Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Digital Detox: Perlu atau Cuma Ikut-Ikutan?

K
Ilustrasi Digital Detox untuk mengurangi stress (Source: YT)
Ilustrasi Digital Detox untuk mengurangi stress (Source: YT)

Advertisement

 

MALANG, RADAR MALANG – Di tengah notifikasi yang tidak pernah berhenti dan layar yang selalu menyala, istilah digital detox semakin sering kita dengar. Mulai dari selebgram hingga pekerja kantoran, banyak yang mengklaim butuh “istirahat” dari dunia digital.

Tapi pertanyaannya, apakah digital detox benar-benar kebutuhan, atau sekadar tren yang ikut-ikutan?

Advertisement

Fenomena ini pasti tidak muncul tanpa alasan. Dalam kajian Psikologi, paparan layar berlebih dapat dikaitkan dengan meningkatnya stres, gangguan tidur, hingga penurunan konsentrasi. Otak manusia pada dasarnya tidak dirancang untuk menerima stimulasi konstan dalam bentuk notifikasi, menonton video-video singkat dan informasi tiada henti.

Akibatnya, banyak orang merasa lelah secara mental meskipun tidak melakukan aktivitas fisik berat.

Advertisement

Digital detox sendiri merupakan upaya membatasi penggunaan perangkat digital seperti ponsel, laptop, dan media sosial. Tujuannya sederhana, memberi ruang untuk pikiran kita beristirahat dan kembali fokus pada dunia nyata. Dalam praktiknya, bentuknya bisa beragam, mulai dari tidak membuka media sosial selama beberapa jam, hingga benar-benar offline selama beberapa hari.

Namun, tidak semua orang membutuhkan digital detox dalam bentuk ekstrem. Bagi sebagian orang, terutama yang pekerjaannya bergantung pada teknologi, berhenti total justru tidak mudah.

Di sinilah pentingnya pendekatan yang lebih seimbang, yaitu mengatur pola penggunaan, bukan menghindari teknologi sepenuhnya.

Beberapa tanda seseorang mungkin membutuhkan digital detox antara lain: Merasa cemas saat jauh dari ponsel, sulit tidur karena terlalu lama menatap layar, hingga kehilangan fokus saat beraktivitas. Jika kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin berdampak pada kesehatan mental, termasuk meningkatkan risiko Kecemasan ringan hingga sedang.

Lalu, bagaimana cara melakukannya tanpa terasa menyiksa?

Advertisement

Artikel Terkait

Tinggalkan Hustle Culture, Tren Soft Living Mulai Dilirik Generasi Muda demi Kesehatan Mental

Tinggalkan Hustle Culture, Tren Soft Living Mulai Dilirik Generasi Muda demi Kesehatan Mental

Banyak orang mulai menyadari bahaya burnout, yaitu kondisi kelelahan fisik dan mental secara ekstrem, sehingga memilih beralih dari hustle culture menuju soft living. 

3 Tips Menjaga Work-Life Balance agar Terhindar dari Burnout di Era Kerja Serba Cepat

3 Tips Menjaga Work-Life Balance agar Terhindar dari Burnout di Era Kerja Serba Cepat

Menjaga work-life balance penting untuk mencegah burnout. Simak tiga tips sederhana agar kesehatan mental tetap terjaga di tengah tuntutan kerja yang semakin padat.

Time Blocking Jadi Andalan Gen Z, Cara Mengatur Waktu agar Tidak Mudah Burnout

Time Blocking Jadi Andalan Gen Z, Cara Mengatur Waktu agar Tidak Mudah Burnout

Kesibukan kuliah, pekerjaan, hingga aktivitas organisasi membuat banyak anak muda mulai menerapkan metode time blocking. Teknik manajemen waktu ini dilakukan dengan membagi jadwal harian agar lebih terstruktur.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer