Manfaat Squishy sebagai Pengalih Perhatian, Efeknya Berbeda pada Setiap Orang

MALANG, RADAR MALANG – Aktivitas meremas squishy tidak hanya menjadi bagian dari permainan, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana mengalihkan perhatian. Pada anak-anak, penggunaan squishy pernah diteliti dalam konteks prosedur medis. Sementara pada remaja dan orang dewasa, efeknya dapat berbeda bergantung pada cara masing-masing individu merespons aktivitas tersebut.
Dosen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya Ari Pratiwi S.Psi., M.Psi., Psikolog. menjelaskan, squishy pada dasarnya merupakan alat bermain yang memberikan stimulasi melalui sentuhan dan gerakan tangan. Aktivitas menggenggam, meremas, hingga melepaskan mainan tersebut juga melibatkan koordinasi motorik halus.
“Squishy itu kan sebenarnya alat bermain. Jadi manfaatnya ya berkaitan dengan bermain itu sendiri,” jelas Ari.
Baca Juga: Squishy Kembali Populer, Dumpling dan Nido Jadi Buruan Pembeli
Sebagai alat pengalih perhatian, efek squishy dapat dirasakan berbeda oleh setiap orang. Dalam situasi tertentu, aktivitas meremas squishy dapat membantu seseorang mengarahkan perhatian pada hal lain. Namun, mainan tersebut juga berpotensi mengganggu konsentrasi apabila pengguna justru terlalu fokus pada squishy.
“Kalau orangnya memang konsentrasinya terganggu karena cemas atau stres, mungkin bisa membantu konsentrasi. Tapi kalau orangnya malah terdistraksi dengan squishynya, ya bisa mengganggu,” kata Ari.
Karena itu, penggunaan squishy pada remaja dan orang dewasa tidak dapat langsung dianggap efektif untuk meningkatkan konsentrasi. Dampaknya bergantung pada kondisi, tujuan penggunaan, serta respons masing-masing individu terhadap rangsangan yang diberikan mainan tersebut.
Salah satu konteks penggunaan squishy sebagai alat distraksi terlihat dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Pediatric Reports pada 2020. Penelitian tersebut melibatkan 50 anak berusia 3–15 tahun yang menjalani pemasangan kateter intravena. Sebanyak 23 anak diminta meremas squishy selama prosedur medis, sedangkan 27 anak lainnya masuk dalam kelompok kontrol.
Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang menggunakan squishy memiliki skor nyeri lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol. Peneliti menyimpulkan bahwa aktivitas meremas squishy dapat membantu mengurangi nyeri melalui pengalihan perhatian selama prosedur berlangsung.
Aktivitas tersebut membuat anak memiliki objek lain untuk diperhatikan selain tindakan medis yang sedang dijalani. “Daripada dia fokus ke rasa sakitnya, dia bisa fokus ke squishy yang diremas,” ujar Ari.
Meski demikian, temuan tersebut perlu dipahami sesuai konteks penelitian. Hasil pada anak-anak yang menjalani prosedur medis tidak otomatis membuktikan manfaat serupa pada remaja dan orang dewasa, terutama untuk kebutuhan yang berbeda.



