Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

6 Novel Bernuansa Politik yang Relevan Dibaca di Tengah Riuh Demonstrasi

A. Nugroho • Senin, 1 September 2025 | 22:12 WIB
Kutipan di dalam novel Laut Bercerita
Kutipan di dalam novel Laut Bercerita

RADAR MALANG - Akhir-akhir ini kondisi politik di Indonesia tidak sedang baik-baik saja. Gelombang demonstrasi kini kembali ramai di berbagai kota Indonesia membuat isu politik tak lagi sekadar headline media, melainkan juga bagian dari kehidupan sehari-hari. Menariknya, keresahan serupa juga banyak dituangkan para penulis dalam bentuk novel.

Lewat novel, politik tidak hadir dalam bahasa yang kaku, melainkan melalui cerita personal, penuh emosi, dan dekat dengan realitas pembaca. Bagi kamu yang ingin memahami politik lewat bacaan ringan seperti novel, ada beberapa novel karya penulis nusantara yang bisa kamu baca. Berikut enam novel bernuansa politik yang bisa kamu baca untuk memahami dimensi lain dari perjalanan bangsa.

1. Pulang karya Leila S. Chudori

Dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori ini, kamu akan dibawa menelusuri kisah eksil politik Indonesia pasca peristiwa 1965. Tokoh utama dalam novel ini bersama Dimas, ia terpaksa hidup di Paris setelah peristiwa kelam tahun 1965, yang membuatnya tak bisa pulang ke tanah air. Lewat narasi keluarga, pertemanan, dan rindu kampung halaman, novel  ini menggambarkan bagaimana politik mampu merenggut sesuatu yang paling personal, yaitu identitas dan rasa cinta terhadap tanah air.

Selain bercerita tentang luka masa lalu, novel ini juga menyinggung generasi baru yang lahir dari para eksil. Mereka tumbuh dengan cerita-cerita trauma orang tua, sekaligus pergulatan identitas di negeri asing. Leila Chudori menuliskannya dengan detail sejarah yang kuat, sehingga novel ini bukan hanya fiksi, tetapi juga cermin dari kenyataan yang jarang dibicarakan.

2. Laut Bercerita karya Leila S. Chudori

Novel selanjutnya, yaitu Laut Bercerita juga merupakan karya dari Leila S. Chudori. Jika sebelumnya novel Pulang adalah kisah eksil, maka novel Laut Bercerita adalah kisah tentang mereka yang hilang di saat masa orde baru. Novel ini menceritakan tokoh Biru Laut, seorang aktivis mahasiswa era 1990-an yang terlibat dalam gerakan menentang rezim. Ia ditangkap, disiksa, dan kemudian menghilang tanpa jejak. Kisahnya membuat pembaca merasakan getirnya kehilangan dan ketidakpastian yang dialami keluarga korban penculikan politik.

Kekuatan novel ini terletak pada emosinya yang dalam. Melalui narasi dari sudut pandang Laut dan adiknya, Asmara Jati, Leila berhasil menggambarkan perasaan hampa yang ditinggalkan oleh mereka yang tak pernah kembali. Novel ini bukan hanya fiksi belaka, akan tetapi novel ini adalah pengingat bagi kita untuk tidak melupakan sejarah kelam di masa lalu. 

Salah satu cover novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori
Salah satu cover novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori

3. Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye

Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye menghadirkan cerita persidangan sengit antara rakyat kecil dengan perusahaan tambang raksasa PT Semesta Minerals & Mining. Di ruang sidang sederhana, para saksi dari kalangan masyarakat biasa, seperti jurnalis, aktivis, penulis, hingga pemilik warung kopi. Satu per satu dari mereka bersuara lantang tentang kerusakan lingkungan dan penderitaan akibat operasi tambang. 

Seperti novel Tere Liye lainnya, novel ini memiliki alur maju-mundur yang digunakan membuat kisah terasa emosional. Setiap saksi dalam novel ini membawa kilas balik tentang luka yang pernah mereka alami, mulai dari penyakit akibat polusi, penggusuran lahan, hingga runtuhnya tatanan sosial di kampung mereka.

Melalui kisah ini, Tere Liye menyindir keras sistem hukum dan politik yang kerap berpihak pada korporasi besar ketimbang rakyat kecil. Novel ini menjadi cermin bagaimana kecerdikan tanpa moral justru membawa kehancuran, sementara ketulusan yang tampak sederhana menyimpan kekuatan perubahan.

4. Negeri Para Bedebah karya Tere Liye

Novel ini merupakan karya dari penulis Tere Liye lagi. Penulis satu ini memang kerap sekali membuat novel dengan memasukkan politik di dalam ceritanya. Akan tetapi, novel yang satu ini unik karena politik, ekonomi, dan thriller dalam satu kisah. Tokoh utama dalam cerita ini adalah Thomas, seorang konsultan keuangan, terseret dalam konflik besar yang melibatkan korupsi, manipulasi pasar, dan intrik kekuasaan.

Kelebihan novel ini adalah kemampuannya menyederhanakan isu ekonomi-politik yang rumit menjadi cerita yang mudah diikuti pembaca. Hal itu dapat dilihat dari dialog Thomas yang senang menjelaskan dengan istilah yang mudah dipahami oleh awam. Penulisnya, yaitu Tere Liye membungkus narasi-narasi dalam novel ini dengan bahasa yang ringan tanpa kehilangan kritik sosial yang ingin disampaikan. Bagi pembaca yang belum terbiasa dengan tema politik, novel ini bisa jadi pintu masuk yang menarik.

5. 86 karya Okky Madasari

Novel 86 karya Okky Madasari menyoroti wajah korupsi birokrasi Indonesia dengan sangat realistis. Tokoh utamanya, seorang polisi lalu lintas bernama Arimbi, digambarkan berhadapan dengan praktik suap, pungli, dan tekanan sistem yang sudah terbiasa dengan kecurangan. Melalui kisah ini, Okky Madasari menyampaikan bahwa korupsi bukan sekadar perilaku individu, tetapi sudah menjadi budaya yang mengakar.

Meskipun topiknya serius, gaya penulisan Okky tetap ringan dan penuh kehidupan sehari-hari. Ia berhasil menghadirkan sosok manusiawi dalam diri Arimbi, seorang perempuan yang juga harus berjuang di tengah sistem patriarki. Novel ini memperlihatkan bahwa politik tidak hanya ada di gedung-gedung tinggi, tetapi juga hadir di jalanan, di kantung-kantung polisi, dan di dompet masyarakat kecil.

6. Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari

Novel Orang-Orang Proyek merupakan karya Ahmad Tohari yang juga terkenal dengan karyanya Ronggeng Dukuh Paruk. Novel Orang-Orang Proyek menghadirkan kritik terhadap praktik pembangunan proyek yang penuh intrik politik. Cerita berpusat pada tokoh Jat, seorang mahasiswa yang magang di sebuah proyek pembangunan besar. Di sana ia melihat langsung bagaimana dana digelapkan, pejabat bermain kotor, dan rakyat kecil yang akhirnya jadi korban.

Kekuatan novel ini terletak pada cara penulis menggambarkan politik dari sudut pandang orang biasa. Alih-alih menuliskan elit, ia mengangkat suara-suara kecil yang sering terpinggirkan. 

6 rekomendasi di atas memperlihatkan bahwa politik mengalir dan mempengaruhi seluruh kehidupan kita. Tidak hanya berada di gedung-gedung tinggi, pidato pejabat maupun ruang parlemen, politik juga hadir dalam kampus, pekerjaan, bahkan di jalanan yang kita lalui setiap hari. Membaca karya-karya ini bisa menjadi cara lain untuk memahami keresahan masyarakat, sebuah refleksi yang terasa semakin relevan di tengah riuh demonstrasi hari ini. Tertarik untuk mempelajari politik lewat 6 novel rekomendasi  di atas? (gg)

Editor : A. Nugroho
#Rekomendasi novel politik #politik #demontrasi