapa tetap open BO selama Ramadan. 

”Kebetulan saya ada urusan di Kepanjen dan modal saya habis. Saya sekalian open saja,” kata perempuan asal Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang tersebut. 

Dia menawarkan layanan kencan singkat (short time) dengan tarif Rp 300 ribu sampai 500 ribu. 

Sedangkan untuk kencan panjang atau long time tarifnya Rp 2 juta. 

Namun karena suasana Ramadan, PU mengaku agak kesulitan mendapatkan pelanggan. 

”Mencari Rp 600 ribu saja sulit. Beda dengan Surabaya, sehari bisa dapat empat dan mereka lebih ambil long time,” ungkap dia. 

Baca Juga: Tiga Perempuan Open BO Terjaring di Dua  Hotel Malang

PU mengakui tidak terlalu sering open BO di Hotel kawasan Klojen. 

Di luar bulan Ramadan, biasanya dia memilih penginapan di Kelurahan Polehan, Kecamatan Blimbing. 

”Di sana dijamin aman, yang saya tahu di situ milik aparat,” ucapnya. 

Hotel di kawasan Klojen tempat PU menjual diri sebenarnya pernah didatangi Satpol PP sebanyak dua kali pada 2023 lalu. 

Artinya, tim Satpol PP sudah sering mendengar praktik prostitusi di hotel tersebut. 

Tapi ada satu hotel tua di kawasan itu yang tidak pernah dirazia oleh petugas. 

Jaraknya sekitar 1 kilometer dari hotel yang biasa digunakan PU. 

”Di hotel ini saya lihat ada beberapa teman yang juga open BO. Saya kenal mereka. Ada yang pakai aplikasi sendiri, ada juga yang pakai mucikari,” imbuhnya. 

Dia menyadari hotel itu sewaktu-waktu bisa menjadi sasaran razia penyakit masyarakat oleh tim Satpol PP. 

Tapi PU mengaku tidak punya pilihan. 

Sebab, penginapan di kawasan Polehan (tempat dia biasa open BO di luar Ramadan) hanya mengizinkan terima pelanggan di atas pukul 00.00. 

”Memang aman sih. Tapi kami makan apa kalau hanya boleh open pada jam seperti itu?” keluhnya. 

Baca Juga: Di Malang, Cewek Open BO Digerebek saat Layani Tamu

Dengan risiko tertangkap di hotel, PU mengaku punya cara agar aman. 

Yakni berkoordinasi dengan front office atau resepsionis hotel. 

Mereka tidak keberatan memberi tahu kepada para pelaku open BO ketika petugas razia datang. 

”Bahkan ada grup WhatsAppnya. Saya masuk kelompok Polehan,” ucap dia. 

PU tidak keberatan menginformasikan titik-titik penyebaran pelaku open BO saat wartawan koran ini menanyakan rata-rata tarif dan ketentuannya. 

Tak sedikit para PSK yang menempati rumah kos bulanan bebas di sekitar Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru; Kelurahan Arjosari, Kecamatan Blimbing; dan Kelurahan Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang. 

Exclude dari Panti Pijat Selain secara online, prostitusi terselubung dengan kedok panti pijat juga masih ditemui buka pada siang hari. 

Wilayah Kecamatan Blimbing adalah sentra panti pijat. 

Setidaknya ada 12 tempat pijat yang berada di kawasan tengah maupun utara kecamatan itu. 

Hampir semuanya menyediakan jasa plus-plus. 

Contohnya yang berada di Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing. 

Rabu malam (7/3), seorang pemijat berinisial RI, 35, membenarkan kabar itu. 

Mereka tetap sejak pukul 09.00 sampai 22.00. 

Tidak ada perubahan antara bulan puasa dan hari biasa. 

Namun, perempuan asal Singosari itu mengaku sulit mencari pelanggan selama Ramadan. 

Utamanya pada siang hari. 

”Satu atau dua pelanggan saja sudah lumayan. Itu pun kebanyakan yang langganan saja,” kata dia. 

Baca Juga: Bocil Open BO Dikembalikan ke Orang Tuanya

RI tidak membantah jika dirinya menawarkan layanan plus-plus kepada pelanggan. 

Namun pada siang hari layanan itu tidak laku selama Ramadan. 

Rata-rata para pelanggan hanya menikmati layanan pijat saja. 

Karena itu, bayaran yang dia terima hanya Rp 150 ribu untuk satu pelanggan. 

Padahal jika dipaketkan dengan layanan plus-plus, dia bisa mendapatkan Rp 550 ribu. 

Artinya, layanan maksiat itu dikenakan tarif Rp 400 ribu. 

Sejatinya, di sebelah panti pijat tempat RI bekerja ada juga satu layanan serupa. 

Sama-sama buka sejak pagi, tapi tutup lebih awal, yakni pukul 17.00. 

Tempat pijat itu hampir tidak pernah berhasil digaruk aparat. 

RI menduga pemilik panti pijat itu punya oknum yang memberi informasi sekaligus meminta setoran. 

Bocoran informasi pun selalu datang ketika akan ada operasi pekat. 

Saat itu juga pengelola panti pijat akan menutup pintu depan. 

Baca Juga: Open BO Ditangkal Pengusaha Hotel, Ini Ciri PSK 'Nyaru' Tamu Kamar

Sedikit yang dia tahu, dalam satu kali setor, per kepala pemijat dihitung dan dikenakan uang Rp 150 ribu. 

”Jadi sekali didatangi bisa setor Rp 600 ribu,” ujar dia. 

Sama halnya dengan RI, LT, 26 juga mengeluhkan soal sepinya pelanggan selama Ramadan. 

”Kalau siang itu langganan saja, satu dua. Begitu menjelang waktu berbuka sudah mulai banyak. Tapi teman-teman lain yang dapat,” keluhnya. 

Bahkan pernah satu hari di bulan puasa, dia tidak bekerja sama sekali. 

Guna mengakali seretnya pendapatan, dia nekat membuka jasa prostitusi dengan cara lain. 

LT menyebutnya dengan istilah open BO exclude. 

Atau mendatangi pelanggan di suatu penginapan.

Lagi-lagi, pelanggan yang dia dapat adalah langganan dia di tempat pijat. 

Hal itu karena dia tidak menggunakan aplikasi seperti MiChat. 

Cukup nomor WhatsApp saja. 

Tarif yang ditawarkan tak jauh berbeda. 

”Kalau di tempat pijat biasanya Rp 400 ribu. Kalau exclude itu paling ditambahi Rp 100 sampai 200 ribu,” tandas perempuan asal Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar itu. (biy/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Ramadan #open bo #praktik prostitusi #malang